DUKA LARA Edit by : zheraf.net http://www.zheraf.net Sebuah cerita fiksi yang ditulis oleh Bois, penulis copo yang masih harus banyak belajar. Cerita ini hanyalah sarana untuk mengilustrasikan makna di balik kehidupan semu yang begitu penuh misteri. Perlu anda ketahui, orang yang bijak itu adalah orang yang tidak akan menilai kandungan sebuah cerita sebelum ia tuntas membacanya. e-book ini gratis, siapa saja dipersilakan untuk menyebarluaskannya, dengan catatan tidak sedikitpun mengubah bentuk aslinya. Jika anda ingin membaca/mengunduh cerita lainnya silakan kunjungi : www.bangbois.blogspot.com www.bangbois.co.cc Salurkan donasi anda melalui: Bank BCA, AN: ATIKAH, REC: 1281625336 1 SATU Di sebuah jalan tol dalam kota, sebuah sedan mewah melaju dengan cepat menembus gelapnya malam. Kedua penumpangnya yang masih muda tampak begitu bersemangat, berkendara bersama menuju ke rumah seorang gadis yang baru mereka kenal beberapa bulan yang lalu. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menyita waktu, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Kini keduanya tampak asyik berbincang-bincang dengan seorang gadis yang begitu cantik. "Orang tuamu belum pulang, Ra?" tanya Randy perihal orang tua Lara yang diketahuinya pergi ke Amerika. "Belum, malah mereka mau terbang ke Eropa," jawab Lara seraya merubah posisi duduknya. "Asyik dong, dengan begitu kau bisa lebih lama menghirup udara kebebasan." 2 "Apanya yang asyik, aku justru merasa kesepian karena ditinggal mereka terlalu lama. Untung saja ada sepupuku yang menemaniku selama mereka di luar negeri." "O ya, Ra. Ngomong-ngomong, Nina ke mana?" tanya Bobby mengenai sepupu Lara yang menginap di rumah itu. "Ada, di dalam," jawab Lara singkat. "Ajak keluar dong! Biar kita ngobrol sama-sama!" pinta Bobby seraya tersenyum. "Maaf, Kak! Hari ini dia sibuk belajar, katanya besok ada ujian." "Rajin juga ya dia. Dulu, ketika aku masih kuliah. Aku paling malas dengan yang namanya belajar. Kalau lagi ujian, aku biasa mencontek menggunakan secarik kertas kecil yang kusembunyikan di bawah lembaran soal. Dan kalau lagi ada pemeriksaan, contekan itu buru-buru kusembunyikan di celah lipatan bajuku." "Aku juga, Bob," timpal Randy. 3 "Itu namanya kalian curang. Masih kuliah saja sudah berani tidak jujur, apalagi kalau jadi pejabat. Bisa-bisa kalian jadi koruptor kelas kakap." "Ya, untung saja aku tidak jadi pejabat," kata Randy ringan. "Tapi, kontraktor curang kelas kakap," timpal Bobby. "Huss! Jangan buka kartu dong! Lagi pula, aku melakukan itu karena terpaksa, dan itu pun sudah lama sekali. Sekarang ini aku sudah insyaf dan tidak mau mengulanginya lagi." "Maaf, Ran. Ini kulakukan demi kebaikanmu. Terus terang, aku peduli padamu. Jika kau memang sudah insyaf, lalu kenapa belum lama ini kau bisa dapat tender itu. Padahal, jika kulihat perusahaanmu sama sekali tidak memenuhi syarat." "Waktu itu lagi-lagi aku terpaksa, Bob. Sebab sainganku juga menggunakan cara curang. Kalau aku tidak melakukan hal yang sama, bagaimana mungkin aku bisa dapat tender. Kalau kerap kali seperti itu, kapan perusahaanku bisa maju." 4 Lara yang sejak tadi diam, tiba-tiba ikut bicara. "Kak Randy! Setiap orang kan sudah ada rezekinya masing-masing, jadi kau tidak perlu curang untuk mendapatkannya." "Kau betul, Ra. Namun, aku terpaksa berbuat begitu karena sistem yang tidak mendukung. Terus terang saja, jaman sekarang jika ingin bersaing secara jujur diperlukan mental yang kuat dan waktu yang relatif lebih lama," kata Randy memberi alasan. "Tapi biar bagaimanapun, cara curang itu tidak sepatutnya dilakukan, Kak. Sekalipun kau mempunyai alasan yang paling masuk akal. Sesungguhnya cara curang itu bisa merugikan orang-orang yang jujur," jelas Lara memberi pengertian. "Betul itu, Ra. Sungguh kasihan orang-orang yang jujur, mereka harus berusaha lebih keras agar bisa menjadi orang yang sukses," Bobby menimpali. "Baiklah... Mulai hari ini aku berjanji untuk tidak mengulanginya. Terus terang, aku merasa berdosa karena telah menghilangkan kesempatan buat orang-orang yang jujur," kata Randy menyesal. 5 "Syukurlah kalau begitu," kata Bobby seraya berpaling memandang Lara. "O ya, Ra. Ngomong-ngomong, boleh aku menumpang ke belakang?" tanya pemuda itu kemudian. "O, silakan saja, Kak! Pergi sendiri, ya! Kau kan sudah tahu kamar mandinya," kata Lara seraya merubah posisi duduknya lagi. "Tapi, Ra. Aku... " "Sudahlah, tidak apa-apa! Anggap saja seperti rumah sendiri!" "Baiklah kalau begitu," kata Bobby seraya beranjak ke dalam. Ketika dia melewati ruang tengah dilihatnya Nina sedang menari mengikuti gerakan penari di layar kaca. Saat itu gerakan Nina tampak begitu indah, lenggak-lenggok tubuhnya yang ramping serta gemulai tangannya menahan pemuda itu untuk terus memperhatikannya. "Tarian yang indah!" ucap Bobby tiba-tiba. Mendengar itu, Nina pun seketika berpaling. "KaKak Bobby...!" ucap gadis itu tergagap sambil terus memperhatikan wajah tampan yang kini tersenyum 6 padanya. "Se-sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya gadis itu kemudian. "Kau tidak perlu malu, Nin! Terus terang, gerakanmu tadi indah sekali, dan aku sangat menyukainya. Kupikir cuma Lara saja yang pandai menari, ternyata kau juga begitu pandai," kata Bobby terus terang. "Hmm... sebenarnya apa keperluanmu masuk kemari, Kak?" tanya Nina heran. "Eng... sebenarnya aku mau menumpang ke belakang. Tapi ketika melihatmu tadi, aku sempat terpana. Eng... kalau begitu, sebaiknya aku segera ke belakang. O ya, maaf kalau aku sudah mengganggumu!" Lantas dengan segera pemuda itu melangkah pergi. Sementara itu, Nina tampak memperhatikan kepergiannya. "Hmm... dia terpana? Benarkah yang dikatakannya itu?" tanya Nina dalam hati seraya duduk di sofa dan kembali memandang ke layar kaca. Tak lama kemudian, Bobby sudah kembali. Kemudian dia segera mendekati Nina yang dilihatnya 7 asyik menonton sinetron. "Nin, kau sudah selesai belajar kan?" tanyanya kepada gadis itu. Mendengar itu, seketika Nina menoleh, memperhatikan wajah tampan yang lagi-lagi tersenyum padanya. "Iya, Kak. Sudah..." jawabnya kemudian. "Kalau begitu, kita ngobrol di luar yuk!" ajak Bobby kepadanya. "Maaf, Kak! Aku tidak punya waktu. Tadi saja aku belajar terburu-buru karena mau nonton sinetron ini," tolak Nina memberi alasan. "Eng, baiklah... Kalau begitu silakan diteruskan menontonnya. O ya, maaf kalau aku sudah mengganggumu!" ucap Bobby seraya melangkah pergi. "Tunggu, Kak!" tahan Nina tiba-tiba. "Iya, Nin. Ada apa?" tanya Bobby seraya kembali memandang ke arah gadis itu. "Eng, nanti seusai sinetron ini aku akan menyusul," Nina berjanji. 8 Mengetahui itu, Bobby langsung menganggukkan kepalanya. "Aku tunggu ya," katanya seraya tersenyum dan langsung melangkah pergi. Pada saat itu, Nina tampak memperhatikan kepergiannya dengan berbagai perasaan aneh yang sulit untuk diungkapkan, di antaranya adalah perasaan bahagia yang bercampur dengan kekhawatiran yang amat sangat. Kini mata gadis itu sudah kembali memperhatikan layar kaca. Sementara itu, Bobby sudah bergabung kembali dengan Randy dan Lara. "O, jadi rumah Nina berada di daerah itu. Berarti dekat dong," kata Bobby perihal keberadaan rumah Nina yang ternyata berjarak hanya dua kilo meter dari kediamannya. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, kenapa sih dari tadi kau menanyakan perihal Nina terus, jangan-jangan... kau naksir dia ya?" tanya Lara menyelidik. "Eng... ti-tidak. A-aku cuma mau tahu saja," jawab Bobby tergagap. "Sudahlah, Kak! Ayo mengaku, kau memang naksir dia kan?" tanya Lara mendesak. 9 "Iya, Bob. Mengaku saja, dan aku akan sangat mendukung," timpal Randy seraya tersenyum. "Eng... baiklah. Aku akan mengaku. Se-sepertinya aku memang menyukai Nina. Tapi, kalian jangan bilang padanya ya! Terus terang, aku sendiri masih belum yakin." "Memangnya kenapa, Kak?" tanya Lara penasaran. "Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Bobby ringan. "Bob, kau itu dari dulu selalu begitu-selalu banyak pertimbangan, nanti kalau sudah keduluan orang baru kau menyesal." "Bukan apa-apa, Ran. Kalau ternyata aku tidak mencintainya, kasihan si Nina kan." "Eh, Bob. Memangnya dia itu mau kau nikahi, dia itu kan baru mau kau jadikan pacar. Karenanyalah, kau tidak perlu banyak pertimbangan! Pacari saja dulu! Soal cinta atau tidak, itu sih perkara nanti. Dan jika kau memang tidak mencintainya, ya tinggal diputuskan saja. Mudah kan?" 10 Mendengar itu, Lara langsung ikut bicara. "Eh, Kak Randy. Kau bicara apa? Kau itu memang tidak punya perasaan, kau pikir wanita mudah di putuskan begitu saja. Kalau kau mau tahu, wanita yang sudah dalam cintanya lebih memilih mati daripada diputuskan. Menurutku, lebih baik wanita yang memutuskan ketimbang pria yang memutuskannya." "Eh, Ra. Kau jangan mengada-ada! Memangnya cuma wanita yang seperti itu, pria pun bisa seperti itu. Kau itu memang egois. Dengar ya! Kalau sepasang kekasih putus, itu memang sudah risiko orang pacaran. Kalau memang tidak bisa berlanjut, ya memang harus putus. Jangankan yang masih pacaran, yang sudah menikah saja bisa cerai," kata Randy agak sewot. "Kau memang tidak punya perasaan, Kak," tuduh Lara kesal. "Eng.. Menurutku jika seorang pria memang tidak yakin akan cintanya, sebaiknya jangan langsung diutarakan. Aku sangat sependapat dengan ucapan Kak Bobby tadi, dan menurutku keputusannya itu memang sangat tepat," lanjutnya kemudian. 11 "Hmm... begitu ya? Sekarang coba kau renungkan. Andai Bobby sudah yakin kalau dia memang mencintai Nina, lantas mereka jadian. Namun pada suatu ketika, ternyata Nina tidak mencintainya dan langsung memutuskannya. Sedangkan pada saat itu, Bobby sudah sangat mencintainya. Nah, apa kau pikir dia akan baik-baik saja setelah diputuskan Nina? Jika saat itu dia punya iman, mungkin akan baik-baik saja. Namun kalau tidak, dia bisa bunuh diri, tahu." "Eng, kalau begitu. Seharusnya sebelum jadian, Nina pun harus yakin dulu-kalau dia itu memang mencintai Bobby." "Hmm... apa iya keduanya bisa saling mengetahui kalau mereka sudah sama-sama yakin?" Saat itu Lara terdiam, tampaknya dia sulit untuk bisa menjawab pertanyaan itu. "Tidak, Bisa..." jawab Bobby tiba-tiba. Seketika pemuda itu tampak menarik nafas panjang dan kembali bicara, "Mmm... menurutku, jalan satu-satunya untuk bisa mengetahui itu, ya memang harus 12 pacaran. Namun, aku tetap pada pendirianku semula, yaitu aku harus yakin dulu. Andai dia memang tidak mencintaiku, aku siap menanggung risikonya. Hati nuraniku mengatakan, biarlah dia yang memutuskanku, ketimbang aku yang harus memutuskannya." "Kau jangan naif begitu, Bob. Memangnya patah hati itu enak," kata Randy mengingatkan. "Tentu saja tidak, Ran. Namun, aku mempunyai keyakinan. Sedalam-dalamnya pria mencintai wanita, masih lebih dalam wanita yang mencintai pria," jelas Bobby seolah-olah dia mengerti betul akan perasaan wanita. "Dari mana kau bisa mengetahui itu, Bob?" tanya Randy heran. "Dari pernyataan Lara tadi. Dan menurut analisaku, apa yang dikatakannya itu keluar dari lubuk hatinya terdalam." "Hebat... hebat... sejak kapan kau mendalami ilmu psikologis, Bob. Hahaha... ! Terserah kaulah. Namun aku berpesan, sebaiknya kau lebih berhati-hati! 13 Janganlah kau mudah percaya dengan perkataan wanita. Sebab wanita itu... " Randy tidak melanjutkan kata-katanya, dia malah tampak senyam-senyum sambil memperhatikan Lara yang kini menatapnya dengan kening berkerut. "Wanita itu apa, Kak?" tanya Lara mendesak. "Sudahlah, lupakan saja!" Randy menolak. "Tidak bisa, Kak. Kau harus menjawab pertanyaanku tadi!" Desak Lara dengan raut wajah yang semakin membuat Randy merasa tidak nyaman. Mengetahui itu, Randy seakan tak punya pilihan. "Baiklah, tapi kau jangan marah ya!" pintanya kepada Lara. "Iya, aku janji," ucap Lara dengan raut wajah yang kini sudah kembali seperti semula. "Eng, baiklah... Sebetulnya wanita itu seperti ubur-ubur, indah namun sangat berbahaya." Mendengar itu, Bobby pun langsung tertawa. "Hahaha... ! Kau ini ada-ada saja, Ran. Tapi, aku sependapat dengan perumpamaan itu." 14 "Kak, Bobby! Jadi, kau juga sependapat?" tanya Lara seperti kecewa. "Betul, Ra. Tapi aku melihatnya melalui sudut pandang yang berbeda. Wanita itu memang seperti ubur-ubur, indah dan lembut, namun sama sekali tidak berbahaya-tentunya jika ia diperlakukan dengan cara yang benar." Bobby, Randy, dan Lara terus berbincang-bincang, hingga akhirnya jam menunjukkan pukul sembilan malam. Pada saat itu, Bobby masih mengharapkan kehadiran Nina, padahal sinetron yang ditontonnya diperkirakan sudah selesai sejak tadi. Dalam hati, Bobby jadi bertanya-tanya, entah kenapa gadis itu belum juga keluar memenuhi janjinya. Sementara itu di dalam kamar, Nina tampak sedang tiduran sambil memikirkan Bobby. "Kak, Bobby... Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi janji! Sebenarnya saat ini aku ingin sekali ngobrol bersamamu. Tapi, entah kenapa aku merasa tidak enak, sepertinya hati kecilku ini melarangku untuk menemuimu," kata gadis itu membatin. 15 Nina terus membatin-memikirkan pemuda yang diduga telah memberi tanda padanya, hingga akhirnya Lara datang menemuinya. "Kau kenapa, Nin? Bukankah kau sudah berjanji pada Bobby mau ikutan ngobrol. Tapi, kenapa kau malah tidur-tiduran di sini." "Eng... a-aku... " Nina tampak kesulitan mengungkapkan isi hatinya. "Kau menyukai Bobby kan? Dan karenanya kau merasa kurang percaya diri," kata Lara menduga. "Ti-tidak, Ra. Bukan karena itu. Se-sebenarnya tadi aku cuma lupa." "Lupa...?" Lara mengerutkan keningnya. "Mmm... lupa apa lupa?" tanyanya kemudian. "Sungguh, Ra. Aku cuma lupa. Kalau begitu, ayo kita ngobrol sama mereka!" "Terlambat, Nin. Kini mereka sudah pulang," jelas Lara seraya naik ke tempat tidurnya. "Pulang?" Nina tampak heran. "Tentu saja, ini kan sudah hampir tengah malam." "Apa!" Nina terkejut seraya melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 11.30 WIB. "Hah, 16 sudah jam segitu. Perasaan baru sebentar aku rebahan di sini," katanya kemudian. "Ya, begitulah jika sedang memikirkan orang yang spesial. Waktu pun berlalu dengan begitu cepat." Pada saat itu, Nina tampak membatin, "Ra, kenapa kau bicara seperti itu? Apakah kau cemburu karena Bobby mengharapkan kehadiranku?" "Heh! Kenapa Malah bengong?" tanya Lara tiba-tiba. "Sudah nanti saja memikirkannya. Sebaiknya sekarang kau bersih-bersih dulu, setelah itu kita tidur! Memangnya jam berapa kau mau tidur, bukankah besok ada ujian?" katanya lagi. Mendengar itu, Nina pun segera beranjak ke kamar mandi. Dan tak lama kemudian, dia sudah kembali dan langsung merebahkan diri di sebelah Lara. Saat itu, Nina masih memikirkan Bobby. Pemuda yang diduganya sedang diincar Lara. 17 Seminggu kemudian, ketika hari sudah menjelang senja. Sebuah sedan biru tampak melaju perlahan melintasi jalan yang ada di tengah kompleks permukiman. Pada saat itu, pengemudinya yang tampan dan berambut sebahu tampak resah, memikirkan apa yang akan terjadi. "Hmm... bagaimana ya, jika Lara belum pulang dari rumah neneknya?" tanya Bobby mengenai gadis yang akan ditemuinya. "Huh, andai saja Lara bisa dihubungi tentu tidak akan serepot ini," keluh Bobby akan gangguan teknis yang dialaminya. Sungguh pemuda itu merasa jengkel dengan Lara yang selama ini sedang menginap di rumah temannya. Padahal, hari ini dia harus mengembalikan DVD yang dipinjamnya. Kini pemuda itu sudah tiba di rumah Lara dan sedang berdiri di depan pintu sambil berharap hari ini Lara ada di rumah. Dan setelah menunggu agak lama, akhirnya seorang gadis terlihat datang membukakan pintu. "Cari Kak Lara ya?" tanyanya kepada Bobby. "Iya.. Nin. Apa dia ada?" 18 "Lara belum pulang tuh. Dia masih di rumah temannya." "Kalau begitu, boleh aku tahu nomor telepon temannya?" "Wah, sayang sekali, Kak! Aku juga tidak tahu. O ya, memangnya HP Lara belum juga diaktifkan?" Bobby mengangguk. "Eng... kalau begitu, bisakah aku minta tolong padamu untuk mengambilkan DVD yang dipinjam Lara. Soalnya hari ini aku harus mengembalikannya ke rental. Sebab kalau tidak, aku akan dikeluarkan dari keanggotaan rental DVD yang terbaik di kampungku. Maklumlah, aku sudah diperingatkan jika sekali lagi melanggar aturan maka aku tidak akan diampuni lagi." "Eng... Kalau begitu, cari sendiri saja ya! Soalnya DVD di rak itu banyak sekali, dan aku tidak tahu yang mana." "Itu loh, film The X Mind "Wah, aku tidak tahu film itu. Sebaiknya kakak saja yang mencarinya! Bukankah kakak tahu cover-nya, dengan begitu tentu lebih mudah mencarinya." 19 "Tapi, Nin. Apa pantas aku mencarinya sendiri." "Tidak apa-apa, Kak. Kan ada aku." "Eng... Baiklah," kata Bobby seraya melangkah masuk. Dan setibanya di ruang tengah dia langsung mencari DVD yang dimaksud. Sedangkan Nina tampak duduk di sofa sambil terus menemaninya. "Bagaimana, Kak? Sulit ya menemukannya?" tanya Nina kepada pemuda yang kini tampak begitu sibuk mengamati cover film satu per satu. "Iya, Nin. Soalnya DVD ini banyak sekali. Aku heran, besar sekali minatnya hingga bisa mengoleksi DVD sebanyak ini, sampai film yang tidak bermutu pun dia beli. Hmm... di mana ya dia meletakkannya?" Jawab Bobby seraya menoleh ke arah gadis itu. "O ya, Nin... ngomong-ngomong, kenapa kau belum punya pacar?" tanyanya kemudian. "Ah, Kakak. Kenapa sih menanyakan hal itu?" "Tidak... aku cuma heran saja. Kau itu kan cantik, masa iya tidak ada pria yang suka." "Ah, Kakak. Aku jadi malu. Baru kali ini ada yang bilang aku cantik," kata Nina merendah. 20 "Benar kok. Kau itu memang cantik. Masa sih tidak ada yang bilang kau cantik, berarti selama ini mereka pada merem dong," kata Bobby seraya membawa tumpukan DVD dan duduk di samping Nina. "O ya, Nin. Tolong jawab pertanyaanku tadi! Memangnya kenapa kau belum punya pacar?" "Belum ada yang menarik hatiku, Kak," jawab Nina tidak terus terang. "Eng, menurutmu. Aku menarik tidak?" "Mmm... " Nina benar-benar merasa malu menjawab pertanyaan itu. "Tidak apa-apa, Nin. Kalau aku ini memang tidak menarik bagimu, katakan saja terus terang! Percayalah.! Aku tidak akan marah," kata Bobby sungguh-sungguh. "Ka-kau menarik kok, Kak," ucap Nina dengan wajah bersemu merah. Mengetahui itu, Bobby pun langsung menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Sungguh?" tanyanya kemudian. 21 "Iya, Kak. Bagiku kau itu sangat menarik. Dan aku yakin, pasti banyak gadis yang menyukaimu," jawab Nina berusaha meyakinkan. "Mmm... apakah kau juga menyukaiku?" tanya Bobby lagi. Nina tidak segera menjawab, sungguh saat itu dia merasa berat untuk mengatakannya. "Hmm... ternyata benar dugaanku, kalau dia memang menyukaiku. Dan setelah aku menjawab pertanyaan yang sangat memojokkanku itu, dia pasti akan mengajakku kencan. Jika sampai itu terjadi, apa kata Lara nanti?" "Nin, kalau kau tidak menyukaiku bilang saja! Aku tidak akan marah," kata Bobby tiba-tiba. "Eng. a-aku menyukaimu, Kak." kata Nina dengan wajah yang lagi-lagi bersemu merah. "Mmm... benarkah? Kalau begitu, bagaimana kalau lusa kita makan malam?" Mengetahui itu, Nina langsung membatin, "Hmm... benar saja dugaanku, ternyata dia memang mengajakku kencan. Hmm... jika aku sampai menuruti ajakannya, apa kata Lara nanti...?" 22 "Nin, jika kau memang tidak bisa, tidak apa-apa kok," kata Bobby tiba-tiba membuyarkan pikiran Nina. "Eng, maafkan aku, Kak! Sepertinya aku memang tidak bisa. O ya, Kak. Ngomong-ngomong, boleh aku membantumu mencari DVD itu. Judulnya The X Mind kan," kata Nina mencoba mengalihkan pembicaraan. "Tentu saja, Nin. Terima kasih." Mendengar itu, lantas Nina segera mengambil setumpuk DVD dan mencari film yang dimaksud. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong Kakak kenal Lara di mana?" "Hmm... Sebenarnya Lara itu kenalan Randy, dan Randylah yang memperkenalkan Lara padaku." "O.. jadi begitu. O ya, Kak. Menurutmu. Lara itu bagaimana?" "Maksudmu?" "Maksudku. menurut kakak, Lara itu seperti apa?" "Mmm... Lara itu gadis yang cantik dan baik hati, walau terkadang suka membuatku jengkel. Sikapnya yang kekanak-kanakan itu terkadang suka 23 membuatku naik darah. Pernah waktu itu, dengan tanpa sebab yang jelas tiba-tiba dia mengambil sebungkus rokokku dan mematahkan semua isinya sambil mengatakan kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Saat itu, dalam hati aku ingin marah sekali padanya, namun akhirnya aku bisa menahan diri karena mengingat dia itu wanita. Apa lagi dia itu wanita yang dicintai oleh sahabatku Randy." "O, jadi... selama ini Randy yang lagi pendekatan dengan Lara. Tapi, jika kuperhatikan sepertinya Lara tidak mencintainya. Sepertinya dia itu justru mencintaimu, Kak." "Apa! Lara mencintaiku? Hahaha... ! Kau ini ada-ada saja, Nin. O ya, ngomong-ngomong. kenapa kau bisa menduga seperti itu?" "Eng, soalnya waktu itu dia pernah mengigau dengan menyebut namamu." "Apa! Lara mengigau menyebut namaku? Emm... kalau boleh kutahu, seperti apa dia menyebutnya, Nin?" 24 "Eng, ya se-seperti seorang kekasih yang baru berjumpa dengan kekasihnya." Bobby terdiam, saat itu dia seperti berusaha menerka apa yang sedang dialami Lara dalam mimpinya. "Kak!" panggil Nina membuyarkan pikiran Bobby. "Iya, Nin. Ada apa?" "Bagaimana jika Lara memang mencintaimu, apakah kau akan menerimanya?" "Tidak, Nin. Aku tidak mungkin melukai perasaan Randy. Lagi pula, aku rasa Lara sudah mengetahui kalau aku tidak mungkin menjadi pacarnya. Karena selama ini aku sudah begitu gigih memberinya pengertian agar bisa mencintai Randy." "Sungguh?" tanya Nina hampir tak mempercayainya. Bobby mengangguk. "O ya, ngomong-ngomong apa karena dugaanmu itu sehingga kau menolak ajakanku?" tanya pemuda itu kemudian. 25 "Kau betul, Kak. Karenanyalah aku merasa tidak enak dan khawatir kalau Lara akan membenciku lantaran jalan bersamamu." "Nin, percayalah. Kalau aku tidak mungkin pacaran dengan gadis yang begitu dicintai oleh sahabatku sendiri." Mengetahui itu, raut wajah Nina pun tampak begitu berseri-seri. "Hmm... jika benar demikian, tidak sepatutnya aku menolak ajakanmu, Kak." "Be-benarkah yang kau katakan itu, Nin?" tanya Bobby hampir tak mempercayainya Nina mengangguk. "Eng... kalau begitu, lusa aku akan menjemputmu." Nina tersenyum, saat itu dia benar-benar bahagia karena bisa berkencan dengan Bobby. "O ya, Kak. Apakah ini film yang kakak cari," katanya kemudian seraya menyerahkan film itu kepada Bobby. "Betul, Nin. Ini dia film-nya. Terima kasih ya kau sudah menemukannya. Kalau begitu, aku harus 26 segera pamit agar bisa mengembalikan film ini tepat waktu." Tak lama kemudian, Nina sudah mengantar Bobby hingga ke pintu gerbang. Sepeninggal Bobby, gadis itu segera merebahkan diri di tempat tidur dan memikirkan pemuda yang ternyata sudah mencuri hatinya. "Oh, Kak Bobby. Apakah kau benar-benar mencintaiku. Jika melihat dari perlakuanmu padaku, aku rasa memang demikian. Tapi... apakah gadis sepertiku pantas menjadi kekasihmu. Andai saja kau tahu siapa sebenarnya aku, apakah kau tetap akan mencintaiku?" Gadis itu terus memikirkan Bobby, bahkan segala hal yang berkenaan dengan rencana makan mereka sudah terbayang jelas di benaknya. Dimana saat makan itu menjadi sangat spesial dan merupakan kenangan yang tak mungkin terlupakan. Gadis itu terus terlena dengan lamunannya, hingga akhirnya dia tidur lebih larut dari biasanya. 27 Dua hari kemudian, tepat di akhir pekan, Bobby datang memenuhi janjinya. Kini pemuda itu sedang duduk di ruang tamu, menunggu Nina yang masih berdandan di kamarnya. Tak lama kemudian, Nina sudah keluar dengan mengenakan gaun cokelat panjang yang dipadukan dengan beberapa aksesoris yang terlihat trendy. Sebuah ikat pinggang perak tampak melingkar di pinggangnya yang ramping, scarf yang berwarna senada tampak cantik melingkar di lehernya yang jenjang. Saat itu, rambutnya yang lurus sebahu dibiarkan terurai, menghiasi wajahnya yang berbentuk oval. Sungguh tampak begitu manis dengan bagian pipinya yang disapu warna merah merona. Alis matanya pun tampak tipis dan hitam pekat, sedang di bawahnya tampak bulu mata yang begitu lentik. Eye shadow-nya yang berwarna ungu tampak serasi dengan warna bibirnya yang dipoles lipstick berwarna senada. Selain itu, pernak-pernik etnik terlihat menghiasi tangan dan kakinya yang putih mulus. Bahkan sepatu warna putihnya yang berhak tingginya membuatnya kian tampak semampai. 28 "Kau cantik sekali, Nin," puji Bobby terpana melihat penampilan Nina yang lain dari biasanya. "Terima kasih, Kak! Kau juga tampak lebih tampan," balas Nina seraya tersenyum.. "Terima kasih, Nin. Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Bobby seraya menggandeng Nina dan mengajaknya menuju mobil. Tak lama kemudian, kedua muda-mudi itu sudah melaju menuju ke pusat kota, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang sangat mewah. Kini keduanya sudah duduk dekat jendela yang menghadap ke jalan. Dari tempat itu terlihat pemandangan kota yang dipenuhi warna-warni lampu yang begitu indah, terkadang dari tempat itu terlihat kereta listrik yang melintas di atas rel layangnya, sungguh tampak menarik bagaikan mainan di dalam sebuah diorama. Ruangan di tempat itu pun terasa sangat nyaman, interiornya yang bergaya klasik betul-betul begitu berkelas. Lampu gantung, furniture, serta benda seni lain yang berasal dari zaman renaissance menciptakan suasana yang sangat romantis. 29 "Nin, apa kau senang makan di sini?" tanya Bobby seraya memasukkan makanannya ke dalam mulut. "Senang sekali, Kak. Terus terang, baru kali ini aku makan di restoran semewah ini." "Aku juga baru pertama kali ini. Biasanya aku hanya makan di restoran cepat saji." "Suasana di tempat ini sungguh sangat romantis, Kak." "Betul, Nin. Seolah kita ini berada di masa lampau yang dikelilingi oleh benda seni bercita-rasa tinggi yang berasal dari masa kebangkitan." "O ya, Kak. Setelah ini kita akan ke mana?" "Emm... bagaimana kalau kita menikmati air mancur menari?" "Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya, Kak." "O ya, Nin. Ngomong-ngomong, sebenarnya seperti apa pemuda yang kau dambakan?" "Yang jelas, dia itu bukan kriminal, Kak. Tapi, dia itu haruslah Pemuda yang baik dan mau mengerti 30 aku. Selain itu, dia juga pria yang romantis dan bercita-rasa seni tinggi." "Eng... menurutmu apa aku sudah masuk pada kriteria itu?" "Entahlah, Kak... Aku belum begitu mengenalmu, karenanya bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaanmu." "Hmm... jika demikian, bagaimana kalau kita saling mengenal lebih jauh! Terus terang, aku telah jatuh cinta padamu, Nin." Saat itu Nina tak mampu berkata-kata, sungguh dia tidak menyangka kalau pernyataan itu akan keluar dengan begitu cepat. "Bagaimana, Nin. Apakah kau juga mencintaiku?" tanya Bobby penuh kecemasan. Lantas dengan wajah yang bersemu merah, Nina pun berani mengungkapkan isi hatinya, "A-aku juga mencintaimu, Kak." jawabnya pelan. "Sungguh!" tanya Bobby seraya menatap mata gadis itu dalam-dalam. 31 Nina pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. "Oh, Nin. Aku sungguh bahagia sekali mengetahuinya," ungkap Booby kemudian. Kini kedua muda-mudi itu tampak berpegangan tangan, merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Sementara itu di tempat lain, Lara yang baru pulang dari rumah temannya tampak sedang berbicara dengan pembantunya. "Mbok! Nina pergi ke mana?" "Non Nina pergi sama Den Bobby, Non." "Apa! Nina pergi sama Bobby?" tanya gadis itu hampir tak mempercayainya. "Betul, Non. Katanya mereka mau makan malam." Mengetahui itu, hati Lara pun jadi tidak karuan, terbayang sudah bagaimana orang yang dicintainya itu kini sedang berduaan dengan sepupunya. "Mbok, tolong buatkan aku minum!" pinta Lara seraya melangkah ke kamarnya. Kini gadis itu tampak merebahkan diri di tempat tidur, pikirannya melayang jauh, membuat alur cerita mengenai Bobby dan sepupunya. Di benaknya 32 tergambar suasana mengenai Bobby dan Nina yang sedang berduaan, duduk di restoran saling berhadapan. Pada saat itu, keduanya tampak menikmati makanan lezat sambil memperbincangkan berbagai hal yang menyenangkan. Setelah itu, keduanya berjalan-jalan di taman dan duduk di sebuah bangku, membicarakan berbagai hal yang indah. Lantas keduanya semakin hanyut di dalam kebersamaan itu, hingga akhirnya mereka pun berciuman. "Tidak!" ucap Lara seraya menarik nafas panjang dan bergegas duduk di tepian tempat tidur. Sungguh alur cerita yang dikarangnya itu sudah membuatnya benar-benar merasa tidak nyaman. Bagaimana mungkin dia bisa merelakan kalau orang yang begitu dicintainya bermesraan dengan gadis lain. "Non, ini minumannya!" seru pembantunya tiba-tiba dari balik pintu kamar. "Masuk saja, Mbok!" Mendengar itu, pembantunya segera masuk dan meletakkan minuman yang dibawanya di atas meja 33 rias. Setelah itu, dia pun segera meninggalkan ruangan. Pada saat yang sama, Lara masih duduk di tepian tempat tidur. Kini di dalam kepalanya sudah tercipta alur baru yang lebih seru dari sebelumnya. Dimana di benaknya terbayang peristiwa yang semakin memanas. Sepulang dari taman, Bobby dan Nina tidak langsung pulang, namun mereka mampir dulu ke sebuah hotel, hingga akhirnya mereka melakukan perbuatan layaknya suami istri. "Tidak!" lagi-lagi Lara menarik nafas panjang, kemudian beranjak mengambil minuman dan meneguknya sampai habis. Setelah itu, dia segera kembali ke tempat tidur dan langsung merebahkan diri. Pada saat yang sama, Bobby dan Nina tampak sedang melangkah ke mobil. Kini sepasang muda-mudi itu sedang melaju menuju ke sebuah hotel bintang lima. Di dalam perjalanan, keduanya tampak sudah semakin akrab, membicarakan berbagai hal yang mereka minati. "Hmm... Jika demikian, berarti 34 aku memang harus memakainya," kata Bobby sambil terus memperhatikan jalan. "Betul, Kak. Kau memang harus memakai pelindung itu demi untuk keamanan." "Baiklah kalau begitu, agar kau tidak khawatir lagi aku pasti akan memakainya." Sepasang muda-mudi itu terus membicarakan perihal yang cukup menarik itu, hingga akhirnya mereka tiba di hotel. Sementara itu di sebuah jalan utama, Randy terlihat sedang mengendarai mobilnya. Saat itu di wajahnya terlihat sebuah ekspresi kebahagiaan. Maklumlah, pemuda itu baru saja berhasil melobi rekan bisnisnya, dan sekarang mau menindaklanjutinya demi untuk mematangkan perkara itu. Kini pemuda itu tampak sedang menerima telepon, membicarakan perihal yang penting. "Iya.. iya... lima belas menit lagi aku sampai di tempat tujuan. Sudah ya, sampai bertemu nanti!" ucap pemuda itu mengakhiri pembicaraan. 35 Sedan mewah yang ditumpangi Randy terus melaju semakin cepat, mendahului mobil-mobil yang ada di depannya. Pada saat itu, wajahnya tampak begitu berseri-seri. Begitulah Randy, pemuda yang enerjik dan sedang dalam masa produktif. Jika dia sudah mengurusi soal bisnis dia memang sangat bergairah, bahkan hari-hari spesialnya sering dikorbankan demi urusan bisnis. Buktinya di akhir pekan ini, dimana seharusnya dia berlibur untuk penyegaran tapi malah digunakan untuk mengurusi bisnisnya. Sedan mewah yang ditumpangi Randy terus melaju, hingga akhirnya dia tiba di tempat tujuan. Esok paginya seusai sarapan, Nina tampak sedang berbincang-bincang dengan Lara di ruang tengah. Mereka sedang membicarakan perihal Bobby yang kini sudah menjadi kekasih Nina. Saat itu, Nina tampak bersemangat menceritakan bagaimana dia 36 diajak makan hingga akhirnya Bobby menyatakan cintanya di dalam suasana yang begitu romantis. "Terus...?" tanya Lara penasaran, sebab peristiwa yang dialami oleh sepupunya itu sesuai sekali dengan alur cerita yang pernah dikarangnya. Nina pun kembali melanjutkan ceritanya. "Setelah itu kami berjalan-jalan di taman dan duduk di suatu tempat sambil menikmati air mancur menari. Sungguh semuanya itu sangat romantis dan membuatku benar-benar bahagia," ungkap Nina dengan wajah berbinar. "Terus setelah itu...?" tanya Lara lagi semakin penasaran, karena yang diceritakan Nina lagi-lagi sangat sesuai dengan fantasinya. "Eng... Setelah itu. setelah itu tidak ada lagi istimewa, Ra. Hanya perbincangan biasa yang sedikit menarik." "Benarkah tidak ada lagi kejadian yang istimewa?" tanya Lara mendesak. "Betul, Ra. Memang sudah tidak ada lagi," jawab Nina sambil mengacungkan dua jarinya. "Swear," ucapnya kemudian. 37 Mengetahui itu, Lara menyesal juga karena telah berburuk sangka pada sepupunya, sampai-sampai di benaknya tercipta alur cerita yang tak sepatutnya itu. 38 DUA Tiga bulan kemudian, di sebuah villa mewah milik Randy. Seorang gadis tampak iri memperhatikan sepasang sejoli yang kini sedang asyik bermesraan di taman. Gadis itu memperhatikannya dari balik gorden yang dibukanya sedikit. "Hmm... Mereka tampak begitu serasi. Andai yang di posisi Nina itu adalah aku, betapa bahagianya hati ini.... " Lara terus memperhatikan sepasang sejoli itu. Sementara itu tanpa sepengetahuannya, sepasang mata tampak mengawasi gerak-geriknya. Dia tampak bersembunyi di balik patung yang ada di ruangan itu. Setelah lama mengawasi, akhirnya orang itu keluar dari persembunyiannya dan melangkah mendekati Lara. "Hmm... Rupanya kau pun mencintainya," kata orang itu kepada Lara. 39 Mendengar itu, seketika Lara terkejut, kemudian segera berpaling memperhatikan wajah tampan yang kini menatapnya dengan dingin. "Ra-Randy... a-apa yang kau lakukan di situ?" tanya Lara terbata. "Mengamati gadis yang sedang jatuh cinta," jawab Randy. "Si-siapa gadis yang kau maksud?" "Tentu saja kau, Lara... Memangnya ada gadis lain di ruangan ini?" "Ke-kenapa bisa kau menduga begitu?" "Sudahlah, Ra! Bahasa tubuhmu tidak bisa membohongiku." Lara terdiam, dia memang tidak mungkin bisa menyembunyikan gelagat jatuh cintanya. "Kak, sepertinya hari sudah larut. Sebaiknya aku pergi," ucap gadis itu seraya berlari ke kamarnya. Sementara itu, Randy cuma bisa memperhatikan kepergiannya dengan rasa menyesal. Tidak seharusnya dia membuat Lara malu dan membuatnya terpaksa berlari meninggalkannya. Pada saat yang sama, di atas kursi ayun yang ada di taman, Bobby 40 terlihat sedang memperhatikan wajah Nina yang manis. Diperhatikannya setiap lekuk wajah yang tak membuatnya jemu itu, dari alis hingga ke bibirnya yang merah merekah, yang jika tersenyum maka akan tampaklah deretan giginya yang putih laksana mutiara. "Aku bahagia sekali malam ini, Sayang...," ungkap Bobby seraya mencium kening gadis itu. "Aku juga, Kak." Ungkap Nina seraya memalingkan wajahnya, sedang dari matanya tiba-tiba mengalir air mata kesedihan. "Ada apa, Sayang... ? Kenapa kau menangis?" tanya Bobby heran. "Kak, andai kau mengetahui diriku yang sebenarnya. Apakah kau tetap akan mencintaiku?" tanya Nina seraya menatap mata kekasihnya dalam-dalam. Saat itu Bobby terdiam, sungguh dia tidak tahu harus menjawab apa. "Eng... kenapa kau bertanya seperti itu, Sayang?" tanyanya kemudian. "Kak, tolonglah jawab pertanyaanku tadi!" 41 Lagi-lagi Bobby terdiam, "Hmm... apakah dia mengidap suatu penyakit berbahaya?" tanya pemuda itu dalam hati. Lantas di benak pemuda itu terjadi pertarungan hebat antara egonya yang menginginkan kesempurnaan melawan hati nuraninya yang begitu mencintainya. Hingga akhirnya pemuda itu bisa juga menjawab pertanyaan tersebut, "Tentu saja, Nin. Bagaimanapun keadaan dirimu, aku tetap akan mencintaimu." "Se-sekalipun aku mengidap HIV?" tanya Nina memastikan. "A-apa???" Bobby terkejut bukan kepalang. "Me-memangnya... " Belum sempat pemuda itu menuntaskan kata-katanya, Nina pun langsung memotong, "Tidak, Kak. Aku tidak mengidap HIV... " kata Nina seraya tersenyum, kemudian mencoba menghapus air matanya. "Sungguh?" tanya Bobby memastikan. "Iya, Kak. Tadi aku cuma mau mengujimu, apakah kau tulus mencintaiku." 42 "Syukurlah kalau begitu... O ya, ngomong-nomong apa sebenarnya yang membuatmu menangis?" "Eng, begini Kak... Se-sebenarnya, a-aku bukanlah gadis baik-baik seperti yang kau duga selama ini." "Ma-maksudmu?" tanya Bobby setengah terkejut. "A-aku ini..." Nina terdiam, sungguh saat itu dia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Lagi-lagi Nina hanya bisa menangis. "Ayolah, Sayang... ! Katakanlah padaku! Apapun itu, aku akan tetap mencintaimu." "Tidak, Kak. Aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Kau itu pemuda yang baik, sungguh aku tidak pantas menjadi kekasihmu." "Sayang. Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Bobby tak mengerti. "Sebab, a-aku... " Lagi-lagi Nina terdiam. "Ayo, Sayang... ! Katakanlah!" desak Bobby kian penasaran. Tiba-tiba saja Nina beranjak dari duduknya, kemudian berlari meninggalkan pemuda itu. 43 "Nina!!! Tunggu, Nin!" Teriak Bobby seraya mengejar gadis itu. Tak lama kemudian, Bobby sudah menghentikan larinya. Kini dia tampak berdiri di muka pintu kamar mandi sambil mengetuknya pelan, "Nin, buka pintunya, Nin! Aku minta maaf jika ada perlakuanku yang membuatmu jadi begini! Nin, tolong buka pintunya. Aku mau bicara!" pinta Bobby penuh harap. Lama juga Bobby memohon, namun gadis itu tetap tak mau membukakannya. Saat itu dari dalam kamar hanya terdengar isak tangis yang membuat perasaan Bobby semakin tidak karuan, hingga akhirnya pemuda itu memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Kini pemuda itu sedang melangkah ke kamar tidur dengan membawa seribu tanda tanya. Sementara itu di dalam kamar mandi, Nina tampak sedang mengikat lengannya dengan seutas tali. Saat itu tubuhnya terlihat bergetar, dan tak lama kemudian tubuh itu tampak terkulai di sudut ruangan. 44 Esok paginya, Bobby dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang cukup keras. "Siapa?" tanya Bobby kepada orang yang mengetuk pintu. "Ini aku, Kak..." sahut orang itu. "Ni-Nina!" Seru Bobby seraya bergegas bangun dan membukakannya pintu. Kini pemuda itu sedang memandang Nina dengan penuh perasaan heran, sungguh dia tidak menyangka kalau pagi ini dia melihat gadis itu tampak begitu ceria, bahkan sebuah senyuman tampak tersungging di bibirnya. "Ayo, Kak! Kita sarapan sama-sama!" ajak Nina kepadanya. Semula Bobby ingin mengajukan banyak pertanyaan, namun akhirnya dia urungkan lantaran takut menghilangkan keceriaan Nina. "Iya, tunggu sebentar! Aku mau cuci muka dulu," katanya seraya melangkah menuju wastafel. Sementara itu, Randy dan Lara yang sedang menunggu di meja makan tampak sedang berbincang-bincang. 45 "Ra, aku betul-betul tidak mengerti akan sikapmu. Dulu kau bilang tidak menyukai Bobby, lalu kenapa belakangan ini justru malah sebaliknya?" tanya Randy penuh keingintahuan. "Sudahlah, Kak! Terus terang, aku tidak mau membicarakan masalah itu." "Maafkan aku, Ra! Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Namun, aku perlu menyampaikan kalau kau tidak seharusnya memikirkan Bobby yang kini sudah menjadi pacar sepupumu. Ra. kau kan tahu kalau aku sangat mencintaimu. Eng. Bukankah lebih baik kalau kau mencintaiku?" "Itu tidak mungkin, Kak. Aku tidak mungkin bisa mencintaimu karena sejak awal aku memang sudah mencintai Bobby. Lagi pula, aku sudah menegaskan padamu kalau hubungan kita hanyalah sebatas sahabat, tidak lebih dari itu." "Ra. ngomong-ngomong, apa kau merasa kecewa dengan keputusan Bobby yang demikian?" 46 "Tidak, aku sama sekali tidak kecewa. Bobby dan Nina memang pasangan yang serasi, dan mereka memang layak untuk saling mencintai." "Kau jangan bohong, Ra! Semalam aku lihat kau tampak begitu kecewa." "Kak, jika aku memang betul-betul kecewa, lantas kenapa?" "Ra, aku mencintaimu. Aku tidak mau jika kau terus-menerus memendam perasaan itu. Kau berhak mendapat kebahagiaan seperti mereka, dan mungkin saja jika kau mau bersamaku, kau pun bisa mendapatkan kebahagiaan itu." "Kak, terus terang aku ragu akan bahagia jika bersamamu." "Kenapa kau berpikir begitu?" "Bukankah kita selalu berbeda pendapat.? Dan kau pun selalu mau menang sendiri lantaran kau itu orang yang keras kepala. Tidak seperti Kak Bobby. Biarpun dia sering kubuat jengkel, namun dia tidak pernah mengungkapkan kejengkelannya itu. Sepertinya, dia itu memang pria yang mengerti betul 47 akan hati wanita, dan dia berusaha untuk menjaga perasaannya yang rapuh. Tidak sepertimu yang selalu ceplas-ceplos dan tidak mau mengerti perasaan wanita yang memang mendambakan kelembutan." "Hmm... aku betul-betul tidak menyangka kalau perlakuanku padamu selama ini justru telah membuatmu antipati. Kalau kau mau tahu, sesungguhnya aku bersikap demikian karena aku mencintaimu, Ra." "Tapi, Kak. Caramu itu sama sekali tidak mencerminkan hal itu." "Benarkah?" tanya Randy heran. Lara mengangguk. Bersamaan dengan itu, Bobby dan Nina tampak sudah tiba di ruang makan. Kini keduanya tampak sudah duduk berhadapan dengan Randy dan Lara. "Maaf ya, kalian telah lama menunggu!" ucap Bobby menyesal karena sudah bangun kesiangan sehingga membuat mereka terpaksa menunggu. "Ayo, sebaiknya kita sarapan sekarang!" ajaknya kemudian. 48 Saat itu Lara tampak memperhatikan Bobby yang mengambilkan nasi goreng untuk Nina, sedangkan Nina membalasnya dengan mengambilkan lauk untuk pemuda itu. Sungguh pemandangan yang membuat Lara menjadi iri karenanya. Mengetahui itu, Randy pun melakukan hal yang dilakukan Bobby, dia segera mengambilkan nasi goreng untuk Lara, malah sekaligus dengan lauk-pauknya. "Randy! Kenapa kau menaruh ini di piringku?" tanya Lara seraya mengambil telur di piringnya dan mengembalikannya ke tempat semula. "Maafkan aku, Ra! Tapi... Bukankah kau itu menyukai telur?" tanya Randy dengan raut wajah bingung. "Betul, tapi tidak untuk saat ini. Karena... " "Cukup, Ra!" Randy memotong, "Kau itu sungguh keterlaluan. Jika kau tidak suka kuambilkan, bilang saja! Tidak usah pakai alasan macam-macam!" katanya kemudian. 49 "Iya, aku memang tidak suka kau ambilkan. Sekarang apa kau puas?" tanya Lara seraya bangkit dari duduknya. "Kau mau ke mana, Ra?" tanya Bobby tiba-tiba. "Kalian lanjutkan saja sarapannya, aku sudah tidak berselera," kata gadis itu seraya melangkah pergi. "Dia betul, Bob. Kita lanjutkan sarapan kita. Kau jangan pedulikan ambekannya yang seperti anak kecil itu!" Bobby tidak menuruti kata-kata Randy, dia malah beranjak menghampiri Lara. "Ra, Tunggu!" tahan pemuda itu seraya memegang bahu Lara. "Ayolah, Ra! Jika tidak sarapan, nanti kau sakit," katanya kemudian. "Tidak, Kak. Aku sudah tidak selera makan, apa lagi jika harus bersama orang yang menyebalkan itu." Mendengar itu, Randy langsung bangkit dari duduknya. "Baiklah... jika memang itu yang kau inginkan, aku bisa kok makan sendirian. Silakan kau makan di sini bersama Bobby dan Nina! Biarlah aku 50 makan sendirian di teras," kata Randy seraya mengambil piringnya dan melangkah pergi. "Ran, tunggu!" teriak Bobby. "Sudahlah, Bob! Apa kau tidak mendengar keinginan anak kecil itu," tolak Randy sambil terus berlalu. Mendengar itu, Bobby tidak berusaha mencegah, sebab dia tahu betul akan tabiat sahabatnya itu. "Ra, ayo kita kembali ke meja makan!" ajak Bobby kemudian. "Tidak, Kak. Kini aku semakin tidak berselera." "Ra, jika kau tidak sarapan. Aku juga tidak akan sarapan," ancam Bobby tidak main-main. Mendengar itu, hati Lara pun jadi luluh. Sungguh dia tidak mau jika orang yang dicintainya itu sampai tidak sarapan karena ulahnya. Lantas dengan agak terpaksa, akhirnya dia bersedia kembali ke meja makan. Sementara itu di teras, Randy tampak sedang menikmati sarapan paginya. Sekalipun saat itu hatinya sedang dongkol, namun dia tetap berusaha menghabiskan makanannya. Dalam hati dia benar- 51 benar merasa kecewa dengan sikap Lara yang demikian. "Ra, kenapa kau membalas kebaikanku dengan cara seperti itu? Apa kau tidak tahu kalau aku melakukan itu lantaran ingin membahagiakanmu, yang mana pada saat itu kulihat kau begitu ingin diperlakukan seperti halnya yang dilakukan Bobby kepada Nina." Pemuda itu terus menikmati sarapannya sambil memikirkan Lara yang begitu dicintainya. Sungguh dia tidak mengerti, kenapa segala niat baiknya selalu saja menjadi bumerang yang justru membuat gadis pujaannya bertambah tidak simpati. Malam harinya, mereka berempat berjalan-jalan menikmati suasana puncak yang temaram. Beberapa menit kemudian, mereka tampak memasuki sebuah kedai untuk sekedar merasakan lezatnya jagung bakar dan hangatnya sekuteng. Setelah itu, mereka kembali berjalan-jalan menikmati suasana malam 52 yang begitu menyenangkan. Ketika melewati sebuah galeri seni, tiba-tiba Bobby menghentikan langkahnya. Rupanya pemuda itu baru saja mendapat sebuah SMS yang membuatnya merasa perlu untuk segera membalas. "Wah... ternyata pulsaku sudah habis. Kalau begitu, kalian tunggu di sini ya, aku akan mengisi pulsa dulu," kata pemuda itu memberitahu. "Ini pakai HP-ku saja," tawar Randy. "Terima kasih, Ran. Aku memang harus mengisinya, sebab masa tenggangnya juga sudah hampir habis." "Emm... kalau begitu baiklah. Tapi, jangan terlalu lama ya!" pesan Randy. "OK, Ran... Ayo, Nin!" ajak Bobby minta ditemani. Sepeninggal Bobby dan Nina, pemuda yang bernama Randy itu tampak melihat-lihat benda seni yang dipajang di etalase. "Lara, kemarilah!" panggil pemuda itu ketika dia melihat sesuatu yang pantas ditunjukkan pada Lara. "Ada apa, Kak?" 53 "Lihat itu! Bukan itu sangat indah," unjuk Randy mengenai sebuah benda seni yang menurutnya indah. "Yang mana, Kak?" tanya Lara belum menemukan benda yang dimaksud. "Itu, yang ada di sebelah sana," tunjuk Randy berusaha memberitahu benda yang dimaksudnya. "O, yang di sana itu?" tanya Lara seraya ikut menunjuk ke arah benda yang dimaksud. "Betul, Ra." "O, kalau itu sih biasa saja. Aku sudah sering melihat yang seperti itu." Dalam hati Randy merasa jengkel dengan ucapan Lara barusan, sepertinya gadis itu sama sekali tidak menghargai upayanya yang dengan tulus dilakukan demi membuatnya senang. "Lihat itu, Kak! Indah sekali," unjuk Lara bersemangat. "Yang mana?" tanya Randy penasaran. "Yang itu," unjuk Lara lagi berusaha mengarahkan telunjuknya agar tepat mengarah ke benda seni yang dimaksud. 54 "Ah, itu sih biasa saja. Aku sudah sering melihat yang seperti itu," balas Randy meniru ucapan Lara sebelumnya, walaupun sebenarnya saat itu hatinya mengakui kalau yang diberitahukan Lara itu betul-betul indah." "Dasar manusia tidak punya jiwa seni. Kau sama sekali tidak bisa membedakan yang mana yang indah dan yang tidak," kata Lara jengkel. "Kau yang tidak mempunyai jiwa seni. Padahal yang tadi kutunjukkan padamu begitu indah, namun kau malah bilang biasa saja." Dalam hati, sebetulnya Lara mengakui kalau yang ditunjukkan Randy tadi memang indah, namun karena dia tidak mau Randy menjadi penting lantaran telah memberitahu sesuatu yang menyenangkan hatinya maka dia pun menampikkan hal itu. "Kau marah ya, Ra?" tanya Randy. "Tidak... kenapa aku harus marah?" "Lalu, kenapa tadi kau diam?" "Memangnya kalau diam itu berarti marah?" "Bukankah biasanya memang begitu." 55 "Kau itu memang sok tahu." "Ketahuilah, Ra! Aku menjadi seperti itu karena kau tidak pernah mau berterus terang padaku." "Kak, aku benar-benar bingung. Jika aku berterus terus terang, kau selalu marah. Namun jika tidak, hasilnya akan sama juga." "Kapan kau pernah berterus terang padaku? Selama ini kau cuma berterus terang jika hal itu menyangkut kepentinganmu, namun jika itu menyangkut kepentinganku kau sama sekali tidak mau berterus terang? Ketahuilah, Ra! Biarpun aku ini hanya sebagai sahabat, sebetulnya aku sangat memerlukan perhatian darimu." "Kak, aku jadi demikian karena sebab kau mencintaiku. Aku khawatir keterusteranganku yang sesungguhnya bisa membuatmu salah tanggap." "Apa kau pikir selama ini aku tidak salah tanggap lantaran kau tidak pernah berterus terang padaku?" "Hmm... ini memang sulit. Andai kau tidak mencintaiku tentu tidak akan sesulit ini jadinya." 56 "Kalau begitu, kenapa kau tidak mencintaiku saja?" "Apa kau bilang? Enak saja kau bicara begitu, kenapa bukan kau saja yang tidak usah mencintaiku?" "Itu tidak mungkin, Ra. Bagaimana mungkin aku bisa membohongi perasaanku sendiri." "Begitu juga aku, Kak." "Tidak... itu berbeda, Ra. Kau tidak mencintaiku karena kau belum mengenal aku dengan baik, sedangkan aku mencintaimu karena aku sudah menerimamu apa adanya. Tindakanmu karena ego sedangkan aku karena kata hati." "Kenapa kau bisa menyimpulkan demikian?" "Pikir saja sendiri, kau itu kan manusia yang sudah dikaruniakan akal yang bisa kau gunakan untuk menemukan jawaban." "Hmm... aku rasa itu bukan lantaran kata hati, namun karena egomu yang begitu terobsesi denganku sehingga kau menjadi tidak peduli dengan perasaanku." 57 Mendengar itu, Randy langsung menarik nafas panjang. "Baiklah... terserah bagaimana kau mau menilai." Setelah Randy bicara begitu, keduanya tampak diam. Entah apa yang ada di benak kedua anak manusia itu sehingga mereka tidak mampu lagi berkata-kata, hanya bola mata keduanya yang tampak saling mengamati satu sama lain. Keadaan itu terus berlanjut hingga akhirnya Bobby dan Nina kembali ke tempat itu. "Eh, ada apa ini? Kenapa dengan kalian?" tanya Bobby ketika melihat wajah Randy dan Lara tampak berubah. "Bob! Sebaiknya sekarang aku kembali ke villa saja." "Lho... bukankah kita tadi mau naik ke puncak pas." "Maaf, Bob. Kini aku sudah tidak bersemangat lagi, kalian bertiga saja yang naik." 58 "Hmm... jadi benar dugaanku, kalau saat ini sudah terjadi sesuatu di antara kalian. Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kita sama-sama kembali ke villa." "Sudahlah, Bob! Kalian pergi saja, aku tidak apa-apa kok." "Tidak, Ran. Aku bukan orang yang seperti itu. Bagaimana mungkin aku bisa bersenang-senang tanpa kehadiranmu." "Hmm... baiklah kalau begitu, sebaiknya aku memang tidak usah kembali ke villa. Ayo teman-teman, mari kita nikmati malam ini dengan penuh suka cita." "Nah, begitu dong," ucap Bobby senang. Lantas keempat muda mudi itu segera masuk ke mobil dan melaju menuju puncak pas. Namun belum sempat mereka sampai ke tempat tujuan, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi disalip oleh beberapa mobil polisi dan dipaksa untuk menepi. "Angkat tangan dan jangan coba-coba melawan!" kata seorang polisi tegas. 59 Ke empat muda-mudi itu segera menurut, kemudian mereka diminta keluar dan segera berdiri menghadap ke mobil. Pada saat itu Bobby dan Randy langsung diborgol dan dimasukkan ke mobil polisi. Sementara itu, Lara dan Nina tampak ditanyai oleh salah seorang polisi. "Kalian berdua ini siapa?" tanya polisi itu. "Ka-kami ini teman mereka, Pak. Na-namun kami ini tidak tahu apa-apa," jawab Lara ketakutan. "Sudah saya duga, kalian memang tidak tahu apa-apa." "Eng, maaf Pak! Kalau boleh saya tahu apa kesalahan mereka?" tanya Lara memberanikan diri. "Mereka diduga terlibat dalam usaha penipuan yang sangat serius. Dan karenanyalah kami harus membawa mereka untuk diperiksa secara intensif." "Eng... apakah kami juga akan dibawa, Pak?" tanya Lara lagi. "Tentu saja, kami kan perlu mendata kalian. Setelah itu kalian boleh pergi kapan saja kalian mau." 60 "Lapor Pak! Mobil itu bersih, tidak ada sesuatu pun yang mencurigakan," lapor seorang polisi tiba-tiba kepada polisi yang ternyata atasannya itu. Setelah atasan polisi itu memberikan instruksi kepada bawahannya, dia pun mengajak Lara dan Nina untuk ikut bersamanya. Tak lama kemudian, mereka berangkat bersama-sama menuju kantor polisi. Setelah dilakukan pendataan, akhirnya keduanya dipersilakan pergi. Dalam perjalanan pulang, Lara dan Nina terus memikirkan kejadian yang baru mereka alami. Sungguh keduanya tampak begitu terpukul dan sulit untuk bisa mempercayainya-bagaimana mungkin kedua pemuda sebaik mereka telah melakukan tindak kejahatan. Seminggu kemudian, Lara mendapat telepon dari seorang pemuda yang sudah sangat dikenalnya. Pemuda itu ternyata si Randy yang mengabarkan 61 kalau dia dan Bobby sudah dibebaskan karena terbukti tidak bersalah. "Begitulah, Ra. Aku betul-betul bersyukur karena bisa dibebaskan." "Kak, sebetulnya apa yang telah terjadi?" "Kami ini cuma diperalat orang, Ra. Aku sungguh tidak menduga kalau ternyata rekan bisnisku itu seorang penipu. Ups! Maaf, Ra! Sudah dulu ya, aku harus segera pergi. Lain waktu akan kuhubungi lagi. O ya, Nina juga kenal dengan penipu itu. Bilang saja pemuda yang dia kenal di hotel saat malam pertama dia jadian dengan Bobby. Sudah ya, bye...!" Setelah menutup telepon, pikiran Lara langsung tertuju kepada peristiwa yang telah lewat, yaitu di malam ketika Bobby dan Nina jadian. "Mmm... jadi, malam itu mereka ke hotel. Tapi, kenapa Nina tidak cerita? Kenapa waktu itu dia bilang setelah pulang jalan-jalan di taman tidak ada lagi kejadian yang istimewa. Ja-jangan-jangan..." Saat itu juga Lara langsung teringat dengan alur cerita yang pernah dibuatnya. "Huh, sudahlah... aku tidak mau ambil pusing. Saat itu kan mereka sudah 62 jadian, dan jika mereka memang melakukannya, itu bukan urusanku. Tapi, bukankah malam itu mereka baru jadian. Sungguh sepupuku itu memang gadis yang gampangan, baru kenal mau saja diajak begituan." Perasaan sedih, prihatin, cemburu, dan sakit hati, semua jadi satu dalam benak gadis itu. Sungguh dia tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada sepupunya itu, haruskah ia mengasihaninya atau malah membencinya. Setelah merenung agak lama, akhirnya gadis itu bisa mengambil sikap. Ketidakpedulian, itulah sikap yang dipilihnya karena diyakini bisa meredam gejolak batinnya saat itu. Sementara itu di tempat lain, Bobby tampak sedang melamunkan sang Pujaan hati. Saat itu dia sedang mengingat kembali kenangan indah ketika bersamanya di villa. Selama berada di tempat itu mereka sering berduaan, berbagi kasih dan bermanja-manja. Dan karena itulah, cintanya kepada Nina semakin lekat di hati. Walaupun terkadang sikap Nina sering membuatnya bingung, namun pemuda itu tidak 63 mempersoalkannya. Baginya gadis itu tetaplah gadis yang baik dan sangat pengertian, dan yang terpenting baginya adalah mereka bisa terus bersama untuk saling mencintai. Esok harinya, Bobby tampak sedang bersama sang kekasih di dalam mimpinya, sebuah mimpi yang tidak biasa dan membuatnya tiba-tiba saja terjaga dari tidurnya. "Ya Tuhan mimpi apa aku barusan?" tanya pemuda itu dalam hati. Lantas dengan segera dia duduk di tepian ranjang dan kembali mengingat mimpinya barusan. Mimpi itu betul-betul membuatnya tidak nyaman. "Tidak... aku tidak mau itu terjadi," kata Bobby seraya beranjak bangun dan bergegas menuju ke rumah kekasihnya. Setibanya di sana, pemuda itu terkejut bukan kepalang. Saat itu dia melihat kekasihnya sedang terbaring di tempat tidur dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. 64 "Ka-Kak Bobby...!" panggil Nina seraya menatap pemuda itu dengan sorot mata yang begitu pudar, bibirnya tampak bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu. Melihat itu, Bobby segera menghampiri dan berusaha mendengar apa yang hendak dia katakan. "K-Kak... k-kau sudah bebas? A-aku bahagia sekali melihatmu, Kak," kata Nina lagi dengan suara yang membuat pemuda itu serasa ingin menangis. "O-o ya, Kak. Bi-bisakah ka-kau menolongku?" lanjutnya kemudian. "Apa yang harus aku lakukan, Sayang?" tanya Bobby tidak mengerti. "To-tolong ca-carikan a-aku putaw, Kak!" pinta gadis itu terbata. Betapa terkejutnya Bobby begitu mengetahui kalau kekasihnya ternyata sedang mengalami sakaw berat. "Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan. Haruskah aku mencarikannya benda laknat itu. Haruskah aku terlibat dan menuruti permintaannya?" 65 Ataukah kudiamkan saja kekasihku yang sedang menderita ini?" tanya pemuda itu dalam hati. Batin pemuda itu terus bergejolak, di antara kesedihan akan kekasihnya yang begitu menderita dan keterlibatannya akan dosa. "Ti-tidak... aku tidak akan mencarikan benda sialan itu untuknya." Kini pemuda itu mendekap erat kekasihnya yang saat ini tengah kesakitan. Tubuhnya menggigil dengan mulut yang terus bergumam dengan terbata-bata. Entah apa yang dikatakannya barusan, sungguh sulit untuk dipahami. Kini Bobby memandang wajah kekasihnya yang tampak pucat, lalu menatap kedua matanya yang kosong-seolah kedua matanya itu bicara kalau saat ini dia sedang tak berdaya dan sangat mengharapkan bantuannya. Untuk lebih meyakinkan, gadis itu pun mencoba tersenyum, sebuah senyuman yang tampak dingin, namun penuh dengan makna perharapan. Bobby terus memandang wajah manis yang selama ini membuat hatinya begitu damai. Namun tidak untuk saat ini, karena wajah yang dilihatnya 66 sekarang ini sungguh membuat hatinya benar-benar sedih. Seketika pemuda itu membatin, mempertanyakan semua itu, "Sayang... kenapa hal ini harus terjadi padamu. Kenapa kau sampai bisa terjerat benda haram itu?" Mendadak air mata pemuda itu berlinang, saat itu dia melihat kekasihnya kembali merintih-merasakan penderitaannya yang amat sangat. Bibirnya bergetar dengan mata yang menatapnya begitu dalam-seolah memohon belas kasihnya. Saat itu air mata Bobby langsung menetes, dan seketika itu pula dia langsung mengecup kening kekasihnya. "Bertahanlah, Sayang... aku akan selalu bersamamu di sini," ucap pemuda itu seraya menatap kekasihnya lagi. Nina kembali merintih, saat itu tubuhnya tampak semakin menggigil dengan kepala yang bergerak tidak karuan. Melihat itu, Bobby pun mencoba untuk menenangkannya. Namun semakin dia berusaha, semakin keras pula usaha Nina untuk berontak. Saat itu, erangan dan rintihan yang keluar dari mulut Nina sungguh membuat pemuda itu kian bertambah sedih. 67 Dan karena tak tahan melihat kekasihnya itu terus menderita, akhirnya dia memutuskan untuk melibatkan diri dengan benda mematikan itu. "Sayang... bertahanlah, aku akan pergi mencarikannya untukmu," ucapnya seraya menggenggam erat tangan kekasihnya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Saat itu Nina memandangnya dengan pandangan yang seolah mengiyakan, dan di bibirnya lagi-lagi tersungging sebuah senyuman dingin. Melihat itu, Bobby tak mau membuang waktu lagi, lalu dengan segera dia pergi menemui temannya yang juga seorang pemakai. Tak lama kemudian, Bobby sudah kembali dengan membawa barang haram itu. Kini pemuda itu sudah berada di sisi kekasihnya dan langsung memberikan benda berbahaya itu. "Ini Sayang... Inilah benda yang kau butuhkan saat ini," ucap pemuda itu seraya menggenggam erat jemari kekasihnya dan mengecup keningnya mesra. Setelah itu Bobby terdiam, dia menunggu apa yang hendak Nina lakukan. Tak lama kemudian dia 68 melihat kekasihnya itu tampak mengambil sedikit serbuk putih dan mencairkannya, kemudian dengan perlahan dimasukkannya ke dalam alat suntik yang sudah tersedia. Dan setelah mengikat lengannya, juga sudah meyakini bahwa tidak ada udara pada tabung suntiknya, gadis itu pun segera menyuntikkan cairan laknat itu memasuki urat nadinya. Tidak sampai di situ saja, kini gadis itu terlihat sedang menyedot darahnya menggunakan alat suntik itu hingga penuh dan kemudian memasukkannya kembali ke urat nadinya. Hal itu terus dilakukannya sampai beberapa kali hingga membuat Bobby betul-betul merasa ngilu dibuatnya. Setelah berapa lama kemudian, Bobby melihat kekasihnya itu semakin tenang, hingga akhirnya gadis itu sudah kembali seperti sedia kala, yaitu kembali menjadi gadis yang selama ini dia kenal. "Sayang... " ucap Bobby lembut kepada Nina yang baru saja menyimpan kelebihan benda yang sangat mematikan itu. 69 Saat itu Nina langsung tersenyum, sebuah senyuman manis yang selalu membuat Bobby bahagia. "Ada apa, Kak?" tanyanya kemudian. "Kau sudah baikan, Sayang?" tanya Bobby memastikan. Nina mengangguk, "Terima kasih ya, Kak! Kau sudah memberikan apa yang sudah menjadi kebutuhanku," katanya seraya memeluk pemuda itu dengan pelukan yang begitu hangat. "Ketahuilah, Sayang... aku melakukan itu karena terpaksa. Terus terang, aku tidak tahan melihatmu menderita. Aku rasa kini sudah saatnya kau meninggalkan benda haram itu dan kembali ke jalan yang lurus. Mmm... bagaimana kalau besok kita pergi ke dokter untuk mengobati kecanduanmu itu, terus terang kau perlu menjalani rehabilitasi, Sayang... " "Tapi Kak... " Belum sempat Nina berkata lebih lanjut, Bobby sudah menutup bibir gadis itu dengan jari telunjuknya. "Sudahlah sayang... ! Tidak ada kata 'tapi' untuk perkara ini. Demi kebaikanmu kau harus mau menuruti apa yang sudah kukatakan tadi. Nanti, 70 jika orang tuamu pulang, biarlah aku yang bicara pada mereka. Aku yakin, mereka pun menghendaki agar kau sembuh dan kembali hidup normal. Karenanyalah kau jangan mengkhawatirkan macam-macam, sebab mereka tentu bisa mengerti kalau kau hanyalah korban." Setelah mendengar penjelasan itu, akhirnya Nina mau juga menuruti keinginan Bobby. Saat itu Bobby betul-betul bahagia karena kekasihnya mau kembali ke jalan yang lurus, kemudian dengan penuh kasih sayang pemuda itu segera mengecup kening kekasihnya dan memeluknya erat memberi kedamaian. Esok harinya menjelang senja, Bobby kembali menemui kekasihnya. Dan ketika tiba di sana, pemuda itu tampak terkejut bukan kepalang. Saat itu dilihatnya orang-orang tampak ramai, berkumpul di halaman rumah Nina. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah bendera kuning yang terpasang di muka rumah. Seketika itu juga hati Bobby jadi tidak 71 karuan, sungguh saat itu dia benar-benar khawatir kalau sesuatu yang buruk telah menimpa kekasihnya. Karena penasaran, Bobby pun segera memasuki rumah dan memastikan apa yang tengah terjadi. Benar saja, ternyata kekasihnya memang telah tiada, gadis yang begitu dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya. Kini Bobby sedang menangis di sisi jenazah kekasihnya, saat itu dia melihat wajah kekasihnya tampak pucat dan dengan tubuh yang terbujur kaku. "Ya Tuhan, kenapa kau panggil dia begitu cepat? Padahal dia sudah berjanji akan menjalani rehabilitasi dan akan kembali ke jalan yang lurus," kata pemuda itu membatin. Air mata Bobby terus berderai, saat itu hatinya betul-betul sedih karena ditinggal oleh kekasihnya dengan cara yang mengenaskan seperti itu. "Ya Tuhan... Ampunkanlah aku. Semua ini karena salahku, akulah yang telah memberikan benda haram itu kemarin. Dan karenanyalah dia menjadi seperti ini. Seharusnya. seharusnya... Tidak! Semua sudah 72 terlambat, kusesali bagaimanapun tak ada gunanya," kata pemuda itu kembali membatin. Kini Bobby kembali menatap jenazah kekasihnya yang tampak pucat, dan lagi-lagi air matanya kembali berderai. Padahal, kemarin wajah itu tampak begitu ceria, disaat barang haram itu mengalir di urat nadinya. Namun, saat ini wajah itu tampak begitu pucat, dimana darah sudah tak lagi mengalir. Dimana nyawa sudah lepas dari raganya. "Oh Tuhan, ampunilah dia dan terimalah dia di sisi-Mu. Dia memang telah berdosa, namun semua itu bukan semata-mata kesalahannya. Tapi... itu kesalahan orang-orang di sekitarnya, termasuk aku. Lingkunganlah yang telah membuatnya jadi demikian, dan ilmu yang tak sampai kepadanya," ucap Bobby dalam hati. Lalu dengan penuh kesedihan, pemuda itu akhirnya melangkah meninggalkan jasad kekasihnya. Menyendiri dan mengambil hikmah dari semua itu. Sungguh tindakan yang diambilnya waktu itu telah membuatnya betul-betul menyesal, dan sikap 73 penyayang yang tidak pada tempatnya pun telah membuatnya benar-benar merasa sangat berdosa. Andai saat itu dia mau mendengarkan hati nuraninya, mungkin kekasihnya akan selamat. Namun sayangnya, saat itu setan berhasil memperdayanya dengan bisikan yang sepertinya benar tapi pada kenyataannya tidak. Esok harinya, Bobby terlihat berlutut di makam kekasihnya yang saat itu diteduhi oleh rindangnya pohon kamboja, saat itu air matanya tampak berderai-mengalir hingga ke celah bibirnya. Sementara itu dari atas makam, bunga-bunga yang berwarna putih tampak berguguran di sekitar makam -seolah ikut berduka, merasakan betapa pilunya telah ditinggal oleh sang kekasih untuk selama-lamanya. Bobby masih terus berlutut, hanyut di dalam penyesalan dan berharap Tuhan mau mengampuni gadis yang begitu dicintainya. 74 Sementara itu, tak jauh dari tempat itu terlihat seorang gadis yang berdiri memperhatikannya. Dialah Lara yang belum lama tiba, di tangannya tampak tergenggam seikat bunga yang akan dipersembahkan untuk Nina. Pada saat itu, Lara pun ikut larut dalam kesedihan, merasakan apa yang dirasakan Bobby. Air matanya tampak berderai kala mengingat sepasang kekasih itu begitu serasi-berbahagia dalam keintiman yang diduga akan terus berlanjut hingga masa tua dan akhir hayat mereka. Namun ternyata, takdir Tuhan memang harus demikian. Selama manusia tidak mau berusaha untuk memilih yang terbaik, maka keputusan-Nya yang bijaksana adalah membiarkan takdir itu sebagaimanamestinya, yaitu sesuai dengan apa yang sudah digariskan sejak awal penciptaannya agar menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mau berpikir. Kini Gadis yang bernama Lara itu tampak melangkah menuju makam, lalu berlutut di samping Nisan-berhadapan dengan Bobby yang masih saja bersedih. Setelah meletakkan bunga yang dibawanya, 75 gadis itu tampak berdoa. Pada saat itu Bobby sempat memperhatikannya, dilihatnya wajah yang cantik itu larut dalam duka. Ketika Bobby masih memperhatikan wajah itu, tiba-tiba saja Lara memandangnya, saat itu kedua matanya yang basah tampak menatap dalam, dalam sekali. Seakan kedua mata itu bicara-mengakui segala kesalahannya. "Kak Bobby... Ma-maafkan aku! Se-sebenarnya akulah yang telah menyebabkan semua ini," ungkap gadis itu seraya menundukkan kepalanya. "Bukan kau Lara, tapi aku. Akulah yang telah menyebabkan semua ini. Andai hari itu aku tidak menuruti keinginannya, dia mungkin akan selamat." Lara kembali memandang Bobby. "Apa maksud kata-katamu itu, Kak?" tanyanya kemudian. "Ra, sesungguhnya ..." Bobby pun segera menceritakan peristiwa yang membuatnya terpaksa memberikan benda haram itu. "Dengar, Kak! Kau sama-sekali tidak bersalah, andai aku berada di posisimu saat itu aku pun pasti akan melakukan hal serupa. Aku mengerti, kau 76 melakukan itu karena kau menyayanginya, dan kau tidak tega karena melihatnya menderita. Sesungguhnya, akulah yang bersalah karena telah memperkenalkannya dengan Henky sehingga dia menjadi seperti ini." "Henky... ? Siapa pemuda itu? Berani sekali dia mencekoki Nina dengan barang laknat itu. Jika nanti aku berjumpa, pasti akan kuberi pelajaran padanya." "Percuma, Kak. Dia pun sudah meninggal karena over dosis." "Benarkah?" tanya Bobby seakan tak mempercayainya. "O ya, Ra. Ngomong-ngomong, kenapa kalian sampai bergaul dengan orang seperti itu?" tanyanya kemudian. "Ketahuilah, Kak! Sebenarnya Henky pun hanyalah korban. Selama ini aku tetap berteman dengannya karena aku peduli, aku menduga kalau aku memberikan perhatian padanya, suatu saat dia akan sadar dan meninggalkan semua itu. Tapi ternyata, semua usahaku sia-sia dan justru melibatkan Nina dengan benda biadab itu. Sungguh 77 semua itu karena kesoktahuanku. Semula kupikir Nina gadis yang kuat dan tidak mungkin akan terpengaruh, tapi ternyata dia begitu mudahnya untuk terpengaruh." "Hmm... sudahlah, Ra! Kita jangan terlalu memikirkan hal itu! Kita ini hanyalah manusia yang memang sering keliru dalam menentukan sikap. Sehingga apa yang semula kita anggap baik, pada akhirnya justru menimbulkan petaka." "Kau benar, Kak. Sebaiknya kita jangan terus hanyut dalam penyesalan, namun yang lebih utama adalah mengambil hikmah dari peristiwa ini dan terus berusaha untuk tidak mengulanginya lagi." Setelah berkata begitu, Lara segera bangkit dan mengajak Bobby untuk meninggalkan tempat itu. Kini kedua muda-mudi itu terlihat sudah melangkah di sela-sela pemakaman hingga akhirnya menghilang di kejauhan. 78 Dua bulan kemudian, di sebuah kamar yang cukup besar. Lara terlihat sedang melamun di atas tempat tidurnya. Semenjak kematian Nina, gadis itu seolah mendapat kesempatan untuk bisa bersama Bobby-pemuda tampan yang begitu dicintainya. Di dalam benaknya, gadis itu ingin sekali untuk segera mengungkapkan perasaannya yang selama ini terpendam. Bagaimana selama ini dia selalu mendambakan perhatian dan kasih sayang dari belahan jiwanya, seperti yang selama ini sering dilihatnya telah dilakukan Bobby kepada Nina. Namun karena sesuatu hal, akhirnya dia pun merasa ragu. "Ti-tidak! Aku tidak mau mempunyai suami seperti dia. Biarpun dia baik, tapi perbuatannya di hotel bersama Nina tidak mungkin bisa kumaafkan. Tapi... " Saat itu Lara betul-betul sedang mengalami situasi yang sulit, di mana ego dan hati nuraninya terus bertarung dengan berbagai argumen yang membuat akalnya kian kewalahan. Saat itu, pikirannya sudah benar-benar buntu dan membuatnya tidak bisa mengambil putusan dengan baik. "Hmm, sudahlah.... 79 sebaiknya sekarang aku sholat Ashar dulu," pikir Lara seraya bergegas menunaikan sholat. Usai sholat, gadis itu langsung merebahkan diri di tempat tidur. Namun belum sempat gadis itu memejamkan mata, tiba-tiba dia mendengar bel rumahnya berbunyi. Saat itu Lara tidak mempedulikannya, dia malah memejamkan mata dan menutup kepalanya dengan bantal. "Non Lara! Di luar ada Den Bobby dan Den Randy... katanya mereka mau bertemu dengan Non," seru pembantu Lara dari balik pintu. Mengetahui itu, Lara buru-buru bangun dan beranjak menemui keduanya. Kemudian dengan penuh kehangatan, dia mempersilakan mereka memasuki ruang tamu yang nyaman. Di ruangan itulah mereka berbincang-bincang dengan penuh keakraban. Membicarakan berbagai hal yang menarik. Mereka terus berbincang-bincang, hingga akhirnya perbincangan itu terhenti karena azan Magrib yang berkumandang. Saat itu Bobby langsung beranjak dari 80 duduknya. "Ran! Yuk kita sholat dulu!" ajak Bobby kepada Randy. "Males ah," Randy menolak. "Hmm, baiklah... kalau begitu aku ke masjid dulu ya." Pamit Bobby kepada Randy dan Lara. Pada saat itu, Lara benar-benar sudah dibuat bingung dengan segala kelakuan Bobby. Selama ini dia mengenal Bobby memang sebagai seorang yang taat beribadah, namun kenapa pemuda seperti itu bisa sampai melakukan perbuatan yang menurutnya sangat tidak patut. Setelah Bobby melangkah pergi, Randy dan Lara kembali melanjutkan perbincangan. Kini mereka tampak membicarakan berbagai hal yang sekiranya menarik untuk dibicarakan. Pada saat itu, sebenarnya Lara sama sekali tidak mengharapkan kalau Randy masih berada di ruang tamunya. Dalam hati, gadis itu merasa tidak pantas lantaran menemani seorang pria di saat dia harus menghadap Tuhan-nya. Sebenarnya bisa saja dia meninggalkan pemuda itu. Namun karena dia tidak mau menyakiti perasaannya, akhirnya 81 dia pun memilih untuk tetap bersamanya. Sungguh dia tidak mau hal yang pernah terjadi di villa terulang lagi, dimana kini dia mulai memahami watak pemuda itu. Betapa sifat kewanitaannya yang sangat berperasaan itu telah membuatnya sulit untuk mengambil sikap, sungguh dia itu memang gadis lemah yang tak berani menghadapi kebenaran yang terkadang memang harus menyakitkan. Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincang, hingga akhirnya Bobby kembali dari Masjid dan langsung menyampaikan maksud hatinya. "Begitulah, Ra. Aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini," jelas Bobby mengabarkan perihal SMS yang mengabarkan kalau teman lamanya mau datang berkunjung ke rumahnya. Mengetahui itu, Lara pun bisa memaklumi. Sepeninggal orang yang dicintainya, Lara kembali berbincang-bincang dengan Randy. Hingga akhirnya waktu sholat magrib pun habis dan Lara sama sekali tidak sempat menunaikannya. Pada saat itu Lara sungguh heran dengan sikap Randy yang demikian, 82 jika pemuda itu memang mencintainya kenapa dia tidak mau mengerti dan senantiasa menghormati gadis yang dicintainya. Dan karena ulahnya itu, Lara terpaksa menanggung dosa karena tidak menunaikan kewajibannya. Hingga akhirnya, Lara pun semakin tambah tidak simpati. Randy yang pada saat itu tidak peka mengenai perasaan Lara membuatnya justru merasa diizinkan untuk terus berlama-lama. Dalam hati, pemuda itu merasa kalau Lara adalah wanita yang mulai mengerti dirinya. Bahkan dia menduga kalau Lara pun seperti dirinya, yang terkadang malas menunaikan sholat lantaran belum bisa menikmatinya. Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincang hingga akhirnya jam dinding berdentang sembilan kali menandakan kalau waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 malam. "Wah, sudah jam sembilan. Kenapa waktu begitu cepat berlalu ya? Hmm... Apa mungkin lantaran aku sedang bersamamu, sehingga aku merasa senang dan akhirnya waktu pun berlalu dengan begitu cepat." 83 Mendengar itu Lara sangat sependapat, memang hal itulah yang membuat pemuda itu merasa demikian. Tidak seperti yang sedang dirasakannya kini, perasaan jenuh yang membuatnya merasakan waktu justru menjadi sebaliknya. "Ra... Bolehkah aku terus bersamamu hingga jam sepuluh?" tanya Randy kemudian. "Jangan kan jam sepuluh, Kak. Lebih dari itu pun aku tidak keberatan," kata Lara berbasa-basi. "Benarkah? Biarpun sampai jam dua belas malam." "Ya, sampai jam dua belas sekalipun." "Tidak, Ra. Aku tidak akan sampai jam dua belas, aku akan sampai jam sepuluh saja. Apa kata tetanggamu nanti kalau aku pulang selarut itu." Mendengar itu, Lara cuma bisa menarik nafas panjang. Kenapa pemuda itu masih juga tidak mengerti akan arti kata basa-basi yang telah dilontarkannya. Padahal saat itu dia ingin sekali agar pemuda itu cepat pulang sehingga penderitaannya cepat berlalu karena tidak harus terus menemaninya. 84 Dan karena sudah terlanjur berbasa-basi, akhirnya dia pun terpaksa harus merasakan penderitaan itu hingga jam sepuluh nanti. Esok harinya, Lara tampak sedang merenung di balkon rumahnya. Setelah menimbang sekian lama, akhirnya Lara memutuskan untuk menyatakan cinta. Kini dia sudah tidak peduli lagi dengan peristiwa malam itu, yang terpenting dia bisa bahagia bersama orang yang dicintainya. Saat ini pun dia sedang mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. "Emm... kapan ya? O ya, hari Valentine kan tidak lama lagi. Kenapa tidak saat itu saja aku mengungkapkannya," gumam Lara dengan mata berbinar, saat itu di benaknya terbayang sudah bagaimana Bobby menerima cintanya dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Mendadak wajah gadis itu berubah serius. "Tapi, bagaimana jika Bobby tak mencintaiku? Hmm... 85 apakah waktu dua bulan itu tidak terlalu cepat baginya untuk melupakan Nina," gumamnya seraya kembali berpikir. "Ah, aku rasa tidak. Biasanya kan lelaki memang seperti itu, begitu mudahnya melupakan seseorang yang semula dicintainya. Buktinya banyak kok laki-laki yang baru putus dan dalam tempo yang tidak terlalu lama sudah mendapat gantinya." Gadis itu terus memikirkan Bobby, hingga akhirnya dia mendengar dering HP yang cukup keras. "Ya, siapa nih?" tanyanya kepada orang yang meneleponnya. "Ini aku, Ra. Randy... " "O, Kak Randy. Ada apa, Kak?" tanya Lara. "Eng, begini Ra. Sebetulnya aku mau mengajakmu makan. Kau mau kan?" "Kapan, Kak?" tanya Lara lagi. "Besok malam," jawab Randy. "Aduh, maaf Kak! Kalau besok malam aku tidak bisa." "Kenapa?" tanya Randy dengan nada kecewa. "Aku ada janji dengan seseorang," jawab Lara. 86 "Siapa?" tanya Randy lagi. "Teman dekatku," jawab Lara singkat. "Pria apa wanita?" "Aduh, Kak. Kau ini seperti polisi saja, masa kau mau tahu sampai sedetail itu." "Sudahlah, Ra! Jawab saja, pria apa wanita?" "Hmm... baiklah. Dia itu pria, namanya Hendry. Tinggal di Jl. Merpati putih. No.10 Golongan darah B. Status belum kawin. Sudah bekerja di sebuah perusahaan jasa. Bagaimana, apa masih ada yang kurang?" "Sudah, Ra. Aku rasa cukup." "O ya, dia itu sudah punya pacar namanya Silvy. Pacarnya itu teman dekatku, dan dia tinggal di Jl. Melati putih No.12 Golongan darah A. Selama ini..." "Sudah, sudah! Aku bilang cukup!" potong Randy yang tidak mau mendengar hal itu lebih lanjut. "Kenapa, Kak? Bukankah dengan begitu kau akan lebih puas." 87 "Sudahlah, Ra! Aku tidak mau membahas itu lagi. Baiklah kalau memang kau tidak bisa. Emm... bagaimana kalau lusa?" "Lusa, aku juga tidak bisa, Kak." "Kenapa?" tanya Randy. "Aku juga sudah ada janji," jawab Lara. "Dengan siapa?" tanya Randy lagi. "Teman dekat," jawab Lara singkat. "Laki-laki, apa... Ups! Sudahlah lupakan saja. Kalau kau memang tidak bisa bagaimana kalau minggu depan, saat hari Valentine?" "Maaf, Kak. Sepertinya aku juga tidak bisa." "Jadi, kau juga sudah ada janji?" Lara tidak segera menjawab. Saat itu dia betul-betul bingung harus menjawab apa, sebab hari itu adalah saat dia akan mengungkapkan isi hatinya kepada Bobby. Dalam hati, gadis itu merasa benar-benar jengkel dengan sikap Randy yang seperti itu. "Huh, dari dulu pria itu selalu mau tahu saja urusan orang. Memangnya aku ini siapanya dia, aku ini kan 88 cuma temannya. Aku heran, kenapa dia merasa begitu berhak mengetahui segalanya." "Hallo! Kok diam, Ra?" "Sudahlah, Kak! Maaf kalau aku tidak bisa mengatakannya." "Ayolah, Ra! Katakan saja!" "Baiklah, Kak. Agar kau puas, kini aku akan mengatakan hal yang sebenarnya," kata Lara seraya mengatakan hal yang sebenarnya. Hingga akhirnya, "Nah... kuharap kini kau bisa mengerti, Kak!" "Baiklah, Ra. Aku bisa mengerti kok. Kini aku sadar kalau aku memang tidak mungkin bisa menghalangi keinginanmu itu. Namun, ijinkan aku untuk mengutarakan satu permintaan padamu." "Baiklah, Kak. Katakanlah!" Randy pun segera mengatakan permintaannya itu. "Nah, aku harap kau mau mengabulkannya, Ra." "Kak, aku mencintainya. Tanpa kau memintanya pun, aku pasti akan melakukan itu. Sudah ya, Kak. Aku sudah mengantuk sekali nih. Bye... " ucap Lara seraya memutuskan hubungan. Lantas gadis itu 89 bergegas ke kamar mandi untuk berkemas-kemas. Setelah itu dia segera merebahkan diri dan memikirkan Bobby. Lama juga dia melamunkan pujaan hatinya itu hingga akhirnya dia terlelap bersama mimpi-mimpinya. Malam Valentine yang ditunggu Lara akhirnya tiba. Kini dia dan pemuda yang dicintainya itu tampak duduk di sebuah bangku taman, bersama-sama menikmati malam yang indah-malam yang dipenuhi oleh berbagai hal romantis. Bulan yang bersinar cerah, bintang-bintang yang gemerlap, lampu-lampu taman yang temaram, dan juga tumbuhan yang menari-nari tertiup angin sepoi-sepoi. Segala hal romantis itu bisa terwujud karena usaha Lara yang gigih demi mengajak orang yang dicintainya agar mau memenuhi undangannya. "Terima kasih karena kau mau memenuhi undanganku, Kak!" ucap Lara. 90 Bobby tersenyum. "O ya, ini cokelat dan bunga untukmu," kata Bobby seraya menyerahkan kedua benda yang ada di tangannya. Saat itu Lara betul-betul terharu karena dia sama-sekali tidak menyangka kalau Bobby ternyata sangat perhatian padanya. Dan seketika itu juga air matanya berlinang, tak kuasa menahan keharuan yang amat sangat. "Terima kasih, Kak!" ucap gadis itu seraya mencoba tersenyum. "O ya, aku juga mau memberikan sesuatu untukmu," kata gadis itu seraya mengambil sebuah bingkisan yang ada di dalam tasnya dan memberikannya kepada Bobby. "Apa ini?" "Bukalah, Kak...!" Lantas Bobby segera membuka kotak yang dibungkus dengan warna merah muda itu. Dan ketika mengetahui isinya dia pun langsung terkejut, ternyata di dalamnya terdapat cokelat spesial yang berbentuk hati dan bertuliskan aku mencintaimu. 91 Belum sempat Bobby berkata-kata, Lara langsung membuka suara, "Kak, a-aku mencintaimu," ungkap Lara dengan wajah yang merona merah. Bobby semakin terkejut dengan perkataan Lara barusan. "Ta-tapi, Ra..." Bobby menggantung kalimatnya. "Apa kau tak mencintaiku, Kak?" tanya Lara. "Eng... Entahlah... Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menjadi pacarmu. Sungguh aku tidak tahu bagaimana perasaan Randy jika sampai mengetahui hal ini. Ketahuilah, Ra! Randy itu sahabatku, dan aku betul-betul merasa tidak enak jika sampai melukai hatinya." "Randy sudah mengetahuinya, Kak. Dan dia tidak keberatan jika kita saling mencintai. Malah dia memintaku untuk senantiasa membahagiakanmu." "Benarkah?" "Iya, Kak. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja sendiri!" "Eng... baiklah... Kalau begitu aku akan segera menghubunginya." 92 Lantas dengan segera, Bobby mengambil HP dan menghubungi sahabatnya. "Hallo, Ran! Ini aku, Bobby." "Hi, Bob! Bagaimana kencanmu dengan Lara? Sukses?" "Ka-kau ternyata memang sudah mengetahuinya, ya?" "Tentu saja, Bob. Dan karenanyalah aku tidak keberatan ketika kau bilang tidak bisa ikut denganku karena ada urusan penting." "Maaf, Ran. Aku terpaksa tidak berterus terang karena tidak mungkin menceritakan hal sebenarnya." "Aku mengerti, Bob. Dan karenanyalah saat itu aku tidak berusaha mencegahmu. O ya, Bob. Sebetulnya aku mengetahui kalau Lara itu mencintaimu, yaitu sejak kita menginap di villa dulu. Dan karenanyalah, ketika Lara berterus terang akan mengungkapkan isi hatinya, aku pun berusaha untuk bisa mengerti. Semula aku memang sempat kecewa, namun pada akhirnya aku bisa mengikhlaskannya, kalau dia itu memang patut menjadi milikmu. 93 Karenanyalah, kau tidak sepatutnya menolak cinta gadis yang sudah betul-betul mencintaimu. Bahagiakanlah dia, sebagaimana aku juga meminta kepadanya untuk senantiasa membahagiakanmu." "Ran, benarkah semua kata-katamu itu?" tanya Bobby seakan tak percaya. "Bob, ketahuilah! Aku ini bukan anak kecil lagi, dan aku sudah betul-betul menyadari kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan. Lagi pula, dunia ini kan tidak selebar daun kelor. Masih banyak kok gadis lain yang bisa aku pacari." "Ran, kau ini tidak seperti Randy yang kukenal dulu. Apa mungkin kau bisa melupakan Lara begitu saja?" "Sudahlah, Bob. Percayalah...! Aku pasti tidak akan apa-apa." "Hmm... baiklah kalau begitu. Kau memang sahabatku yang pengertian, Ran. Dan karenanyalah aku patut berterima kasih padamu. Eng, kalau begitu sudah dulu ya. Soalnya Lara seperti sudah tidak sabar menunggu jawabanku." 94 Setelah menyimpan HP-nya, Bobby kembali bicara dengan Lara. "Kau benar, Ra. Sepertinya Randy memang sudah bisa menerimanya. Eng... kalau begitu, aku memang tidak sepatutnya menolak cintamu." "Benarkah yang kau katakan itu, Kak?" "Betul, Ra. Sesungguhnya aku pun sangat mencintaimu... Semenjak kepergian Nina, hanya kaulah yang bisa meluluhkan hatiku untuk kembali mencintai gadis lain." Mendengar itu Lara tampak bahagia sekali, "Oh, Kak. Aku tidak tahu harus berkata apa, yang jelas saat ini hatiku bahagia sekali." "Aku pun bahagia sekali, Ra. Eng... bagaimana kalau sekarang kita cari tempat yang enak untuk berbincang-bincang sambil menikmati makan dan minum!" Mengetahui ajakan itu, Lara langsung setuju. Lantas dengan segera keduanya melangkah menuju ke sebuah cafe yang tak begitu jauh. Dan di tempat 95 itulah keduanya kembali berbincang-bincang dengan penuh keintiman. 96 TIGA Setahun kemudian, setelah Bobby dan Lara menjalin cinta. Keduanya tampak sudah begitu lengket bak prangko dan amplopnya, bahkan saat ini mereka sedang berada di Yogyakarta untuk berlibur-menghilangkan semua kepenatan selama berada di Jakarta. Selain itu, mereka juga mau mengunjungi paman dan bibi Lara yang sudah lama menetap di kota itu. Setelah seharian penuh berada di rumah pamannya, akhirnya Lara mengajak Bobby ke luar kota untuk menikmati indahnya panorama alam. Kini sepasang kekasih itu sedang menikmati indahnya pemandangan yang berlatar belakang gunung Merapi. Sambil duduk di bawah rindangnya sebuah pohon besar, mereka tampak bercakap-cakap dengan penuh keceriaan. 97 "Kak, apa yang kau tulis?" tanya Lara seraya memperhatikan tulisan yang ditoreh di sebuah pohon besar. "Hihihi...! Kau ini seperti anak remaja saja pakai menulis seperti itu." "Hmm... apa aku tidak boleh mengungkapkan perasaanku dan mengabadikannya di batang pohon ini." "Boleh saja sih... tapi caramu itu kan bisa merusak keindahan tempat ini." "Sayang... sebenarnya aku menulis di batang pohon ini agar tak mudah hilang dimakan waktu, dengan harapan semoga cinta kita juga seperti itu." "Aku mengerti, Kak. Tapi, bukankah sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih bijaksana. Di atas sebuah benda seni yang dibuat sendiri misalnya." "Sungguh kau itu gadis yang menghargai alam, Sayang... Terima kasih karena sudah membuatku menyadari kalau keindahan alam ini memang perlu dilestarikan." 98 Kini pemuda itu menatap kekasihnya dengan penuh kebanggaan, saat itu dia menduga kepedulian Lara pada alam merupakan cerminan hatinya yang luhur. "Sayang... aku sangat mencintaimu," ucapnya seraya mencium gadis itu dengan penuh kasih sayang. Pada saat itu Lara merasakan ciuman itu lain dari biasanya, sebuah ciuman yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam. Sungguh terasa hangat dan menggetarkan kalbu, juga begitu membahagiakan bagai melayang di atas hamparan bunga warna-warni yang senantiasa harum semerbak. Sepulang dari tempat itu, Lara masih saja terbayang dengan ciuman yang tak kan pernah dilupakannya. Bahkan ketika mau tidur, gadis itu pun masih terus membayangkannya. Maklumlah, setiap kali dia teringat dengan ciuman itu, maka setiap kali itu pula dia merasakan hatinya terasa begitu berbunga-bunga. Rupanya saat ini dia benar-benar sudah terjerat oleh tali-tali asmara yang membawanya menuju kebahagiaan semu, yang mana jika jerat itu 99 putus maka kebahagiaan itu bisa berbalik menjadi sangat menyakitkan. Esok paginya, seusai sarapan nasi gudeg yang lezat, Lara dan bibinya langsung pergi ke pasar. Sementara itu di teras, Bobby tampak asyik berbincang-bincang dengan sang Paman yang mempunyai hobi memelihara burung perkutut dan ikan hias. Lama juga mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya Bobby bisa lebih memahami kedua hal itu. Puas membicarakan tentang hobi, mereka lantas mengganti topik yang agak lebih berat, yaitu mengenai politik dan agama. Dalam perbincangan itu, Bobby banyak sekali mendapat masukan yang sangat berharga. Saat itu, sang Paman pun terlihat senang lantaran mengetahui lawan bicaranya sangat berminat. 100 "Nak, Bobby. Tunggu sebentar ya! Paman punya sesuatu untukmu," kata sang Paman seraya melangkah ke kamar. Tak lama kemudian, sang Paman sudah kembali dengan membawa sebuah benda bulat sebesar bola kasti yang terbuat dari kuningan. "Ini, Nak. Terimalah!" Bobby segera menanggapi benda itu dan memperhatikannya dengan penuh seksama. Di sekeliling permukaan benda itu terdapat lubang-lubang yang berdiameter kurang lebih 5 inci. "Mmm... benda apa ini, Paman?" tanyanya kemudian. "Itu adalah bola teka-teki. Coba kau perhatikan lubang-lubang yang ada di sekelilingnya!" Bobby pun kembali memperhatikan lubang-lubang itu. "Sekarang, coba kau tiup lubang yang mana saja!" Bobby lantas menurut dengan meniup sebuah lubang, dan disaat yang sama terdengarlah bunyi sebuah nada. 101 "Sekarang, coba kau tiup dan sedot lubang yang di sebelahnya." Lagi-lagi Bobby menurut dengan meniup lubang yang dimaksud, namun kali ini bunyinya berbeda dengan nada yang tadi. Bobby pun mencoba menyedot lubang yang sama, dan ternyata bunyinya berbeda lagi dengan kedua nada yang didengarnya barusan. "Nah, Nak Bobby... aku rasa sekarang kau sudah mengerti kalau setiap lubang itu mempunyai nada yang berbeda-beda. Dan jika kau bisa meniup dan menyedotnya sesuai dengan urutan yang benar, maka kau akan mendapatkan sebuah irama yang sangat indah dan sekaligus membuat benda itu bisa terbelah dua. Dan kata orang yang dulu memberikannya kepadaku, di dalamnya terdapat pesan yang bisa membuat hidup ini menjadi lebih berarti. Benda ini sengaja kuberikan padamu karena aku sudah putus asa menemukan urutan nada yang benar." 102 "Tapi, Paman. Apakah aku bisa menemukan urutan nada yang benar itu?" "Mungkin saja. Karena ketika kita berbincang-bincang tadi, aku bisa menduga kalau kau ini mempunyai perasaan yang peka dan juga kemampuan menganalisa yang cukup baik. Karenanyalah aku merasa benda ini memang pantas diberikan padamu." "Kalau begitu terima kasih, Paman. Dan aku akan berusaha keras untuk bisa membukanya." Ketika mereka akan melanjutkan perbincangan, Lara dan bibinya sudah kembali. Pada saat itu sang Paman langsung mengajak istrinya ke dalam untuk membicarakan sesuatu yang penting. Sementara itu, Bobby dan Lara tampak berbincang-bincang mengenai rencana mereka hari ini. "Baiklah, usai makan siang nanti kita pergi membuat kerajinan perak," kata Lara menyetujui usul Bobby yang mau mengabadikan ungkapan perasaannya pada sebuah cincin perak yang akan 103 dibuatnya sendiri, yaitu di tempat kursus pembuatan kerajinan perak secara singkat yang ada di kota itu. Sepulang dari Yogyakarta, cinta Bobby dan Lara semakin dalam dan sudah begitu lekat bagaikan sticker yang menempel di kaca mobil. Keduanya terus menjalin cinta hingga akhirnya Bobby menyadari kalau persahabatannya dengan Randy terasa kian merenggang. Kini pemuda itu sedang berbicara dengan sahabatnya yang kini mulai menjaga jarak. "Ran, katakanlah! Kalau sesungguhnya kau masih mencintai Lara." "Sudahlah, Bob! Aku sadar kok kalau Lara itu memang bukan jodohku. Kan aku sudah bilang kalau dunia ini tidaklah selebar daun kelor, karena memang masih banyak gadis lain yang bisa aku pacari." "Tapi, Ran. Aku tahu betul, kau tidak semudah itu bisa pindah ke lain hati. Buktinya, berapa tahun kau bisa melepaskan Indah dari kehidupanmu hingga 104 akhirnya bisa mencintai Lara. Dan kau mencintai Lara karena dia itu mirip dengan Indah, iya kan?" "Kau itu sok tahu, Bob. Siapa bilang aku seperti itu. Aku percaya, jodoh, takdir, dan maut adalah sudah ditentukan Tuhan. Jadi, jika ternyata Lara memang bukan jodohku, aku rela dia jadi milik siapa saja." Mendengar itu Bobby langsung membatin, "Randy... mulutmu berkata begitu. Namun aku bisa menduga apa yang ada di hatimu, sesungguhnya kau sangat mencintainya dan berharap dia bisa menjadi milikmu. Buktinya selama ini kau sudah menjadi begitu berubah, kau lebih sering menyendiri dan jarang menemuiku. Ran... aku benar-benar merasa tidak enak karena harus berbahagia di atas penderitaanmu. Selama ini kau sudah begitu baik padaku, dan tidak sepantasnya aku membalas semua itu dengan menyakitimu. Aku berjanji, mulai detik ini aku akan melupakan Lara. Biarlah aku hidup dalam kesendirian demi kebahagiaanmu. Aku yakin, biarpun saat ini Lara tidak mencintaimu, namun suatu saat dia pasti akan bisa mencintaimu. Bukankah cinta itu bisa 105 pergi dan datang tanpa diduga-duga, dan semua itu dipicu oleh suatu kondisi. Jika kata hati sudah seirama, dan perbedaan bukanlah masalah. Maka tidak ada makhluk yang bisa menghalangi cinta. Karena cinta adalah dua hati yang menyatu dalam keselarasan yang harmonis, saling membutuhkan dan selalu berbagi dalam menjalani kehidupan-bagai kumbang dan bunga yang bersimbiosis mutualisme." "Bob, apa yang kau pikirkan?" tanya Randy membuyarkan renungan Bobby. "Eng, Ti-tidak ada, Ran...." Kata Bobby terbata. Saat itu dia langsung menarik nafas panjang dan segera kembali berkata-kata," Ran, maafkan aku yang sudah terlalu egois! Seharusnya aku tidak memacari Lara yang dicintai oleh sahabatku sendiri. Kalau kau mau tahu, sesungguhnya hingga saat ini aku masih mencintai Nina. Percayalah, Ran! Lara itu hanya kujadikan sebagai pelarian, tidak lebih dari itu." "Benarkah yang kaukatakan itu, Bob?" Bobby mengangguk. 106 "Kau memang keterlaluan, Bob. Tega sekali kau memperlakukan Lara seperti itu." "Iya, Ran. Dan aku pun sangat menyesal telah berbuat begitu. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah terlalu egois, sampai-sampai tidak mempedulikan sahabatku sendiri!" "Sudahlah, Bob. Aku memahami kenapa kau bisa sampai melakukan itu. Jika kau memang betul-betul menyesal, rasanya tidak sepantasnya aku mempermasalahkannya lagi. Kau memang sahabat yang baik, buktinya kau mau mengakui semua itu lantaran sudah menyesalinya." "Terima kasih atas pengertianmu, Ran. O ya, aku... " Saat itu Bobby langsung menceritakan rencananya untuk pergi ke luar negeri. Alasannya adalah agar ia bisa mengubur kenangan masa lalunya, yaitu dengan mencari kesibukan di negeri orang. 107 Sebulan kemudian, di restoran yang sama disaat Bobby menyatakan cintanya kepada Nina, terlihat sepasang muda-mudi yang sedang menikmati santap malam. Mereka adalah Bobby dan Lara yang sedang merayakan hari valentine. Sebuah hari kasih sayang yang pada malam ini akan mereka rasakan sebagai sebuah hari yang sangat menyedihkan. "Ra, maafkan kalau perkataanku ini bisa membuatmu sakit!" "Katakanlah, Kak! Apa pun itu aku akan mencoba untuk mengerti" "Se-sebenarnya. A-aku tak mencintaimu, Ra. Aku mau menerimamu waktu itu karena aku kasihan padamu. Karenanyalah, sebelum cintamu semakin dalam aku terpaksa memutuskanmu. Sebetulnya, hingga saat ini aku masih mencintai Nina-tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya." "Be-benarkah yang kau katakan itu, Kak?" tanya Lara dengan air mata yang tiba-tiba saja meleleh. 108 Bobby mengangguk. "Maaf, Ra! Aku terpaksa mengambil tindakan ini sebelum semuanya menjadi semakin sulit." "Tapi, Kak... kenapa ketika di Yogya kau sepertinya sangat mencintaiku. Apa sebenarnya maksud goresan kata-kata yang kau tulis di pohon itu, apa maksud ciuman mesramu yang hingga kini tidak pernah bisa kulupakan, dan apa pula maksud ukiran nama kita pada cincin perak yang kau buatkan untukku." "Itu kulakukan semata-mata karena aku kasihan padamu, Ra. Sungguh, tidak lebih dari itu. Maafkan aku, Ra! Bukankah sebaiknya kita bersahabat saja, sebab aku merasa kalau bersahabat akan lebih baik ketimbang kita harus menjalin cinta dengan bertepuk sebelah tangan." "Baiklah, Kak. Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, aku tidak akan memaksa. Aku memahami kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan." "Terima kasih atas pengertianmu, Ra." 109 Saat itu Lara sudah tidak berkata-kata lagi, dia hanya menangis dan menangis. Melihat itu, Bobby pun tidak berkata-kata lagi-dia hanya bisa meyakinkan dirinya kalau suatu saat Lara pasti akan hidup bahagia bersama sahabatnya. Seminggu kemudian, di malam yang cerah. Seorang gadis terlihat duduk sendiri di kursi beranda, saat itu dia sedang menangis sedih. Ketika dia mendengar suara langkah kaki mendekat, tiba-tiba gadis itu buru-buru menghapus air matanya. Kini kedua matanya yang indah tampak menatap kepada seorang pemuda yang kini berdiri di dekatnya. Dan tak lama kemudian, pemuda itu sudah duduk di sebelahnya seraya meletakkan koper besar yang dijinjingnya. "Kau menangis, Ra?" tanya pemuda itu ketika melihat mata gadis itu. "Kak Bobby, sepertinya a-aku.... " 110 "Sudahlah! Lupakan saja semua kenangan itu! Lebih baik kau jalani saja kehidupanmu sekarang. Aku sarankan berbaik-baiklah dengan Randy, dan jika kau sudah betul-betul mengenalnya, kau pasti akan sangat mencintainya." "Kak, ke-kenapa kau begitu yakin?" "Sebab, aku sudah lama sekali bersahabat dengannya. Dan jika kau menuruti apa yang sudah kukatakan mengenai wataknya, aku yakin kalian pasti akan menjadi pasangan yang saling mencintai." Saat itu Lara kembali teringat dengan perkataan Bobby waktu itu, yaitu ketika Bobby berusaha membujuknya agar mau berdamai dengan Randy setelah ribut saat sarapan pagi. Dalam hati, dia membenarkan ucapan Bobby waktu itu. Karena setelah perselisihannya dengan Randy di depan gallery, akhirnya dia mau menuruti kata-kata Bobby. Dan terbukti, setelah itu dia memang sudah jarang berselisih dengan Randy. Namun, sebagai gantinya dia lebih sering menderita karena harus sering mengalah. 111 "Kak, apa aku harus sering mengalah padanya. Jika terus demikian, apa aku sanggup?" tanya Lara ragu. "Dengarkan aku, Ra... ! Kau tidak harus terus mengalah. Namun, sebagai gantinya kau harus berterus terang padanya. Sebab, sebenarnya dia itu orang yang sangat pengertian. Jika kau mau mengatakan isi hatimu yang sebenarnya, aku yakin dia akan bisa menerima. Menurutku, selama ini pertengkaran kalian disebabkan karena kau selalu menutup diri padanya. Dan karenanyalah, dia menjadi salah mengerti. Andai kau sudah pandai memilah mana yang patut kau utarakan dan yang tidak, aku yakin dia akan menjadi pria yang sangat menyenangkan buatmu." Saat itu Lara langsung merenungi kata-kata Bobby barusan. Dalam hati, dia membenarkan apa yang dikatakannya, sebab selama ini dia memang masih sulit untuk terbuka dikarenakan dia masih menganggap Randy itu bukan siapa-siapa. Namun sekarang, Randy itu sudah menjadi pacarnya. Dan 112 jika dia mau lebih terbuka, tentu Randy akan mau mengerti dan menjadi pemuda yang sesuai dengan harapannya. Ketika Lara akan bicara lagi, tiba-tiba dia melihat sebuah taksi yang berhenti di depan gerbang. Tak lama kemudian, seorang pemuda tampak keluar dan bergegas menghampiri mereka. "Ini Bob," kata pemuda itu seraya memberikan tiket pesawat yang baru dibelinya. "Terima kasih, Ran! Kalau begitu, sebaiknya aku berangkat sekarang," pamitnya seraya memeluk sahabatnya itu erat-erat. "Hati-hati ya, Bob. Semoga kau mendapat apa yang kau cari!" ucap Randy seraya melepaskan pelukannya. Kemudian dia mencoba tersenyum dan menjabat tangan sahabatnya dengan erat. "Semoga sukses! " katanya seraya kembali tersenyum. Kini Bobby melangkah mendekati Lara. "Ra, aku berangkat sekarang," pamitnya kepada gadis yang sebenarnya sangat dia cintai. 113 Saat itu juga Lara segera memeluknya erat, "Selamat jalan, Kak...!" ucapnya lirih dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Baik-baiklah kalian!" pesan Bobby seraya melepaskan pelukannya dan menghapus derai air mata Lara yang baru saja menetes. Lara mengangguk dan mencoba tersenyum, kemudian tanpa ragu dia merapikan kerah baju Bobby yang dilihatnya agak miring. Bobby pun tampak tersenyum sebagai ungkapan terima kasihnya, dan tak lama kemudian dia sudah bergerak menuju taksi yang sejak tadi sudah menunggunya. Pada saat itu pandangan Lara tampak tak bergeming-terus memperhatikan Bobby yang kini dilihatnya sudah do dalam taksi. Tak lama kemudian, dia melihat pemuda itu tampak melambaikan tangan kepadanya dan juga kepada Randy. Hingga akhirnya, taksi yang ditumpangi Bobby berangkat dan menghilang di kegelapan malam. "Duhai Laraku sayang... berbahagialah bersama sahabatku. Hari ini aku akan pergi jauh bersama cita- 114 citaku untuk bisa melupakanmu. Dan aku tidak tahu, apakah aku bisa melupakanmu yang sudah begitu lekat di hatiku. Biarlah semua itu kuserahkan kepada waktu yang akan menjawabnya." Kini Bobby memandang ke luar jendela, memperhatikan lampu reklame yang berkelap-kelip ceria. Sungguh bertolak jauh dengan nuansa hatinya yang begitu sedih, karena terpaksa harus berpisah dengan sang pujaan hati. 115 EMPAT Setahun kemudian, di negeri nan jauh di sana, di atas dermaga kayu yang berdiri di tepian sebuah danau. Seorang pemuda tampak duduk melamun. Matanya yang bening menatap ke tengah danau yang begitu indah, sedang kedua tangannya tampak saling meremas. Tiba-tiba pemuda itu tertunduk, merasakan keresahan hati yang teramat sangat, yaitu kepada gadis yang begitu dicintainya, yang mana selama ini sudah begitu dirindukannya. "Sayang... ternyata aku tidak bisa melupakanmu. Sudah lama juga kita berpisah, namun dirimu masih terus saja terbayang. Ingin rasanya aku menemuimu dan mencurahkan rasa rinduku ini. Namun, aku tak mempunyai daya upaya untuk bisa melawan bisikan nuraniku akan arti persahabatan." "Hi, Bob! Sedang apa kau di situ?" tanya seseorang tiba-tiba. 116 Seketika Bobby menoleh, memperhatikan seorang pemuda yang kini melangkah ke arahnya. "Maaf, Riz! Aku belum punya uang." "Hahaha... ! Kau pikir aku kemari mau menagih hutang. Tidak, Bob. Sebenarnya aku kemari mau mengajakmu bekerja." "Mmm... bekerja? Kerja apa Riz?" "Sudahlah...! Nanti kau juga akan tahu." "Kau tidak akan mengajakku kerja yang illegal kan?" "Kenapa kau berpikiran begitu?" "Eng... Bukankah kau pernah ditahan lantaran menipu." "Itu kan dulu, Bob. Sekarang aku sudah insyaf dan tidak mau berbuat seperti itu." "Kalau begitu, katakanlah apa pekerjaan yang akan kita lakukan itu!" "Kita akan bekerja sebagai kurir, Bob." "Kurir?" "Ya, sebagai kurir yang mengantar barang." 117 "O, kalau itu sih aku mau. Terus terang, aku bosan juga jika harus terus-menerus mencari uang dengan mengumpulkan dedaunan itu," kata Bobby yang kini memang sudah tidak berminat lagi mencari dedaunan yang dijual untuk keperluan rangkaian bunga. Walaupun pada mulanya dia menganggap pengerjaan itu menyenangkan dan bisa menggantikan karirnya sebagai arsitek yang kini tak mau dilakoninya lagi karena suatu sebab. "O ya, ngomong-ngomong barang apa?" lanjut pemuda itu kemudian. "Ya, namanya juga kurir, Bob. Yang diantar itu bisa barang apa saja, dan kita tidak mungkin membongkar dan melihat isinya dulu. Kedua orang itu terus berbincang-bincang mengenai pekerjaan itu. Sementara itu di tempat lain, di sebuah negeri yang jaraknya bermil-mil jauhnya. Sepasang muda-mudi tampak sedang berbincang-bincang, duduk di dalam sebuah mobil yang berhenti di bawah rindangnya sebuah pohon besar. "Kau merindukannya, Ra?" tanya Randy kepada kekasihnya. 118 "Betul, Kak. Entah kenapa belakangan ini aku ingin sekali berjumpa dengannya." "Ra, sebenarnya bukan kau saja yang rindu. Aku pun sudah rindu sekali padanya." "Andai dia mau mengirim surat atau menghubungi kita lewat telepon tentu rindu kita bisa sedikit terlepaskan." "Aku tahu benar sifat Bobby, walaupun dia begitu rindu denganmu dia tidak akan mengirim surat, apa lagi sampai menelepon. Kau tahu kenapa dia pergi keluar negeri?" "Untuk bekerja kan?" "Kau salah, Ra. Sebenarnya dia pergi karena ingin mengubur semua masa lalunya." "Hmm... kalau begitu, pantas saja dia tidak pernah menghubungi kita." "Dan karenanyalah, selama ini aku pun tidak pernah mencoba menghubunginya. Aku yakin sekali, jika hatinya sudah betul-betul tenang dia pasti akan datang menemui kita." 119 Kedua muda-mudi itu berbincang-bincang, hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi tampak melaju meninggalkan tempat itu. Pada suatu hari, di sore yang cerah, Bobby dan Rizky tampak sedang berbincang-bincang di dalam sebuah rumah yang ada di pinggiran kota kecil. Sejenak Bobby memperhatikan isi ruangan yang ada di rumah itu, semuanya didominasi warna putih yang tampak kusam. Dan di ruangan itu tak ada perabotan yang bisa dilihatnya dengan jelas. Dalam hati, pemuda itu menduga kalau ruangan itu sudah lama tidak digunakan, terbukti dengan semua perabotan yang kini tampak tertutup oleh kain putih yang berdebu. "Kok lama sekali, Riz?" tanya Bobby yang saat itu sedang menunggu barang yang akan mereka antar. "Entahlah... tidak biasanya seperti ini." "O ya, Riz. Ngomong-ngomong... " belum sempat Bobby menyelesaikan kalimatnya. Tiba tiba, 120 "Perhatian!!! Kami polisi, rumah ini sudah kami kepung, menyerahlah kalian semua!!!" saat itu dari luar rumah terdengar perintah yang menggunakan pengeras suara, dan orang itu berbicara dengan menggunakan Bahasa Inggris Amerika yang sangat kental. Betapa terkejutnya Bobby dan Rizky saat itu, namun keterkejutan Bobby berbeda dengan temannya yang kini dilihatnya sudah mengeluarkan senjata api. "Bob, cepat kau berlindung!" seru Rizky seraya berlari ke arah jendela. "Riz, apa-apaan ini?" tanya Bobby heran. Belum sempat Bobby mendapat jawaban, berapa orang yang semula berada di dalam kamar tampak keluar dengan membawa senjata lengkap. Mereka juga tampak bersiaga di dekat jendela seperti yang dilakukan Rizky. Kemudian dengan tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak dan seketika itu juga orang yang bersiaga di dekat jendela tadi segera memecahkan kaca jendela dan langsung melepaskan tembakan. Tak ayal, baku tembak pun terjadi dengan 121 serunya. Bobby yang saat itu tidak mengerti apa-apa langsung tiarap berlindung. Baku tembak itu terus berlangsung hampir selama satu jam. Tiba-tiba, dari luar rumah kembali terdengar peringatan," Perhatian! Jika kalian masih tidak mau menyerah, kami terpaksa akan meratakan rumah itu dengan tanah!" Mendengar itu, salah seorang yang menjadi pimpinan kelompok itu tiba-tiba menghentikan tembakan. "Ayo cepat kita tinggalkan tempat ini!" perintah orang itu "Ayo, Bob! Ikuti aku!" Ajak Rizky seraya merayap menuju ke sebuah kamar. Saat itu Bobby langsung menurut, dia tampak merayap mengikuti Rizky. "Riz, sebenarnya siapa mereka ini? Kenapa tiba-tiba polisi mengepung tempat ini?" "Bob, sebenarnya kami ini para pejuang keadilan." "Apa maksudmu dengan para pejuang keadilan?" tanya Bobby tidak mengerti. 122 "Kami ini yang dibilang 'teroris', Bob," jelas Rizki mempermudah pemahaman pemuda itu. "A-apa! Ja-jadi kalian ini 'teroris'?" Bobby tampak terkejut. Pada saat itu, jantungnya pun langsung berdegup kencang. "Sudahlah, Bob! Ayo cepat kita masuk ke dalam lubang itu!" perintah Rizky sambil memasuki lubang yang ternyata sebuah jalan rahasia. Bobby pun segera masuk ke jalan rahasia itu, dan dalam waktu singkat mereka sudah berada di sebuah rumah yang letaknya jauh di seberang rumah yang sedang di kepung itu. Lantas dengan tergesa-gesa, mereka segera menaiki sebuah van yang diparkir di dalam garasi. Tak lama kemudian, van itu pun melaju kencang menerjang pintu garasi yang terbuat dari kayu. Sambil terus melaju bersama van yang mereka tumpangi, para 'teroris' itu tak henti-hentinya melepas tembakan ke arah polisi-polisi yang sama sekali tidak menduga kalau buruan mereka keluar dari rumah yang berada di belakang mereka. Hingga akhirnya, van itu berhasil meloloskan diri. 123 Kini van itu tengah melaju kencang menembus gelapnya malam, melewati jalan berliku yang membelah hutan pinus. Pada saat itu, perasaan Bobby sungguh tak karuan-ketakutannya akan keselamatan jiwa membuatnya betul-betul cemas. Sungguh dia tidak menyangka kalau nasibnya akan menjadi seburuk itu, yaitu terlibat dengan orang-orang yang memperjuangkan keadilan dengan cara yang menurutnya salah. Ketika van itu melewati jalan di lereng perbukitan, tiba-tiba. "Lihat! Apa itu?" "Celaka...! Kita dikejar helikopter." "Lebih cepat lagi, Frank!" "Iya, ini juga sudah paling cepat." Kejar-kejaran antara van dan helikopter itu pun tak terelakkan. Kedua jenis kendaraan itu terus berpacu di dalam gelapnya malam, pada saat itu yang terlihat hanya lampu-lampu dari kedua kendaraan itu, namun terkadang sesekali juga terlihat van yang melaju kencang tersorot lampu tembak dari helikopter yang mengejarnya. Tiba-tiba dari helikopter itu terdengar kembali peringatan yang kali ini menyatakan kalau 124 mereka akan menembak jika van itu tidak mau berhenti. Benar saja, ketika melewati tepian jurang, helikopter itu langsung melepaskan missile-nya yang kini meluncur cepat menuju van yang masih terus melaju dengan kencang. Dan dalam waktu singkat, misil itu pun menghantam van yang di tumpangi oleh para 'teroris' dan menciptakan ledakan yang begitu dasyat. Tak ayal, van itu pun langsung hancur berkeping-keping. Bobby yang berhasil melompat sebelum missile mengenai sasaran sempat terkena serpihan yang beterbangan itu. Seketika Bobby meringis merasakan panas dan nyeri yang bukan main sakitnya, kemudian dia tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang saat itu sedang berada di tepian jurang langsung meluncur jatuh ditelan jurang yang begitu dalam. Berkali-kali tubuh pemuda itu menghantam batang pohon yang ada di bawahnya, hingga akhirnya tubuh itu jatuh di atas sungai yang mengalir deras. 125 Esok harinya, di sebuah bilik yang terbuat dari kayu, seorang pemuda tampak terbaring tak sadarkan diri. Di beberapa bagian tubuhnya tampak terbalut kain putih yang bernoda hijau kecokelatan. Pada saat yang sama, tak jauh dari orang yang terbaring itu terlihat seorang kakek yang sedang menumbuk ramuan obat. Sesekali mata kakek itu tampak memperhatikan keadaan pemuda yang terbaring itu dengan penuh iba. "Agh...!!! Di-di mana aku?" tanya Bobby tiba-tiba sambil meringis dan berusaha bangun. Mengetahui itu, orang tua yang berada di sisinya serta-merta meletakkan alat penumbuk obat dan berusaha menenangkannya. "Tenanglah anak muda, kau jangan bangun dulu!" larang orang tua itu lembut dengan menggunakan Bahasa Inggris yang berdialek asia. "Si-siapa kau? Dan di-di mana aku?" tanya Bobby lagi, juga dengan bahasa yang sama. "Aku Changyi. Kini kau sedang berada di pondokku. Ketahuilah kalau aku sedang berusaha 126 untuk memulihkan kesehatanmu. Karenanyalah, aku mohon kau jangan banyak bergerak!" Mengetahui itu, Bobby kembali merebahkan diri. Dalam hati, pemuda itu sangat bersyukur ketika menyadari dirinya masih hidup. Sungguh dia tidak menyangka kalau kuasa Tuhan begitu besar sehingga membuatnya tetap hidup. "Bagaimana, Kek? Apa dia sudah sadarkan diri?" tanya seorang gadis tiba-tiba seraya duduk di sebelah sang Kakek. "Sudah, Li," jawab sang Kakek singkat. "O ya, apa dedaunan itu sudah kau dapat?" tanyanya kemudian. "Sudah, Kek. Ini..." jawab gadis itu seraya menyerahkan beberapa dedaunan obat yang baru diambilnya dari hutan. Tak lama kemudian, sang Kakek sudah menambah dedaunan yang baru didapat itu dengan ramuan yang sedang ditumbuknya. Pada saat yang sama, Bobby tampak sedang memperhatikan wajah manis milik gadis yang kini sedang mengajaknya bicara. 127 "Apa yang kau rasakan?" tanya gadis itu kepadanya. "Eng... dadaku terasa agak sesak, dan aku juga merasakan nyeri di beberapa bagian." "Emm... kalau begitu, sebaiknya kau jangan terlalu banyak bergerak dulu! Istirahatlah hingga lukamu itu betul-betul sembuh!" "Iya, tadi kakekmu juga sudah bilang begitu." "Benarkah? O ya, Kak. Ngomong-ngomong apakah kau... ?" "Ehem!" ucap sang kakek tiba-tiba memotong perkataan cucunya. "Li... tolong kau persiapkan tungku untuk memasak ramuan ini!" pintanya kepada Sang Cucu. Mendengar itu, Sang Cucu segera menuruti perkataan kakeknya. Sementara itu, Bobby tampak memperhatikan kepergiannya dengan harapan agar gadis itu cepat kembali. Pada saat yang sama, di tempat yang jauh sekali dari tempat Bobby berada, sepasang muda-mudi tampak sedang berbincang-bincang dengan emosi yang kian memuncak. 128 Sungguh perasaan mereka itu sangat bertolak belakang dengan suasana ruang tamu yang terlihat begitu nyaman-yang mana dipenuhi oleh benda-benda seni yang indah dan menentramkan. "Kau egois sekali, Kak." kata Lara ketus. "Kau yang egois. Sekarang ini kan aku sudah menjadi pacarmu. Tapi, kenapa kau masih saja memperlakukanku seperti dulu? Sepertinya kau ini memang tidak pernah mau mengerti perasaanku, kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri saja," tuduh Randy dengan raut wajah yang begitu kesal. "Kau yang tidak mau mengerti perasaanku, kau yang selalu memikirkan perasaanmu sendiri," Lara balik menuduh. "Grrr... kau ini memang wanita yang keras kepala." Randy kian bertambah geram. "Kau yang keras kepala. Kau pemuda yang picik dan selalu mau menang sendiri," balas Lara. "Huh, andai saja kau bukan wanita yang kucintai sudah kutampar mulutmu yang lancang itu." Randy mengancam. 129 "Ayo! Tampar saja aku. Memang setelah kau tampar, aku akan menurut padamu," tantang Lara. Tiba-tiba saja gadis itu menangis. "Lho, kenapa sekarang malah menangis? Dasar perempuan, kalau sudah buntu bisanya cuma menangis." "Kau sudah membuat hatiku sakit, Kak. Kupikir kau pria yang mencintaiku, tapi ternyata... " "Ternyata apa?" "Sudahlah, aku tidak perlu menjelaskannya padamu. Pikir saja sendiri, kau kan punya otak!" Mendengar itu, Randy tampak menarik nafas panjang. "Kau dari dulu selalu begitu. Bagaimana mungkin aku bisa mengerti kalau disuruh mikir sendiri. Kenapa sih kau selalu menyembunyikan perasaanmu, kenapa tidak langsung bilang saja biar semua jadi jelas." Lara tidak menjawab, dia cuma bisa memalingkan wajahnya sambil terus menangis. 130 "Baiklah... kalau kau masih seperti ini sebaiknya aku pergi saja. Tidak ada gunanya aku berlama-lama di sini." Setelah berkata begitu, Randy langsung melangkah pergi entah ke mana. Sementara itu Lara tampak merenung memikirkan perihal kekasihnya. "Kak Randy... kenapa sih kau selalu keras kepala, kenapa kau tidak mau mengalah walau sedikit saja. Andai kau mengalah, tentu aku tidak akan bersikap seperti itu. Kau benar, aku memang egois. Aku memang selalu mau menang sendiri. Namun jika kau menyuruhku untuk mengakuinya tentu aku tidak akan mau, tidak akan pernah!" Lara terus memikirkan kekasihnya. Sementara itu di tepian sebuah telaga yang sepi, Randy tampak sedang duduk termenung di bawah sebuah pohon besar yang begitu rindang. Kedua matanya tampak memandang ke liuk-liuk air telaga yang kehijauan dan berkilat memantulkan sinar mentari. "Ra, maafkan aku! Tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu. Terus terang, aku betul-betul menyesal karena telah 131 membuatmu menangis. Aku ini memang pemuda bodoh yang tak mengerti akan perasaan wanita, aku ini memang pemuda keras kepala yang tak pernah mau mengalah. Andai saja kau mau mengalah, tentu aku akan bersikap baik padamu, dan aku akan sangat sayang padamu, sehingga apapun yang kau pinta pasti akan kuturuti." Setelah merenung agak lama, akhirnya Randy kembali ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Kini sedan mewah yang dikendarainya tampak melaju menyusuri jalan yang menuju ke tengah kota. Tiga hari kemudian, Randy datang menemui Lara. Saat ini kedua muda-mudi itu sedang duduk berdua di ruang tamu, membicarakan perihal kejadian tempo hari yang membuat mereka jadi marahan. "Maafkan aku ya, Ra. Saat itu aku betul-betul emosi." 132 "Aku juga, Kak. Aku minta maaf karena aku sudah begitu emosi." "O ya, sebagai pelengkap ucapan maafku, aku pun membawakan ini untukmu," kata Randy seraya memberikan kado kecil yang dibungkus kertas bermotif hati dan diikat dengan pita berwarna merah muda. "Apa ini, Kak?" "Bukalah Sayang...! Nanti kau juga akan tahu." Lantas Lara pun segera membuka kado itu, dan ketika mengetahui isinya mata gadis tampak berkaca-kaca. "Kenapa, Ra? Apa kau tidak menyukainya." "Bukan begitu, Kak. Justru aku merasa terharu, ternyata kau memang begitu menyayangiku. Sungguh liontin ini indah sekali, Kak. Eng... Maukah kau memakaikannya untukku!" "Tentu saja, Sayang... " jawab Randy seraya mengambil benda itu dan memakaikan di leher kekasihnya. 133 "Bagaimana, Kak? Pantas tidak?" tanya Lara seraya tersenyum. "Tentu saja sangat pantas. Dan kau pun tambah cantik dengan liontin itu," komentar Randy. "O ya, jika kau kangen denganku, bukalah liontin itu!" Mengetahui itu, Lara segera membuka liontin itu dan memperhatikan foto Randy yang tampan, kemudian dia melihat bagian sebelah yang dipasangi fotonya sendiri. "Kau dapat dari mana fotoku ini, Kak? Pantas saja waktu itu kucari-cari tidak ada. Rupanya kau yang mencurinya ya?" tanya Lara kemudian. "Maaf, Ra. Aku terpaksa, foto itu kuambil ketika Nina memperlihatkan foto-fotomu padaku. Karena saat itu aku suka sekali dengan fotomu itu, aku jadi terpaksa mengambilnya. Tapi kan sekarang sudah kukembalikan, jadi kau tidak perlu marah karenanya!" "Bukan apa-apa, Kak. Kau mengambil foto ini kan sebelum aku mencintaimu. Ja-jangan-jangan, aku mencintaimu karena... " "Karena aku memeletmu, begitu? Kau ini masih saja selalu berprasangka buruk, Ra. Dengar ya! Aku 134 ini betul-betul mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam, dan aku tidak pernah mau melibatkan orang yang kucintai dengan hal-hal semacam itu. Terus terang, aku hanya ingin dicintai oleh sebab cinta yang tulus. Apa rasanya jika aku dicintai oleh gadis yang dipengaruhi oleh hal yang menyesatkan semacam itu. Jangan kan oleh hal semacam itu. Bila kau mencintaiku karena sebab kasihan, aku pun berat untuk bisa menerimanya. Karena cinta yang didasari oleh rasa kasihan bisa membuatmu bertindak semena-mena, dan kau pun bisa menderita karena harus melayani orang yang tak kau cintai. Lain halnya dengan pasangan yang saling mencintai, keduanya saling berbagi dan melayani atas dasar cinta. Karenanyalah, berbagai hal yang tidak menyenangkan bisa saja menjadi sangat menyenangkan. Setiap ada kesempatan keduanya berusaha untuk bisa saling menyenangkan dan tidak ada sedikitpun rasa keterpaksaan, dan demi untuk orang yang dicintainya keduanya rela mengorbankan kepentingannya sendiri, 135 bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekalipun," ungkap Randy panjang lebar. "Maafkan aku, Kak! Entah kenapa aku begitu mudah berprasangka begitu," ucap Lara menyesal. "Ra, aku mau tanya padamu. Apakah selama ini kau mencintaiku atas dasar kasihan?" "Entahlah, Kak. Aku juga tidak tahu. Mungkin begitu, mungkin juga tidak. Aku ini kan belum begitu mengenalmu, Kak. Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu dengan sepenuh hatiku." "Aku mengerti. Selama perasaan dan pola pikir kita belum harmonis, yang mana selama ini sering tak berterus terang dan saling tidak percaya. Aku rasa kita memang akan sulit untuk bisa saling bisa mengenal lebih jauh. Karenanyalah mulai sekarang kau jangan terlalu main perasaan, sampaikanlah isi hatimu yang sebenarnya, sekalipun itu akan sangat menyakitkanku. Percayalah kalau aku akan senantiasa berusaha untuk menerima kenyataan itu, dan mencoba mencari jalan yang terbaik dan bijaksana dalam menentukan sikap." 136 "Sungguh kau bisa melakukan itu?" Randy mengangguk, "Asal hal itu betul-betul suatu kebenaran yang memang perlu disampaikan demi untuk kebaikan kita. Sebab, jika kita masih takut menyampaikan kebenaran dikarenakan perasaan tidak enak justru bisa merugikan orang lain. Karenanyalah sekarang aku sudah membuang perasaan tidak enak itu demi untuk menyampaikan kebenaran, walaupun aku tahu mungkin akibatnya akan sangat menyakitkan. Namun begitu, aku akan berusaha untuk menyampaikannya dengan cara yang lebih santun. Karena itulah, hingga saat ini aku pun masih terus belajar dan belajar untuk bisa menyampaikan kebenaran dengan cara yang demikian agar perkataanku tidak menyinggung perasaan orang yang mendengarnya." Akhirnya sepasang muda-mudi itu sepakat untuk saling terbuka dan saling percaya. Dengan harapan mereka tidak lagi berselisih karena sebab salah pengertian. Kini kedua muda-mudi itu kembali berbincang-bincang, hingga akhirnya Lara bangkit dari 137 duduknya dan melangkah ke dapur. Tak lama kemudian, dia sudah kembali dengan segelas kopi di tangannya. "Ini Cappuccino-nya, Kak," kata Lara seraya memberikan kopi itu kepada kekasihnya. Pada saat itu Randy langsung menanggapi kopi itu dan memperhatikannya sejenak. "Kok tidak pakai es, Ra?" tanyanya kemudian. "Es nya lagi habis, Kak." "Habis? Kenapa bisa sampai habis?" tanya Randy dengan wajah kecewa. Saat itu Lara sedikit jengkel dengan pertanyaan Randy yang seperti itu. Dalam hati dia pun jadi menggerutu sendiri, "Dasar pria tidak tahu diuntung, sudah baik aku mau membuatkannya kopi. Eh, dia malah memprotes." "Ra, kenapa diam? Apa kau tidak mendengar pertanyaanku tadi?" "Aku dengar, Kak. Baiklah, aku akan jawab pertanyaanmu itu. Emm... sebenarnya es itu habis karena pembantuku lupa mengisinya." 138 "Aduh, Ra. Kalau begitu kau harus tegas pada pembantumu itu, bahwa sebetulnya cetakan es itu harus senantiasa terisi." "Kakak ini bagaimana sih? Kan sudah kubilang kalau pembantuku itu lupa. Kalau dia ingat, pasti dia akan mengisinya. Lagi pula, jarang kok dia lupa seperti sekarang." "Benarkah?" Lara mengangguk. Dalam hati gadis itu merasa kesal karena lagi-lagi dia harus terpaksa berbohong demi untuk kebaikannya. Maklumlah, Lara memang tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya, kalau es itu habis lantaran bukan karena pembantunya lupa, namun karena dia menggunakannya untuk hal yang tidak penting. Jika dia sampai menceritakannya, Randy pasti akan menceramahinya kalau perbuatan itu tak sepantasnya dilakukan. Begitulah Lara, selama ini dia tidak senang akan segala nasihat Randy yang sebetulnya baik. Dalam hati, gadis itu masih merasa berat jika dia menjadi baik lantaran Randy telah memberinya 139 nasihat. Dan dia tidak mau jika Randy sampai berjasa di dalam kehidupannya. Di dalam benaknya, gadis itu merasa justru dialah yang patut menjadi berjasa di dalam kehidupan Randy. Andai saja Lara sudah memahami arti saling menasehati tentu dia tidak akan merasa seperti itu. Sementara itu di tempat lain, di tengah hutan yang letaknya sangat jauh. Seorang gadis tampak sedang merawat seorang pemuda. "Mmm... bagaimana dengan keadaanmu, Kak?" tanya gadis itu kepada Bobby. "Setelah meminum obat yang kau berikan itu, kini tubuhku terasa lebih bertenaga dan rasa sakit di sekujur tubuhku pun mulai menghilang." "Baguslah kalau begitu. Jika kau rajin meminumnya, aku yakin dalam satu dua minggu ini kesehatanmu akan pulih kembali. O ya, Kak. Ngomong-ngomong, apa sebenarnya yang telah menimpamu?" "Eng... ini semua karena aku berada di tempat dan waktu yang salah." "Maksudmu?" 140 "Begini... UHUK-UHUK!!!" "Sudahlah, Kak! Sebaiknya kau jangan bicara dulu. Maaf kalau aku sudah mengganggu ketenanganmu." "Ti-tidak apa-apa, aku cuma batuk sedikit." "Sudahlah...! Sebaiknya Kakak istirahat saja, aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu." Bobby memperhatikan kepergian gadis itu, betapa hatinya saat itu betul-betul merasa tentram karena perhatian dan kelembutan gadis yang baru dikenalnya itu. Sepeninggal gadis itu, sang Kakek datang menemuinya. "Bagaimana keadaanmu, anak muda?" tanya Sang Kakek ingin mengetahui keadaannya. "Sudah lebih baikan, Kek." "Syukurlah kalau begitu. O ya, agar kau cepat sembuh aku akan menyalurkan tenaga dalamku lagi. Nah, sekarang bersiaplah!" Mendengar itu, Bobby segera mengambil posisi seperti yang dilakukannya selama tiga hari ini. Setelah dia siap, sang Kakek segera duduk dihadapannya. 141 Kini tangan kirinya sudah menempel di perut Bobby, sedangkan tangan yang sebelah kanan tampak menempel di telapak tangan kiri Bobby. Dan tak lama kemudian, sang kakek pun sudah menyalurkan tanaga dalamnya. Sang Kakek terus melakukan itu hingga akhirnya Bobby mengeluarkan darah kotor dari mulutnya. Dan setelah itu, sang Kakek memintanya untuk beristirahat. 142 LIMA Setelah sekian lama membina hubungan, tampaknya Lara kian mencintai Randy. Bagaimana tidak, ternyata pemuda itu memang sangat perhatian dan begitu menyayanginya. Kini gadis itu tengah duduk bersama kekasihnya di teras villa sambil memandang keindahan bukit yang dipenuhi perkebunan teh. Saat itu di benaknya terlintas kembali peristiwa yang telah lewat, ketika waktu itu Bobby pernah memberinya pengertian mengenai tabiat Randy yang perlu dipahami. Dan karena itulah, hingga akhirnya gadis itu kini bisa memahami Randy dan mencoba untuk senantiasa menyelaraskannya. Begitupun dengan Randy, selama ini pemuda itu senantiasa berusaha untuk menyelaraskan tabiat Lara yang sensitif. "Lara!" tegur Randy ketika mengetahui gadis itu tampak melamun. 143 "Randy! Kau mengagetkanku saja," "Apa yang kau pikirkan, Sayang...?" "Ah, tidak. Bukan sesuatu hal yang penting." "Emm... bukan sesuatu hal penting... ngomong-ngomong, apa aku boleh tahu hal tidak penting itu?" "Kau itu, dari dulu tidak pernah berubah, Sayang.... Kau selalu mau tahu saja urusan orang, bahkan hal yang tidak penting sekalipun." "Mungkin bagimu tidak penting. Tapi, mungkin saja buatku sangat penting." "Baiklah, kalau kau memang mau tahu. Sebenarnya hal itu menyangkut dirimu." "Benarkah? Kalau begitu katakanlah!" "Begini, Sayang... aku heran, kenapa kau mau tahu saja urusan orang?" Mendengar itu Randy langsung terdiam, kemudian keduanya matanya tampak memandang Lara dengan dalam. Karena dipandang seperti itu, Lara menjadi heran dibuatnya. "Sayang... kenapa kau memandangku seperti itu?" tanyanya kemudian. 144 "Katakanlah padaku, Ra...! Apakah keingintahuanku itu telah membuatmu merasa tidak nyaman?" Lara mengangguk. "Kau senantiasa membuatku terpaksa berdusta, Sayang.... " katanya kemudian. Randy mengerutkan keningnya, saat itu dia betul-betul sedang memikirkan perkataan kekasihnya yang baginya mengandung makna yang sangat dalam. "Emm... kini aku mengerti. Rupanya kau sudah begitu khawatir dikarenakan kodratmu yang selalu menggunakan perasaan, yang mana tidak semua hal bisa kau kemukakan dengan gamblang. Kalau begitu, maafkanlah aku yang tidak mengerti karena ketidakterusteranganmu! Mulai hari ini aku akan berusaha untuk tidak seperti itu lagi." "Oh, Sayang... aku benar-benar bahagia karena kau mau mengerti aku." Lantas kedua muda-mudi itu saling berpandangan dan berpegangan tangan, kedua pasang mata itu saling menatap hangat-mengungkapkan isi hati dengan tanpa kata-kata. 145 "Randy... aku menyayangimu," ungkap Lara seraya memeluknya dan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu. "Lara... kau sungguh telah mengajarkan aku akan makna cinta yang sesungguhnya," ungkap Randy sambil terus mendekap Lara dan membelai dengan penuh kasih sayang. "Aku pun begitu, Kak. Maaf kalau selama ini aku sudah menganggapmu sebagai pemuda yang tidak mau mengerti akan perasaan wanita. Tapi sekarang aku mengerti, semua itu karena aku yang masih belum pandai memilah perasaan, yaitu mengenai mana yang patut kuungkapkan dan yang tidak," ungkap Lara seraya kembali memandang pemuda itu. Kemudian mereka tampak berciuman dengan begitu mesra dan kembali berpelukan erat. Kesucian cinta dan kerendahan hati yang tulus terus berpadu dengan hasrat primitif yang menghilangkan derajat kemanusiaan keduanya, laksana sepasang merpati yang berbagi kasih dengan tanpa ikatan suci yang semestinya. Pada saat yang sama, di negeri nan jauh 146 di sana. Seorang pemuda tampak sedang memperhatikan seorang gadis yang selama ini sudah membuatnya jatuh hati. Siapa lagi kalau bukan cucu gurunya sendiri, yang mana selama ini sering bersamanya berburu di tengah hutan. "Kena!" teriak gadis itu ketika anak panahnya tepat mengenai sasaran. Bobby yang sejak tadi memperhatikan gadis yang semula begitu berkonsentrasi membidik sasaran, tiba-tiba tersentak dan langsung memandang ke arah bidikan. Saat itu dilihatnya seekor rusa tampak sudah menggelepar sekarat. Mengetahui itu, Bobby buru-buru menghampiri rusa itu dan menyembelihnya dengan menyebut nama Tuhan. Hingga akhirnya rusa itu mati dengan darah yang terus mengalir dari pembuluh darah besarnya. "Kak, Bobby. Aku betul-betul heran... kenapa selama ini kau selalu menyembelih rusa yang kupanah," tanya Li Qin terus terang. "Aku melakukan ini agar rusa itu cepat mati sehingga dia tidak terlalu lama merasakan sakit. Lagi 147 pula, aku melakukan itu agar dagingnya halal kumakan." "Halal? Apa maksud perkataanmu itu?" "Halal itu berarti Tuhan sudah meridhai aku untuk memakan daging hewan yang sudah kusembelih dengan menyebut nama-Nya, karena di dalam ajaran agamaku tidak diperbolehkan memakan daging hewan yang dibunuh dengan tidak menyebut namaNya. Kau kan tidak seiman denganku, dan secara otomatis ketika memanah tadi kau tidak mungkin menyebut nama Tuhan-ku. Karenanyalah aku harus menyembelih hewan itu agar dagingnya menjadi halal kumakan, sebab jika tidak hewan itu tidak layak aku makan karena dianggap bangkai. Lagi pula, bukankah keyakinanmu tidak mempersoalkan hal itu, dan dengan demikian kau pun masih tetap bisa memakannya." "O, jadi begitu. Kini aku mengerti, Kak." Bobby tersenyum melihat Li Qin yang katanya mengerti, namun ekspresinya tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan hal itu-dahinya tampak masih 148 berkerut dengan sebelah tangan yang mengusap-usap kepalanya. Tak lama kemudian, Bobby sudah memanggul hewan buruan itu dan melangkah bersama menuju ke pondok yang mereka tinggali. Suasana hutan yang mulai gelap membuat keduanya semakin mempercepat langkah hingga akhirnya mereka tiba di pondok dengan selamat. Malam harinya, Bobby, Li Qin dan gurunya tampak menikmati hasil buruan yang didapat petang tadi. Daging rusa panggang yang gurih terus mengisi perut dengan perlahan, hingga akhirnya ketiganya merasa kenyang. Seusai makan mereka tampak berbincang-bincang dengan akrabnya, hingga akhirnya. "Huaaahhh...!" sang kakek menguap. "Nak Bobby, Li Qin cucuku, rasanya aku sudah mengantuk sekali, dan sepertinya aku sudah tidak kuat untuk berlama-lama di tempat ini. Teruskan saja perbincangan kalian, aku mau pergi istirahat." 149 Setelah berkata begitu, sang kakek tampak melangkah pergi. Sepeninggal orang tua itu, Bobby dan Li Qin kembali berbincang-bincang. Namun kali ini perbincangan mereka tampak menjurus ke hal-hal yang sifatnya sangat pribadi. "Li... apakah kau merasakan perasaan yang seperti aku rasakan?" Li Qin tampak mengerutkan keningnya, "perasan seperti apa yang kakak maksudkan?" tanya gadis itu tidak mengerti. "Perasan ingin selalu berdua seperti ini. Apakah kau merasakannya juga?" Li Qin mengangguk. "Li... terus terang, setelah sekian lama bersamamu aku merasa betul-betul bahagia. Sepertinya... A-aku mencintaimu, Li... " Mendengar itu Li Qin tersentak gembira, setelah sekian lama menunggu pernyataan itu akhirnya dia mendengarnya juga. "Li, kenapa kau diam? Apakah kau tidak mencintaiku?" 150 "Kak... " Li Qin menatap mata Bobby dalam-dalam "A-aku juga mencintaimu, Kak." Ungkapnya kemudian. Kini kedua muda-mudi itu sudah saling berpelukan, kemudian dilanjutkan dengan saling berciuman. Prilaku yang selama ini mereka jaga karena saling menghormati, namun sekarang sudah mereka langgar atas nama cinta. Cinta suci yang kini sudah dinodai oleh hasrat primitif yang tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh makhluk tak berakal. Esok harinya, di sebuah tanah lapang. Bobby dan gurunya berlatih silat seperti biasa. Kini keduanya sudah berdiri saling berhadapan untuk berlatih tanding. Setelah saling membungkuk, sang guru lantas menyuruhnya bersiap-siap. "Baik guru," ucap Bobby seraya memasang kuda-kudanya. 151 "Terimalah seranganku ini, anak muda!" kata sang guru dengan serta-merta menyerang. Bobby tersentak dengan serangan yang begitu tiba-tiba. Namun karena refleksnya sudah terlatih, dia pun bisa menghindarinya dengan mudah. Kini dia balik menyerang, sebuah pukulan dasyat tampak diarahkan pada wajah gurunya. Sayangnya serangan itu luput dikarenakan sang guru yang berkelit ke samping. Pada saat bersamaan, sebuah pukulan siku sang guru telak mengenai rahang Bobby, kemudian disusul dengan lutut sang guru yang bersarang di ulu hatinya. Tak ayal, pemuda itu pun tersungkur sambil meringis kesakitan. Belum sempat Bobby bangkit, tiba-tiba sebuah tendangan sudah mengarah ke pinggangnya. Mengetahui itu, serta-merta Bobby berguling berapa meter, kemudian segera bangkit dan memasang kuda-kudanya. Tak lama kemudian, pertarungan kembali berlanjut. Keduanya saling serang dan menangkis dengan jurus-jurus mematikan, hingga akhirnya Bobby berhasil menyusupkan pukulan dan telak mengenai dada 152 gurunya. Pada saat itu, sang guru terlihat mundur beberapa langkah. Mengetahui itu, Bobby tidak menyiakan kesempatan. Namun ketika Bobby hendak melancarkan serangan, tiba-tiba "Cukup, Nak!" teriak sang guru yang tak menghendaki Bobby celaka, sebab saat itu sang guru sudah memproteksi diri dengan tenaga dalamnya. Mendengar itu, serta-merta Bobby membatalkan serangannya. Kemudian dia segera melangkah dan menghormat pada sang guru. "Perkembanganmu sungguh pesat, Nak. Terus-terang aku bangga sekali," komentar sang guru bangga. "Terima kasih, guru. Ini semua berkat tempaan guru yang begitu keras padaku." "Hehehe...! Akhirnya kau mau mengakui juga kalau perlakuanku yang keras itu telah membuatmu berhasil mengusai jurus-jurus yang kuajarkan." Tak lama kemudian, sang guru sudah memberikan jurus baru padanya. Pada saat itu Bobby tampak serius memperhatikan gerakan-gerakan yang indah namun sangat mematikan. Dan tak lama 153 kemudian, dia sudah mulai mengikuti gerakan gurunya hingga akhirnya dia hafal dan bisa melakukan gerakan itu sendiri. Sementara itu di tempat berbeda, Randy dan Lara tampak sedang membicarakan rencana Randy untuk pergi keluar negeri. Saat itu mereka duduk berdampingan di atas sofa empuk yang ada di ruang tengah rumah Lara. "Tapi, Kak. Bagaimana mungkin kau bisa meninggalkan perusahaanmu?" "Mungkin saja. Perusahaanku itu kan sudah bersistem, jadi bisa tetap operasional walaupun tanpa kehadiranku. Karenanyalah aku memutuskan untuk pergi keluar negeri, sebab usaha baruku di sana justru tidak mungkin berjalan tanpa kehadiranku." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, berapa lama kau akan berada di sana?" "Ya, sampai usahaku di sana juga sudah bersistem. Namun, kau jangan khawatir! Sewaktu-waktu aku pasti pulang untuk menemuimu? Lagi pula, sekali-sekali aku perlu juga memantau langsung perusahaanku di sini." 154 Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincang, hingga akhirnya Lara bangkit dari duduknya dan melangkah ke dapur. Tak beberapa lama kemudian, dia sudah kembali dengan segelas kopi di tangannya. "Ini Cappuccino-nya, Kak," kata Lara seraya memberikan kopi itu kepada kekasihnya. Pada saat itu Randy langsung menanggapi kopi itu dan memperhatikannya sejenak. "Kok pakai es, Ra? Apa kau tidak tahu kalau aku lagi batuk?" tanyanya kemudian. "Maaf, Kak. Aku pikir biarpun lagi batuk, kau mau tetap pakai es. Kau sih tadi tidak bilang kalau tidak mau pakai es." "Uhuk Uhuk! Aduh, Lara. Mana perhatianmu padaku, masa aku lagi batuk malah diberi es. Kau ini seharusnya tahu kalau orang yang lagi batuk itu tidak boleh minum es." Saat itu Lara sedikit jengkel dengan sikap Randy yang seperti itu. Dalam hati dia pun jadi menggerutu sendiri, "Dasar pria tidak tahu terima kasih. Sudah untung aku mau membuatkannya kopi. Eh, dia malah 155 protes. Malah akulah disangka tidak perhatian. Mana aku tahu kalau dia peduli dengan sakitnya, bukankah banyak orang yang memang tidak peduli dengan sakitnya. Biarpun lagi batuk tetap saja mau minum es." "Ra, kenapa diam? Apa kau tidak mendengar pertanyaanku tadi?" "Baiklah, sini kopinya. Biar aku ganti dengan yang tidak pakai es." "Maaf ya, Ra! Aku tadi tidak bilang karena kupikir kau itu wanita yang penuh perhatian, tapi ternyata memang belum sepenuhnya. Aku janji, lain kali aku pasti akan bilang." "Iya aku mengerti. Soalnya tadi aku menduga kau tidak mungkin bisa menghilangkan kebiasaanmu minum cappuccino pakai es. Dan aku takut jika aku membuatkanmu kopi tanpa es, nanti kau bilang aku ini tidak pengertian," jelas Lara seraya melangkah ke dapur. Pada saat yang sama, Randy tampak merenungkan perkataan Lara barusan. Keinginannya 156 untuk selalu diperhatikan ternyata tidak pada tempatnya, sehingga terjadilah ketidakselarasan antara perhatian dan pengertian. Tak lama kemudian Lara sudah kembali dengan membawa cappuccino tanpa es. Saat itu Randy langsung menjelaskan perihal renungannya tadi, hingga akhirnya Lara pun mengerti dan menganggap hal itu hanyalah sebagai miss communication. Kini kedua muda-mudi itu sudah kembali berbincang-bincang dengan penuh keceriaan. Saat ini mereka sudah lebih mengerti kalau berbagai hal sepele juga bisa menjadi besar jika keduanya tidak mau saling terbuka. Dan karenanyalah, setiap saat mereka selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas keterbukaan itu agar segala bentuk miss communication bisa dieliminasi hingga sekecil mungkin. Dan karenanyalah, Lara pun berniat untuk mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. "Kak, sesungguhnya aku... " Lara tidak melanjutkan kata-katanya "Sesungguhnya apa, Sayang... Ayolah, katakan saja jangan sungkan-sungkan!" 157 "Kak, sebetulnya a-aku tidak mau kau pergi ke luar negeri. Sesungguhnya aku ini wanita yang egois dan sama sekali tidak peduli dengan karirmu." "Aku bisa mengerti, Sayang... Sebetulnya keegoisanmu itu sangat manusiawi. Kalau kau mau tahu, sebetulnya aku pun sangat berat meninggalkanmu, namun karena semua sangat penting, aku terpaksa harus melakukannya. Karenanyalah, aku meminta kepadamu untuk bisa mengorbankan keinginanmu itu demi untuk masa depan kita, dan masa depan anak-anak kita kelak." "Tapi, Kak. Apakah dengan perusahaan yang sekarang tidak cukup?" "Sayang... ketahuilah. Aku tidak bisa menjamin kalau perusahaanku itu tidak akan collapse. Karenanyalah aku perlu membangun usaha lain yang jika perusahaanku itu collapse aku masih mempunyai perusahaan lain sebagai cadangannya. Bukankah mempunyai dua keranjang telur lebih baik ketimbang hanya mempunyai satu keranjang. Dan andai satu 158 keranjang telur itu jatuh, kita masih mempunyai keranjang yang lain." "Benarkah itu keinginanmu yang sesungguhnya, yaitu untuk masa depan kita dan bukan karena demi karirmu semata." Randy mengangguk. "Maafkan aku, Kak. Semula aku sudah berburuk sangka kalau keinginanmu itu hanyalah karena keegoisanmu yang lebih mementingkan karir ketimbang diriku." "Sudahlah, Sayang... aku bisa mengerti kenapa kau bisa berpikiran seperti itu." Lantas kedua muda-mudi itu saling berpandangan dengan sangat dalam, kemudian mereka pun saling berciuman dengan mesranya. Sungguh indah dan membahagiakan sekali andai hal itu mereka lakukan di dalam sebuah ikatan yang sakral. 159 Keesokan harinya, di negeri yang ada di sebelah Barat sana. Mentari tampak bersinar dengan teriknya. Pada saat itu, di atas hamparan hutan pinus yang lebat, seekor elang tampak berputar-putar mencari mangsa. Ketika melihat seekor kelinci, tiba-tiba si penakluk angkasa itu menukik tajam dengan sangat cepatnya menuju mangsa yang sama-sekali tak menyadari kalau bahaya sedang mengancam. Sementara itu, tak jauh dari pondok kayu yang ada di tengah hutan yang sama. Seorang pemuda tampak sibuk membelah kayu bakar di bawah rindangnya sebuah pohon besar. Dan setelah di rasa cukup, pemuda itu tampak beristirahat di beranda kayu sambil mengelap peluh di tubuhnya. "Ini minumannya, Kak," kata Li Qin memberikan segelas air putih yang langsung ditenggak Bobby sampai habis. "Eng, mau kuambilkan lagi, Kak?" "Terima kasih, Li. Sudah cukup." "O ya, Kak. Kata kakek, belum lama ini beliau melihat beberapa polisi menyisir wilayah ini dengan 160 membawa anjing pelacak. Mereka itu sedang mencari seseorang yang diduga selamat dari ledakan, sebab mereka menemukan jejak darah yang mengarah ke hutan ini." "Jejak darah? Aneh... bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan jejak darah, sedang saat ditemukan aku tengah mengapung di aliran sungai. Hmm... apa mungkin ada orang lain yang selamat?" "Mungkin saja, Kak. Sebab kau saja bisa selamat kenapa yang lain tidak." Bobby dan Li Qin terus berbincang-bincang mengenai orang yang sedang dicari itu. Sementara itu di tempat berbeda, Lara tampak sedang menangis. Rupanya gadis itu masih merasa berat untuk melepaskan kepergian Randy keluar negeri. Ingin rasanya dia menahan pemuda itu untuk tidak meninggalkannya, namun di sisi lain dia tidak mau menghambat karir orang yang begitu dicintainya, yang katanya demi untuk masa depan mereka dan anak-anak mereka kelak. 161 "Sudahlah, Ra. Kau jangan sedih begitu, nanti bisa-bisa aku tidak jadi berangkat." Mendengar itu, Lara langsung menghapus air matanya. Kemudian dia menatap kekasihnya itu sambil mencoba tersenyum. "Kau harus berangkat, Kak! Lihatlah, kini aku sudah tidak sedih lagi!" "Nah, begitu dong. Sekarang kan aku jadi lega untuk berangkat. Sudah ya, Sayang... Jika ada umur, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu." Setelah saling berciuman dan berpelukan mesra, Lara tampak memperhatikan Randy yang kini melangkah menuju ruang tunggu. Pada saat itu Lara benar-benar sedih, di hatinya ada kekhawatiran yang amat sangat. Seketika itu juga di benaknya terbayang perasaan pilu, dimana pada saat itu dia tak bisa bertemu lagi dengan sang kekasih tercinta. Kini gadis itu tampak duduk termenung memikirkan berbagai hal yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Saat itu dia sempat membayangkan kalau pesawat yang ditumpangi suaminya terjatuh di tengah lautan dan tak ada seorang pun penumpangnya bisa selamat, namun 162 pada akhirnya kekhawatirannya itu pun lenyap karena dia kembali teringat akan doa yang akan dikabulkan Tuhan. Saat itu juga dia pun langsung berdoa memohon keselamatan atas kekasihnya tercinta. 163 ENAM Setelah keberangkatan Randy, Lara memutuskan untuk menetap di Yogyakarta. Dia memang sudah berniat untuk memulai hidup baru di kampung halamannya. Sambil menunggu Randy kembali, dia akan mengembangkan keahliannya sebagai seorang penari. Saat ini dia sedang duduk di tengah-tengah pendopo, menunggu teman-temannya yang akan berlatih tari bersama. Tak lama kemudian, tempat itu sudah dipenuhi oleh gadis-gadis cantik yang akan menari. Setelah semuanya berkumpul, mereka pun mulai latihan. Suara gamelan terdengar merdu mengiringi gadis-gadis itu. Lenggak-lenggok tubuh indah semampai tampak begitu gemulai, membawakan sebuah cerita Ramayana. Lara yang berada di tengah-tengah tampak begitu riang. Senyumnya yang menawan mengembang bersamaan dengan gerakannya yang begitu indah. 164 Sementara itu, dari balik pepohonan sepasang mata tampak terus mengawasinya. "Hmm... Indah sekali. Gadis itu memang pandai menari," kata orang itu kagum. Setelah puas mengawasi, akhirnya orang itu pergi meninggalkan tempat persembunyiannya. Sementara itu di tempat lain yang begitu jauh jaraknya, seorang pemuda tampak sedang meniup bola teka-tekinya-mencari irama yang sesuai agar bola itu bisa terbelah. "Hmm... seperti apa bunyi irama yang harus kubuat itu, apakah harus sedih atau riang?" tanya Bobby sambil terus berpikir mengenai Bola teka-tekinya. Bahkan saking seriusnya, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau Li Qin sudah berada di sisinya. "Alat musik apa itu, Kak?" tanya gadis itu heran. Seketika Bobby menoleh, memperhatikan wajah manis yang kini menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Ini bukan alat musik, Sayang. Namun sebuah bola teka-teki," jawab Bobby seraya menjelaskan perihal bola teka-teki itu lebih jauh. "Kalau begitu, boleh aku mencobanya?" 165 "Silakan saja," kata Bobby seraya menyerahkan bola itu pada kekasihnya. Tak lama kemudian, Li Qin sudah meniup bola itu. Kini dia tampak mengenali nada-nada yang dihasilkan dari setiap lubang. Dan setelah agak lama, akhirnya dia bisa menciptakan irama yang terdengar indah. Namun karena yang dihasilkan bukan irama yang sesuai, maka bola itu pun tetap tak bisa terbelah. Karena sesungguhnya urutan nada itu adalah kunci kombinasi yang secara mekanik bisa membuka pengunci yang ada di dalamnya. "Indah sekali kedengarannya, Sayang... " komentar Bobby kagum. "Itu terjadi karena aku memainkannya dengan penuh perasaan, Kak." Mengetahui itu Bobby langsung berpikir. "Emm... jadi harus dengan perasaan. Tapi... perasaan seperti apa, perasaan senang atau sedih?" tanyanya masih belum mengerti. "Sayang... coba kau memainkannya dengan perasaan sedih!" pintanya kemudian. 166 Li Qin pun menurut, dia segera memainkannya dengan perasan sedih, sehingga irama yang dihasilkan pun terdengar begitu memilukan. "Cukup, Sayang.... sekarang coba dengan perasan senang." Lagi-lagi Li Qin menurut. Kini dia memainkannya dengan perasaan senang sehingga terdengarlah irama yang terdengar begitu riang. "Cukup, Sayang!" pinta Bobby. Kemudian pemuda itu kembali berpikir, "Emm... keduanya terdengar sangat indah. Hanya saja iramanya belum sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pembuatnya. Kalau begitu, mau tidak mau bola itu harus dimainkan setiap saat dan dengan irama yang berbeda-beda." "Kak, apa yang kau pikirkan?" tanya Li Qin. Mendapat pertanyaan itu, Bobby langsung memberitahu. Hingga akhirnya, Li Qin pun bisa memahami. "Emm... Kalau begitu, bolehkah aku meminjam bola ini agar setiap saat aku bisa memainkannya!" 167 "Tentu saja, Sayang... mainkanlah bola itu sesukamu. Terus terang, kau lebih mahir memainkannya ketimbang diriku." Betapa senangnya Li Qin saat itu, dan tak lama kemudian terdengarlah irama riang yang sangat sesuai dengan perasaannya saat itu. Sementara itu di tempat lain, Lara sedang memperhatikan foto Randy yang ada di liontinnya, saat itu dia tampak tersenyum sendiri, teringat dengan ciuman Randy. "Oh Randy... bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu, kenangan indah kita tak mungkin kulupakan." Kini dia kembali memandang foto Randy yang terpasang di liontinnya, kemudian melekatkannya di bibir dan menciumnya mesra. Sejenak kembali ditatapnya foto itu, lalu segera didekapnya erat. "Kak... kapan kau akan kembali? Sesungguhnya aku sudah begitu merindukanmu. Hmm... Aku heran, kenapa belakangan ini kau jarang memberi kabar padaku. Bahkan sekarang, sudah dua bulan lebih kau belum juga memberi kabar apa-apa. Terus terang, aku begitu tersiksa, siang dan malam aku selalu 168 merindukanmu. Apakah kau memang terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, atau... " Tiba-tiba di benak gadis itu sudah terbayang sebuah peristiwa yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Dalam bayangannya itu, Lara melihat Randy tampak sedang asyik berbincang-bincang dengan seorang sekretarisnya yang cantik. Dan karena gadis itu juga sangat memikat hati, lantas Randy pun tergoda. Apa lagi saat itu Randy sedang jauh darinya, tentulah ia merasa rindu dan kesepian. Sungguh tidak mustahil jika seorang pria yang mengalami kondisi demikian menjadi khilaf dan akhirnya menjadikan wanita itu sebagai pelampiasannya. Kini Lara sudah membayangkan bagaimana kekasihnya itu sudah berbuat melebihi batas, dia melakukan hubungan intim di ruang kantornya setiap ada kesempatan. Sungguh saat itu Lara sangat kecewa dengan sikap Randy yang berada di fantasinya. Seketika Lara menarik nafas panjang dan mengelus dadanya, "Itu tidak mustahil dilakukannya. Bukankah selama kami berduaan dia memang 169 terkadang suka tak terkendali dan mengajakku berbuat begitu, namun karena aku masih bisa menjaga diri maka perbuatan itu tak pernah terjadi. Andai waktu itu aku menurutinya, mungkin sekarang aku sudah tidak suci lagi. Tapi, jika kejadian serupa terjadi di sana dan gadis sekretarisnya itu mau saja, tentu mereka akan melakukannya." Lagi-lagi Lara menarik nafas panjang dan mengelus dada karena membayangkan orang yang dicintainya melakukan hal yang tak sepatutnya. Belum reda kecemasan gadis itu akibat fantasinya sendiri, tiba-tiba saja dia mendengar suara ketukan di pintu kamar. "Siapa?" tanyanya kepada orang mengetuk pintu. "Ini aku, Ra. Winda..." "O, kau!" kata Lara seraya bergegas membukakan pintu. "Ada apa?" tanyanya kemudian." "Ini, pesananmu." "O, jadi sudah selesai. Kok tumben bisa secepat ini?" 170 "Kau jangan meremehkan aku, Ra. Jelek-jelek begini aku bisa juga profesional loh." "Kau jangan marah dong, aku kan cuma bercanda." Gadis yang bernama Winda itu tampak tersenyum, sebuah pertanda kalau ia sama sekali tidak marah. "Sudah ya, Ra. Aku pergi dulu karena masih banyak kerjaan lain," pamit gadis itu kemudian. "Iya, Win. Terima kasih ya!" "Sama-sama," ucap Winda seraya bergegas pergi. Kini Lara mencoba gaun yang dipesannya itu, dan dia tampak begitu cantik ketika mengenakannya. "Winda memang hebat, gaun ini pas sekali di tubuhku." Lara tampak berputar di depan cermin, dan dia bangga sekali memakainya. Tubuhnya yang semampai begitu serasi dengan gaun biru yang dikenakannya. "Apa ya komentar teman-teman jika melihat gaun ini, apakah mereka akan memujiku. Hmm.. aku rasa memang begitu." 171 Lara terus bergaya di depan cermin, dan dia tak henti-hentinya mengagumi diri sendiri. Terbayang sudah bagaimana para pria nanti akan terkagum-kagum melihat keindahan tubuhnya yang semampai dengan gaun yang juga indah. Bagaimana mata mereka akan terbelalak dan memuji dirinya sebagai gadis yang paling cantik. Sungguh saat itu dia sama sekali tidak memikirkan perasan Randy, yang bila saja tahu mengenai isi hatinya itu tentu akan membuatnya cemburu. Bagaimana mungkin dia bisa rela jika keindahan tubuh kekasihnya dibagi-bagi dengan pria lain, walaupun cuma sebatas pandangan. Idealnya sebagai pria yang merasa terhormat, tentu menginginkan gadis pujaannya itu seutuhnya hanya untuk dirinya. Layaknya putri raja yang terhormat, yang tak sembarang pria boleh melihatnya. Malam harinya, di tempat pesta. Lara tampil bagaikan seorang putri yang begitu cantik. Pada saat 172 itu, hampir semua mata pria terpana dengan kecantikannya. "Selamat, ya! Semoga panjang umur. O ya, aku minta maaf karena datang terlambat sehingga tak menyaksikanmu meniup lilin," ucap Lara kepada teman satu sanggarnya yang berulang tahun. "Terima kasih, Ra. Tidak apa-apa kok. O ya, ngomong-ngomong ada yang mau berkenalan denganmu." "Siapa?" tanya Lara penasaran. "Tunggu sebentar, ya!" pinta teman Lara seraya melangkah pergi. Tak lama kemudian, teman Lara sudah kembali bersama dua orang pria tampan. "Kenalkan, Ra. Ini Pak Sasongko, beliau ketua sanggar tari yang terkenal itu. Dan yang ini seorang choreographer, namanya Rahman." "Saya Lara, senang berkenalan dengan kalian." "O ya, maaf! Aku harus menemui tamu-tamu yang baru datang itu. Silakan kalian berbincang-bincang dan nikmatilah suasana pesta ini dengan penuh suka cita." 173 Kini Lara dan kedua pemuda yang baru dikenalnya itu tampak berbincang-bincang mengenai tari tradisional yang menjadi dunia mereka, hingga akhirnya mereka mulai akrab dan perbincangan pun semakin jauh berkembang. "Begitulah, Dik Lara," jelas Pak Sasongko mengakhiri ceritanya mengenai kesibukannya sehari-hari sebagai pimpinan sanggar. "O ya, Dik. Kebetulan hari ini aku ada pertemuan penting dengan seseorang, dan karenanyalah aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Nah, sebaiknya sekarang aku mohon diri. O ya, di lain waktu aku harap kita bisa berbincang-bincang lagi mengenai dunia kita ini!" "Tentu saja, Pak. Dengan senang hati," kata Lara seraya tersenyum. "O ya, Rahman. Jangan lupa untuk mempresentasikan tarian barumu besok pagi." "Baik, Pak," jawab Rahman. "Sudah ya, aku mohon diri sekarang." Setelah pamit dengan Lara dan Rahman, Pak Sasongko segera melangkah menemui teman Lara 174 yang sedang berulang tahun, dan setelah itu dia pun bergegas meninggalkan ruang pesta. Pada saat yang sama, Lara dan Rahman tampak sedang membicarakan sesuatu yang menarik. "Hmm... Jadi gerakan tari modern yang kau ciptakan itu semuanya terinspirasi dari tari tradisional?" tanya Lara perihal tarian baru yang diciptakan Rahman. "Betul, Ra. Karenanyalah aku sangat suka berkecimpung di dunia tari tradisional ini, yang mana dari setiap gerakan yang sudah bagus itu bisa aku modifikasi sehingga menjadi gerakan baru yang lebih modern. Terus-terang, aku melakukan ini karena merasa terpanggil untuk membuat tarian modern yang indah namun tidak membuat yang melihatnya menjadi berpikiran macam-macam." "Eng... maksud Kakak dengan berpikiran macam-macam itu apa?" "Begini, Ra. Setiap orang mempunyai sudut pandang berbeda terhadap sesuatu yang dilihatnya, dan itu tergantung dari pengetahuan yang didapatnya. 175 Misalkan aku sendiri yang selama ini sudah mempelajari seni tari dengan sangat mendalam, sehingga aku bisa memandang gerakan tari itu sebagai suatu hasil kreasi seni yang patut dilestarikan. Sebab setiap kali aku menyaksikan tari, aku betul-betul mendapatkan pesan yang positif yang membuatku menjadi lebih baik. Dan semua itu dikarenakan pesan yang ingin disampaikan oleh pencipta tarian itu bisa aku tangkap dengan baik. Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang yang tidak mengerti seni tari, mereka tentu hanya melihat dari sudut pandang yang dangkal, yaitu hanya sebatas gerakan indah yang menghibur. Dan gerakan indah yang menghibur itu pun bisa dimaknai berbeda tergantung dari persepsi orang yang melihatnya. Jika persepsi itu positif tentu tidak menjadi masalah, namun jika itu negatif tentu akan menjadi sebuah masalah. Karena itulah sebagai seorang choreographer aku merasa berkewajiban menciptakan kreasi seni yang betul-betul bisa dinikmati secara positif oleh orang yang tidak mengerti seni sekalipun. 176 Intinya adalah aku tidak mau orang menjadi menyalahgunakan seni untuk hal-hal yang tidak baik. Sebab lahirnya seni itu bertujuan untuk menumbuhkan kebaikan, bukan justru malah sebaliknya." "O, jadi begitu. Aku kira cuma narkoba saja yang bisa disalahgunakan, tapi ternyata seni juga bisa disalahgunakan ya." "Ya begitulah kehidupan di dunia. Selama orang masih belum bisa mendapatkan informasi yang baik dan benar tentu penyalahgunaan terhadap hal apapun tentu masih akan terus terjadi. Dan karenanyalah, sebagai orang yang mengetahui informasi itu aku merasa berkewajiban menyampaikan apa yang kutahu itu kepada mereka yang belum mengetahuinya. Dengan harapan, suatu hari kelak mereka bisa menikmati seni sebagaimanamestinya. Dan selama ini pun, aku terus berusaha keras untuk bisa menciptakan kreasi seni yang juga dibarengi dengan informasi yang baik dan benar." "Kau betul, Kak. Tanpa itu semua bagai mana mungkin orang yang tak mengerti seni akan bisa 177 memahami sebuah karya seni sebagai seni. Contohnya ketika aku menyaksikan pagelaran tari modern, aku sama sekali tidak mengerti maksud dari semua gerakan itu. Choreographer-nya cuma bilang itu adalah kreasi seni, namun sayangnya dia sama-sekali tidak menjelaskan seninya itu bagaimana. Tidak seperti tari tradisional yang kugeluti selama ini, kalau sesungguhnya setiap gerakan di dalamnya punya makna yang mendalam. Sehingga aku pun bisa merasakan gerakan itu adalah sebuah seni, seninya adalah kepiwaian penciptanya dalam menyampaikan sebuah pesan melalui gerakan yang indah." Kedua muda-mudi kini tampak terdiam, sepertinya mereka benar-benar sedang merenungkan apa yang baru mereka bicarakan itu. Hingga akhirnya, mereka pun kembali bercakap-cakap dengan perbincangan yang kali ini jauh lebih berbobot. 178 Esok harinya, di negeri Paman Sam, di tengah hutan di salah satu negara bagian. Sepasang muda-mudi tampak sedang menjelajahi lereng bukit yang terjal, keduanya tampak bergandengan tangan sambil menikmati aroma pohon pinus yang tumbuh di sepanjang jalan. Panorama lembah yang terlihat dari jalan setapak yang mereka lalui tampak begitu indah, birunya danau kecil yang dikelilingi lebatnya pepohonan pinus dan berlatar belakang bukit kecil yang menghijau sungguh menyejukkan mata. Apalagi ditambah dengan kicauan burung yang bernyanyi riang, suara dengung serangga yang menggetarkan sayap, gemercik air terjun kecil yang menentramkan, dan juga nyanyian katak yang riang bermain di aliran selokan yang jernih sungguh menciptakan simfoni alam yang menentramkan. "Kita istirahat di tempat ini saja, Kak! Lihatlah! Pemandangan dari tempat ini sungguh indah," kata Li Qin seraya duduk atas sebuah batu yang tak begitu jauh dari terjun kecil itu. 179 "Kau benar, Sayang... betapa damai hati ini bila setiap saat bisa menikmati keindahan seperti ini." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, kapan kita bisa membina hubungan cinta kita ini ke arah yang lebih jauh. Terus terang, aku mendambakan seorang bayi yang nantinya akan melengkapi kebahagiaan kita." "Hmm... benarkah yang kau katakan itu? Apakah kau memang sudah siap untuk itu?" Li Qin menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku akan segera bilang pada kakek untuk menikahimu. Tapi..." Tiba-tiba Bobby teringat dengan sesuatu hal yang penting, dan karenanyalah dia pun menjadi begitu berat untuk mengungkap hal yang sebenarnya. "Tapi apa, Kak?" "Li Qin... maaf kalau aku belum bisa mengatakannya sekarang," katanya terus terang. "O ya, Sayang... bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan!" ajaknya kemudian. Li Qin mengangguk, kemudian gadis itu segera berdiri dan kembali melangkah bersama kekasihnya. 180 Kedua anak manusia itu terus melangkah hingga akhirnya mereka tiba atas bukit. "Lihat itu, Kak!" Seru Li Qin gembira ketika melihat sebuah pohon bunga yang tumbuh di dekat bebatuan. Lalu dengan segera gadis itu berlari menghapiri pohon itu dan memetik bunganya yang berwarna biru. Saat itu Bobby tampak memperhatikan bunga itu dengan penuh seksama, "Hmm... itukah bunga yang dikatakan kakek bisa membuka simpul-simpul energi tersembunyi dalam diriku?" tanya Bobby heran. Li Qin mengangguk, saat itu di wajahnya tersungging sebuah senyum yang membahagiakan. "Hmm... aku sungguh tidak menyangka kalau bunga sekecil ini telah diciptakan Tuhan untuk membuat manusia menjadi lebih kuat," kata Bobby kagum. "Ini adalah bunga Nafas Dewa, yang mana leluhurku mempercayai kalau bunga ini dulunya tumbuh di sorga, dan ketika di bawa turun ke bumi bunga itu akhirnya mati. Lalu untuk menghidupkan bunga itu kembali, Dewa pun memberikan nafasnya 181 hingga akhirnya membuat bunga itu hidup dan terus berkembang sampai hari ini. Leluhurku percaya karena nafas Dewa yang ada di bunga itulah yang bisa membuat manusia menjadi kuat. Bunga ini tumbuh hampir di semua dataran tinggi, namun sangat sulit ditemukan karena hanya berbunga di saat hari Peh-cun bulan Cia-gwee, dan disaat hawa bumi dan langit (Im-yang) sedang bertemu. Hawa itu pun hanya berlangsung beberapa menit saja." Bobby tersenyum saja mendengar penjelasan Li Qin, dalam hati dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya. Menurutnya, bunga itu menjadi istimewa bukanlah karena nafas Dewa, namun dikarenakan Tuhan memang telah menciptakan berbagai zat yang secara hukum alam bisa membuka simpul-simpul energi sehingga membuat manusia menjadi lebih kuat. Bunga itu termasuk bunga langka yang regenerasinya sangat lambat, ia membutuhkan berbagai faktor alam demi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 182 Setelah mendapat apa yang mereka cari, akhirnya kedua muda-mudi itu kembali pulang. Dalam perjalanan, mereka terus bercakap-cakap sambil sesekali menikmati panorama senja yang tampak begitu indah. Pada saat yang sama, di kota pelajar negeri zambrut katulistiwa. Beberapa penari tampak gemulai membawakan cerita Ramayana, gerakannya yang lemah lembut tampak begitu harmonis dengan bunyi gamelan yang mengiringinya. Salah satu dari penari itu adalah Lara, yang kini sudah semakin mahir dengan berbagai gerakan yang mengikuti pakemnya. Usai menari, gadis itu tampak berganti pakaian, kemudian melangkah ke sebuah restoran yang tak begitu jauh dari sanggar tarinya. "Maaf ya kalau lama menunggu!" ucap gadis itu kepada seorang pria yang dikenalnya di saat pesta ulang tahun waktu itu. "Tidak apa-apa, yang penting sekarang kan kita sudah bertemu," kata pria itu seraya bangkit dari duduknya. "Dik Lara, bagaimana kau kita ngobrol di sana saja!" ajak pria itu seraya melangkah bersama 183 menuju meja yang ada di sudut ruangan. Kini keduanya sudah duduk di tempat itu dan segera memesan makanan dan minuman. Tak lama kemudian, keduanya sudah menikmati pesanan itu sambil berbincang-bincang dengan penuh keakraban. "Dik Lara... ternyata dugaanku benar kalau kau adalah gadis yang sangat berbakat. Dulu ketika pertama kali melihatmu menari, aku sudah yakin kalau kau akan menjadi menari yang hebat. Karena itulah kini aku memutuskan untuk mengajakmu bergabung dalam sanggar tari yang kupimpin, yaitu sebuah sanggar tari yang selama ini sudah melanglang buana hingga keluar negeri. Nah, Dik Lara... maukah kau ikut bergabung bersama kami?" "Tentu saja aku mau, Pak. Sebetulnya hal inilah yang selama ini begitu kuidam-idamkan, yaitu menjadi seorang penari profesional." Lara dan orang yang baru dikenalnya itu terus berbincang-bincang dengan penuh antusias. 184 Esok harinya di tengah hutan di sebuah negara bagian Amerika Serikat, Bobby dan Li Qin sedang duduk berdua di bawah rindangnya pohon besar yang tumbuh di samping pondok. Pada saat itu di wajah Bobby terlihat ekspresi kesedihan yang mendalam. "Kak, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Li Qin. "Li Qin... ternyata hubungan cinta kita ini telah membuatku sedih." "Aku sungguh tidak mengerti, Kak. Bukankah selama ini kita selalu berbahagia?" "Ya, kita selama ini kita memang senantiasa bahagia, namun setelah kemarin kau mengungkapkan keinginanmu. Aku pun jadi berpikir, dan akhirnya... " Bobby terdiam. Pemuda itu kembali memikirkan perihal yang telah membebani hatinya. Bagaimana mungkin dia bisa menikahi gadis yang tak seiman dengannya. Padahal selama ini dia sudah begitu mencintainya dan menganggap Li Qin sebagai embun pagi yang senantiasa memberikan kehidupan bagi rumput yang 185 kekeringan. Sungguh selama ini Li Qin sudah membuatnya hidup kembali dan memaknai kehidupan ini dengan penuh arti. "Kak! Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" tanya Li Qin tiba-tiba. Bobby tidak segera menjawab, dia menatap Li Qin dengan mata yang berkaca-kaca. "Sayang... aku berharap kau bisa menerima ini!" ucapnya kemudian. "Menerima apa, Kak?" "Kenyataan pahit yang akan membuat hidup kita bagai tanah tandus yang di atasnya tak mungkin lagi tumbuh rumput hijau yang menyejukkan, indahnya warna-warni bunga yang penuh keindahan, juga keceriaan kumbang dan kupu-kupu yang senantiasa menikmati manisnya sari bunga yang mekar." "Maksudmu?" "Kita harus berpisah... " Seketika air mata Li Qin meleleh, bola matanya menatap dalam penuh makna. Seolah mengatakan kalau ia begitu berat berpisah dan tak mungkin bisa hidup bahagia tanpanya. Melihat itu Bobby tampak tak 186 kuasa, kemudian pemuda itu beranjak dari duduknya dan memandang ke arah bukit. "Kak... kenapa kita harus berpisah?" tanya Li Qin terisak seraya ikut bangkit dan berdiri di samping kekasihnya. "Keyakinan kita. Nafas kehidupan yang tak mudah untuk dikalahkan hanya oleh sebab hasrat dua hati yang saling mencintai. Li Qin... apakah kau rela menukar keyakinanmu demi untuk keutuhan cinta kita?" tanya Bobby seraya memandang mata gadis itu dalam-dalam. "Tidak... itu tidak mungkin, Kak. Sebab, keyakinanku itu adalah anugerah yang membuatku tetap hidup, tanpanya aku bagai orang tersesat yang tak tahu arah tujuan. Terus terang, aku tidak yakin kalau keyakinanmu itu bisa memberi petunjuk kepadaku untuk menentukan arah hidupku." "Demikian juga aku, Li. Karenanyalah aku memutuskan untuk berpisah denganmu. Lagi pula, bukankah cinta itu tidak berarti harus memiliki, namun 187 sebenarnya ketulusan mencintai itulah yang terpenting. Biarpun kau tidak menjadi milikmu, namun aku akan senantiasa menyayangimu. Biarlah keyakinan kita berbeda, namun kasih sayang kita tak akan pernah luntur oleh hanya sebab perbedaan itu." Seketika Li Qin memeluk Bobby erat, dia menangis tanpa berkata sepatah kata pun. Pada saat yang sama Bobby tampak membelainya dengan penuh kasih sayang, membesarkan hatinya agar senantiasa kuat menerima kenyataan pahit yang mereka hadapi. Tak lama kemudian Li Qin sudah melepaskan pelukannya, kemudian menatap Bobby dengan air mata yang terus berlinang. "Kak... maafkan aku karena tidak bisa mengikuti keyakinanmu!" "Aku juga, Li. Maafkan aku karena telah melibatkanmu dengan cinta yang tak seharusnya kita jalani. Andai dari awal aku menyadari kalau akan sesulit ini jadinya, tentu aku tidak akan melibatkanmu." Lagi-lagi Li Qin memeluk Bobby erat, dia kembali menumpahkan kesedihannya yang mendalam dengan 188 terus menangis di bahu orang yang begitu dicintainya. Pada saat itu Bobby tidak lagi mampu berkata-kata, dia hanya bisa membelai sayang dengan mata berlinang. Kedua anak manusia itu terus larut dalam duka, buah dari ikatan yang tak semestinya mereka jalani, yang sebenarnya bisa dihindari jika dari awal mereka mau mengamalkan jiwa kemanusiaan mereka yang berakal. Esok paginya, Bobby sudah siap pergi dengan membawa bekal seadanya. Kini dia tampak berpamitan dengan gurunya yang kini duduk di beranda. Saat itu sang guru tampak sedih, namun sebagai kakek yang bijaksana dia rela melepaskan kepergian sang Murid yang kini baru mengusai sebagian ilmunya. Setelah berpamitan, Bobby tampak melangkah bersama kekasihnya yang mengantar hingga ke 189 pekarangan. Tak lama kemudian, kedua anak manusia itu saling berpelukan, lalu dari mata keduanya tampak mengalir air mata perpisahan. "Selamat tinggal, Sayang...!" ucap Bobby seraya melepaskan pelukannya. "O ya, Kak. Ini bola teka-tekimu." "Li, sebelum aku pergi, maukah kau mainkanlah sebuah lagu untukku!" "Tentu saja, Kak." Li Qin pun segera merangkai nada-nada yang keluar dari bola teka-teki itu dengan baik sekali, sehingga saat itu terdengarlah irama yang begitu indah dan membahagiakan. Irama itu terdengar tidak sedih namun juga tidak riang, irama yang saat itu menggambarkan nuansa hatinya yang kini sudah bisa merelakan kepergian kekasihnya. Tiba-tiba TREK! TEK! Bola teka-teki itu terbelah dua, dan di dalamnya terdapat selembar kulit hewan yang bertuliskan sebuah pesan yang bisa membahagiakan orang yang membacanya dengan penuh penghayatan. 190 "Kau bisa membukanya, Li!" seru Bobby gembira. "Ini pesan itu, Kak," kata Li Qin seraya menyerahkan pesan yang baru dibacanya. Bobby lantas segera menanggapi dan membacanya dengan penuh penghayatan. \ "Hmm... kini aku mengerti. Itulah makna cinta yang sesungguhnya." "Kak, bisakah kau menjelaskannya padaku?" "Tentu saja, Sayang... " Bobby pun segera menjelaskan makna yang terkandung di dalam pesan itu, hingga akhirnya Li Qin bisa memahami dan membuat hatinya benar-benar bahagia. "Ternyata kita memang harus berpisah, Kak," kata gadis itu mengerti. "Kau betul, Sayang... " "O ya, Ini bolanya, Kak." "Simpan saja untukmu! Bukankah kau sangat menyukainya. Lagi pula, aku kan sudah tahu isinya, dan bola itu memang sangat pantas kau miliki karena kau pandai memainkannya." 191 "Terima kasih, Kak." ucap Li Qin. Bobby mengangguk. "Selamat tinggal Li... " ucapnya seraya tersenyum. "Selamat jalan, Kak..." balas Li Qin ikut tersenyum. Sebuah ekspresi yang menandakan kalau dia pun benar-benar sudah siap berpisah. Pada saat itu, batin Bobby betul-betul terasa ringan karena melihat Li Qin yang juga bisa tersenyum-pertanda kalau dia sudah betul-betul bisa menerima perpisahan itu dengan tanpa beban sedikitpun. Hingga akhirnya pemuda itu melangkah meninggalkan orang yang begitu dicintainya. Bobby terus melangkah dan melangkah. Dalam hati, pemuda itu berdoa kepada Tuhan agar orang yang dicintainya itu diberikan hidayah sehingga bisa meninggalkan keyakinannya. Sementara itu, Li Qin yang masih terus memperhatikan kepergian orang yang dicintainya itu juga berdoa kepada Tuhannya agar Bobby mau meninggalkan keyakinannya. Begitulah cinta, yang dengan kekuatannya telah membuat kedua anak 192 manusia itu mau saling mendoakan karena rasa saling menyayangi. 193 TUJUH Seminggu kemudian, Bobby sudah kembali ke Jakarta-sebuah tempat di mana pertama kalinya dia mengenal cinta. Sebuah perasaan yang penuh misteri dan telah membuatnya hanyut di dalam aliran cinta yang begitu dasyat. Terkadang membuatnya bahagia, dan terkadang pula membuatnya menderita. Pemuda itu menyesal karena selama ini telah salah memperlakukan cinta sehingga membuatnya sakit dan menderita. Sesungguhnya cinta itu bagaikan candu yang bila salah memperlakukannya bisa menghancurkan orang yang memilikinya. Jika ia diperlakukan tanpa tanggung jawab memang akan terasa nikmatnya, bahkan sangat membahagiakan-terasa melayang di atas indahnya negeri impian. Namun sayangnya semua itu hanya sementara, bahkan berbalik menjadi sangat menyakitkan. Dan jika ia diperlakukan dengan 194 penuh tanggung jawab akan membawa kepada manfaat yang akan menjadikan seseorang bisa terus bertahan dalam menjalani kehidupan. Karena itulah, Bobby pun bertekad untuk memperlakukan cinta dengan penuh bijaksana demi untuk kebaikannya. Jangan sampai dia salah dalam menangani cinta yang bisa menyebabkan penderitaan, bahkan mungkin kematian. Cinta yang di dalamnya terdapat 1001 macam teka-teki adalah sumber segala petaka dan kebahagiaan di muka bumi ini. Oleh sebab itu cinta bisa menimbulkan berbagai macam perasaan dan prilaku yang baik maupun buruk, yaitu kedamaian, kebahagiaan, kerinduan kegelisahan, kebencian, pengkhianatan, kesetiaan, dan masih banyak lagi. Lantas seketika Bobby kembali teringat dengan pesan yang terdapat di dalam bola teka-teki. Dari serpihan yang bertebaran, terangkai sudah teka-teki kehidupan. Petunjuk Tuhan pada setiap insan, untuk mengenal arti kehidupan. Hati yang bersih membuka hati, menyangka Tuhan bermurah 195 hati. Zikir dan pikir sepanjang hari, cahaya Illahi menerangi hati. Andai Insan mau mengerti, tentu hidup akan berarti. Tak ada gundah di dalam hati, sebab cinta Tuhan tak pernah mati. Itulah cinta yang sesungguhnya, yang kini mulai dipahami Bobby sebagai anugerah yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Kini dia betul-betul menyadari kalau cintanya kepada makhluk adalah atas dasar cintanya kepada Tuhan, dan karenanyalah jangan sampai dia mengulangi perbuatannya yang lampau, yang mana telah menodai cintanya kepada Tuhan. Betapa selama ini dia sudah merendahkan derajat kemanusiaannya hingga setara hewan, dan perbuatan itu sungguh sangat rendah di mata Tuhan sehingga tak pantas baginya untuk mendapatkan cinta-Nya yang tak pernah mati itu. Kini setelah semua kekhilafannya yang disesali dengan sebenar-benarnya menyesal, dan tekadnya yang kuat untuk tidak mengulanginya lagi tentu Tuhan akan memaafkan dan senantiasa mencintainya. 196 Kini pemuda itu sedang menuju ke rumah sahabatnya yang bernama Randy. Begitu sampai di tempat itu Bobby tampak kecewa, dia sama sekali tidak menduga kalau Randy sedang berada di luar negeri. "Emm... kalau begitu sebaiknya aku langsung menemui Lara saja," gumam Bobby seraya melangkah pergi. Seketika pemuda itu teringat kembali dengan gadis yang dulu sangat dicintainya itu. Dan entah kenapa, tiba-tiba saja perasaan itu hadir kembali. Sungguh perasaan yang sama disaat mereka masih bersatu, bahkan dia pun merasa kalau perpisahannya dengan Lara belumlah lama. Namun setelah dia kembali sadar kalau Lara itu pacar sahabatnya, lantas dia pun berusaha kembali untuk meredam perasaannya. Setibanya di rumah Lara, lagi-lagi Bobby tampak kecewa. Berita yang telah disampaikan oleh orang tua Lara mengenai Lara yang kini tinggal di Yogya membuatnya agak tidak bersemangat. Padahal dia sudah begitu rindu dan ingin mencurahkan isi hatinya. 197 Hingga akhirnya, pemuda itu tampak melangkah lunglai menuju ke sebuah taman. Lantas di tempat itulah dia duduk menyendiri melamunkan ketiga pujaan hatinya, yaitu Nina, Lara, dan Li Qin, yang sudah sangat lekat di hati namun tak bisa dimiliki. Sementara itu di kota yang berbeda, Lara terlihat sedang membaca SMS yang diterimanya. Lara aku begitu merindukanmu. Maaf kalau aku baru bisa mengabarimu sekarang. Begini Ra. Lusa aku sudah berada di tanah air. Dan aku harap kau bisa datang ke Jakarta. Kabari aku jika kau sudah berangkat, dan aku akan menjemputmu. Begitulah bunyi SMS yang baru dibaca Lara. Mengetahui itu, hati Lara pun senang bukan kepalang. Dua hari lagi dia bertemu Randy, dan kerinduannya selama ini tentu akan terlepaskan. "Mmm... untung saja pagelaran tari itu bisa diselenggarakan besok malam, sehingga aku masih mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri." 198 Usai menyimpan HP-nya, gadis itu segera berganti pakaian dan segera bergabung dengan teman-temannya untuk latihan menari. Tak lama kemudian, Lara dan teman-temannya sudah memperlihatkan gerakan-gerakan gemulai yang diiringi bunyi gamelan yang mengalun merdu. Pada saat yang sama, sepasang mata pria tampak memperhatikan Lara dengan mata hampir tak berkedip. Gerakan-gerakan indah nan gemulai yang dibawakan Lara terus berpadu dengan pikiran kotor pria tadi sehingga membuatnya sesekali menelan air liur. Dialah pria yang selama ini selalu mengamati Lara ketika berlatih tari. Pria yang sepertinya sangat menyukai Lara dan sangat terobsesi dengannya. Sepulang latihan, Lara terlihat mengunjungi sebuah tempat yang menjadi landmark kota Yogyakarta. Di tempat itulah dia bertemu dengan seorang pemuda yang selama ini dikenalnya baik, dialah Rahman-pemuda yang juga dikenalnya pada pesta waktu itu. 199 "Lara, aku senang sekali kau mau memenuhi undanganku." "Hmm... memangnya kau mau memberi kejutan apa?" "Nanti kau juga akan tahu," kata pemuda itu seraya tersenyum. "Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!" Ajak pemuda itu kemudian. Kini keduanya tampak melangkah menuju ke sebuah restoran yang tak begitu jauh. Dan tak lama kemudian, keduanya sudah duduk saling berhadapan. Suasana restoran yang hening dan sangat kental dengan ornamen jawa sungguh membuat keduanya merasa nyaman. Di tempat itulah keduanya menikmati santap malam sambil berbincang-bincang penuh keakraban, hingga akhirnya Rahman pun mengatakan maksud hatinya. "Ra... sesungguhnya. A-aku mencintaimu," ungkap pemuda itu. "Apa!" Lara tampak terkejut. "A-aku mencintaimu, Ra. Be-bersediakah kau menjadi pacarku?" 200 "Hmm... Jadi, ini kejutan yang Kakak maksudkan itu?" Rahman mengangguk. "Kau berhasil, Kak. Aku memang sudah begitu terkejut. Tapi, maaf! Aku tidak bisa menerima cintamu. Sebab, aku sudah mempunyai kekasih yang begitu kucintai, dan lusa kami akan bertemu. Sekali lagi aku minta maaf, Kak? Aku betul-betul tidak bisa menerima cintamu, namun begitu aku sangat menghargai isi hatimu itu." "Tapi, Ra. Kenapa selama ini kau seperti memberi respon padaku? Kenapa selama ini kau begitu baik dan sangat perhatian padaku?" "Itu kulakukan karena aku menganggapmu sebagai seorang sahabat yang baik, Kak. Tidak lebih dari itu. Maaf kan aku, Kak! Aku betul-betul menyesal karena sudah membuatmu salah tanggap!" "Tidak apa-apa, Ra. Aku bisa mengerti. Selama ini aku memang sudah terlalu ke-GR-an, kupikir perhatian dan kebaikanmu itu karena kau mencintaiku. Namun ternyata, semua itu hanya 201 karena kau menganggapku sebagai sahabat yang baik." Saat itu di dalam hatinya, Lara betul-betul menyesal karena sudah membuat pemuda itu mencintainya, "Kak Rahman... Aku betul-betul merasa berdosa. Maafkanlah aku karena selama ini sudah memanfaatkanmu untuk kepentinganku sendiri. Semua itu terpaksa kulakukan karena aku membutuhkan sosok yang bisa menggantikan peran Randy untuk sementara. Semenjak kepergiannya aku sering kesepian, dan karenanyalah aku membutuhkan seseorang yang setiap saat bisa memberikan perhatian padaku, juga menjadi tempat curahan hatiku. Aku ini memang gadis yang jahat, dan karena ulahku itu tentu sudah membuat hatimu hancur. Padahal, selama ini kau sudah begitu baik padaku. Namun, aku membalasnya dengan menyakitimu. Andai dari awal aku sudah menegaskan kalau aku sudah mempunyai kekasih dan bersedia menjadi sahabat yang baik untukmu mungkin akan lain 202 ceritanya. Tapi... aku memang tidak mempunyai pilihan lain, dan semua itu karena sebab ketakutanku akan pengkhianatan Randy, yang mana jika hal itu terjadi kaulah pemuda yang akan menggantikannya." "Ra, kau kenapa?" tanya Rahman membuyarkan renungan Lara. "Eng, tidak. Aku hanya merasa tidak enak karena sudah membuatmu patah hati." "Sudahlah, Ra! Aku bisa menerima keputusanmu itu kok. Jujur saja, hatiku memang pilu. Namun, demi kebahagiaanmu aku rela menerima kenyataan ini." "Sungguh!" Rahman mengangguk. "Eng... bagaimana kalau sekarang kau kuantar pulang." Lara setuju, saat itu dia benar-benar bangga dengan Rahman yang menurutnya pemuda yang berjiwa besar dan sangat pengertian. Andai dia bukan kekasih Randy, tentu dia tidak akan menolak cinta pemuda yang menurutnya sangat baik itu. 203 Dua hari kemudian di stasiun Gambir, seorang gadis tampak berdiri sambil celingukan. Kedua matanya tampak awas memperhatikan mobil-mobil yang keluar-masuk parkiran, dan sesekali juga memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar tempatnya berdiri. Berkali-kali tiupan angin sepoi-sepoi menerpa rambutnya, dan berkali-kali pula gadis itu menyingkap rambut yang sempat menutupi pandangannya. Kini gadis tampak tertunduk, hembusan nafas panjang yang baru dikeluarkannya menandakan kalau ia sudah begitu jenuh dan kecewa. "Hmm... kenapa dia belum datang juga, apa dia lupa untuk menjemputku?" tanya gadis itu resah. Kini gadis itu kembali memperhatikan sekitarnya dan sambil terus berharap agar orang yang ditunggunya itu segera datang. Namun setelah sekian lama menunggu, ternyata orang yang ditunggunya itu tak kunjung datang. "Hmm, baiklah... Jika lima menit lagi dia belum juga datang, terpaksa aku pulang sendiri," kata gadis itu mengambil keputusan. 204 Jarum jam terus berputar, dan satu menit sungguh terasa begitu lama. Hingga akhirnya kesabaran Lara pun habis, dan ketika dia hendak menaiki taksi tiba-tiba. "Non Lara!" teriak seorang memanggil. Seketika itu juga Lara menoleh ke asal suara, saat itu dia melihat seorang pemuda tengah berlari menghampirinya. "Mmm... siapa pria itu?" tanya Lara dalam hati. "Maaf Non, Lara. Pak Randy meminta saya untuk menjemput anda. Ayo, mari ikut saya ke mobil!" ajak pria itu yang mengaku sebagai orang suruhan Randy. "Sebentar, Pak. Ngomong-ngomong, kenapa tidak dia sendiri yang menjemput saya?" "Pak, Randy sedang ada pertemuan penting, Non." "O... Kalau begitu mari!" Lantas Lara pun berjalan mengikuti pria itu, dan ketika dia memasuki mobil dilihatnya beberapa pria yang tidak dikenalnya duduk di jok belakang. "Siapa mereka?" tanya Lara heran seraya duduk di atas jok yang dilapisi kulit berkualitas tinggi. 205 "Mereka juga orang-orangnya Pak Randy, Non." "Hmm... ini benar-benar aneh. Sejak kapan Randy jadi seperti mafia begini? Apa mungkin sekarang ini dia sudah begitu sukses sehingga mengharuskannya bertindak seperti ini? Sebab, kata temanku persaingan bisnis itu sangat tidak sehat. Orang bisa melakukan apa saja demi untuk menyingkirkan pesaingnya. Hmm.. jika benar demikian, apakah Randy sudah kembali menjalani bisnis dengan cara tidak sehat, yaitu karena terpengaruh oleh para mafia di Barat," duga Lara dalam hati. Tak lama kemudian, mobil itu sudah meninggalkan pelataran parkir. Pada saat yang sama, sebuah mobil terlihat baru saja memasuki tempat itu. Kini pengemudinya yang ternyata seorang pemuda berwajah tampan tampak melangkah ke pintu masuk dengan terengah-engah. Kemudian dia tampak celingukan mencari-cari seseorang. "Aduh... di mana ya dia? Apa mungkin dia sudah pergi?" tanyanya sambil terus celingukan mencari-cari. 206 Kini pemuda itu sudah kembali ke mobil dan segera menyusuri jalan yang menuju ke arah rumahnya. "Hmm... Naik apa ya dia?" tanyanya lagi. Sesekali matanya tampak menatap tajam ke setiap mobil yang dilihatnya, berharap akan melihat gadis yang sedang dicarinya. Sambil terus mencari-cari, pemuda itu tampak membatin. "Duhai Laraku sayang... selama di luar negeri aku selalu merindukanmu, dan aku sangat mendambakan hangatnya pelukanmu, juga ciuman mesramu. Aku yakin, kau pun merasakan hal serupa. Karenanyalah aku memutuskan untuk segera pulang ke tanah air dan akan menikahimu secepatnya. Terus terang, selama ini aku sungguh merasa berdosa karena telah melibatkanmu dengan perbuatan yang dilarang agama, dan semua itu karena kebodohanku yang belum mengerti betul ajaran agama yang sebenarnya. Untunglah selama di luar negeri aku sempat belajar banyak mengenai agama dari seorang ustad yang tinggal di sana, dan karenanyalah kini aku lebih mengerti perihal cinta yang sebenarnya. Kini aku 207 sudah bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi bersamamu, dan karenanyalah kini aku ingin merubah status hubungan kita itu dengan ikatan yang diridhai Tuhan." Mendadak mata pemuda itu tertuju pada sebuah mobil yang kini sedang berhenti di depan lampu merah, saat itu dilihatnya seorang gadis tampak sedang meronta-ronta. "Lara!!!" teriaknya ketika menyadari kalau gadis itu adalah Lara. Lalu dengan segera pemuda itu bergegas turun dan menghampirinya, "Lepaskan dia!!!" teriaknya lantang. Keempat pemuda yang berada di dalam mobil bersama-sama menatapnya, kemudian salah seorang dari mereka tampak menghampiri. "Siapa kau? Beraninya mau memerintahkan kami. Jangan sok menjadi pahlawan bung!" katanya dengan suara lantang. "Dia itu kekasihku, dan aku tidak akan tinggal diam melihat orang yang kucintai diperlakukan begitu," 208 kata Randy yang saat itu betul-betul geram ketika melihat kekasihnya tampak sedang dibekap. "Hahaha... rupanya orang ini pacarnya, dan dia mau berlagak seperti pangeran yang mau melindungi sang Putri, hahaha...!" kata pemuda itu kepada tiga rekannya. "Ayo kita habisi dia," sambungnya kemudian. Lalu dengan serta-merta ke empat pemuda itu turun dari mobil dan segera mengeroyok Randy. Saat itu Randy berusaha melawan dengan sekuat tenaga, namun pemuda itu tampak kewalahan lantaran jumlah yang tak seimbang. Sementara itu, Lara sedang berusaha melepas ikatan yang membelenggunya. Dan setelah bersusah payah, akhirnya dia berhasil juga membebaskan diri. Kini gadis itu tengah berlari untuk meminta bantuan. Dan setelah agak lama, dia sudah kembali bersama beberapa orang satpam. Betapa terkejutnya gadis itu ketika mengetahui kekasihnya tampak sudah terkapar, dan keempat pemuda yang mengeroyoknya tadi tampak sudah pergi entah ke mana. Lalu dengan segera gadis itu 209 menghampiri Randy dan memeriksa keadaannya. "Apa ini? Oh tidak.... Randy...!" pekiknya ketika melihat darah tampak mengalir dari ulu hati kekasihnya. Seketika Lara langsung mendekap tubuh Randy yang terkulai tak bernyawa, kemudian berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh dia tak kuasa melepas kepergian kekasihnya itu. Derai air matanya pun terus mengalir bersamaan dengan isak tangisnya yang terdengar begitu lirih. Saat itu di sekelilingnya sudah banyak orang berkumpul, menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan itu. Seminggu kemudian, di malam yang dingin di sekitar area pertokoan yang tampak sepi. Seorang gadis terlihat berlari dengan terengah-engah melewati deretan toko yang sudah tutup. 210 "Kejar terus jangan sampai lepas!" Teriak seorang pria yang berniat jahat sambil terus mengejar buruannya yang ternyata Lara. Saat itu Lara terus berlari dan berlari, sesekali dia terjatuh di atas trotoar. Rasa sakit tak dihiraukannya, dia selalu segera bangkit dan berlari kembali. Belum jauh dia berlari, mendadak dia kembali terjatuh, namun kali ini dia tak kuasa untuk berdiri. Rupanya dia sudah sangat kelelahan, dan akhirnya dia pun hanya bisa pasrah ketika keempat penjahat yang mengejarnya kian bertambah dekat. "Hahaha... ! Sekarang kau sudah tidak berlari lagi gadis manis... Ayolah! Kalau kau tidak melawan, kami akan bersikap baik padamu." Lara meronta ketika para pria itu memaksanya ikut. Bersamaan dengan itu tiba-tiba, "Lepaskan dia!" teriak seorang pemuda yang tiba-tiba sudah berdiri di tempat itu. Wajah pemuda itu tak kelihatan jelas, dia mengenakan ponco yang menutupi kepalanya dan sebagian rambut yang menutupi wajahnya. "Siapa kau?" 211 "Kau tidak perlu tahu siapa aku, sekarang lepaskan gadis itu, dan biarkan dia pergi!" "Enak saja! Memangnya kau ini siapa, hah?" Lantas keempat penjahat itu segera menyerang orang tersebut, namun orang yang tak jelas wajahnya itu tampak melayaninya dengan jurus-jurus yang tampak begitu hebat. Keempat penjahat itu pun tampak kewalahan dan sepertinya mereka memang tidak mungkin bisa mengalahkannya. Kini keempat penjahat itu tampak menggunakan senjata tajam dan kembali menyerang dengan membabi-buta. Orang yang tak jelas wajahnya itu kembali melayani serangan itu, gerakannya pun tampak lincah dan begitu mahir menghindari setiap tikaman yang mengarah ke dirinya. Hingga akhirnya Orang yang tak jelas wajahnya itu balas menyerang, dan tak lama kemudian dia sudah berhasil membuat keempat penjahat itu tak berdaya. Kini pemuda itu menoleh ke tempat Lara berada, "Hmm... di mana dia? Apa mungkin dia sudah pergi ketika aku melawan mereka tadi?" duga pemuda itu 212 seraya melangkah meninggalkan keempat penjahat yang masih terkapar tak berdaya, dia terus berjalan menyusuri gelapnya malam dan akhirnya menghilang di balik pertokoan. Sementara itu di sebuah jalan yang sepi, Lara tampak melangkah dengan gontai. "Huff...! Syukurlah Tuhan masih melindungiku dengan kehadiran pemuda tadi. Kalau tidak pasti aku sudah celaka," ucapnya sambil terus melangkah. Hingga akhirnya gadis itu melihat sebuah taksi dan langsung menumpanginya. Setibanya di rumah, gadis itu langsung bersih-bersih dan merebahkan diri di tempat tidur. "Hmm... siapa sebenarnya para penjahat itu, kenapa mereka begitu menginginkan aku. Apa mungkin dia itu.... Ah, sudahlah... Masa iya hanya karena keinginannya kutolak terus dia mengejarku sampai seperti itu, sepertinya dia tidak bisa mendapatkan gadis yang lain saja. Tapi... jika dia memang sudah sangat mencintaiku dan sudah terobsesi untuk mendapatkanku, bisa saja dia melakukannya. " 213 Lara terus memikirkan pria yang diduga telah menjadi dalang semua perkara yang menimpanya. Gadis itu betul-betul tidak habis pikir, hanya karena sebab penolakannya dia bisa menjadi sekejam itu. 214 DELAPAN Di sebuah stasiun kereta api, seorang gadis tampak melangkah dengan tergesa-gesa. Sesekali dia terlihat mengelap peluh yang mengalir di keningnya, dan sesekali dia tampak membetulkan posisi pegangan tangan pada koper besar yang dijinjingnya. Ketika gadis itu hendak melewati pintu keluar, tiba-tiba gadis itu dihadang oleh seorang pemuda berperawakan tegap. "Si-siapa kau? Ke-kenapa kau menghalangi jalanku?" tanya Lara tergagap, menduga orang itu mau berbuat jahat padanya. "Lara... masa kau lupa dengan suaraku," kata orang itu pelan. "Ka-kau mengenalku. Si-siapa kau sebenarnya? Ma-maaf jika aku benar-benar lupa!" "Ini aku, Lara. Bobby..." 215 Mengetahui itu, Lara langsung terkejut. "Ka-Kak Bobby! Be-benarkah kau Kak Bobby...?" tanyanya seakan tak percaya. "Iya, Ra. Ini memang aku." Saat itu Bobby langsung membuka ponconya dan menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajahnya. "Kak Bobby... " kata Lara tak berkedip memandang wajah tampan yang selama ini begitu dirindukan. "Ke-kenapa kau menyembunyikan wajahmu, Kak?" tanyanya kemudian. "Lihat ini," kata Bobby seraya memberikan selebaran yang didapatnya di jalan. Lara pun segera menanggapi selebaran itu dan memperhatikan foto-foto yang terpampang di dalamnya. "Ja-jadi... ka-kau seorang 'teroris'?" tanya Lara terbata ketika mengetahui kalau salah satu foto yang ada di selebaran itu adalah Bobby. "Tidak, Ra. Aku tidak seperti yang kau duga," jawab Bobby mencoba meluruskan. Lara kembali memandang Bobby, kemudian dia menatap mata pemuda itu dalam-dalam. "La-lalu... 216 kenapa gambarmu bisa ada di selebaran ini?" tanya gadis itu penuh kebingungan. "Ceritanya panjang, Ra. Waktu itu..." tiba-tiba Bobby terdiam. Saat itu dia tampak serius memperhatikan empat orang pria yang sedang berjalan di peron. "Lihat di sana! Bukankah mereka yang mengejarmu waktu itu?" Lara pun segera menoleh memperhatikan apa yang dikatakan Bobby, "Be-benar, Kak. Merekalah orangnya," ungkap Lara setengah terkejut. "Me-merekalah orang-orang yang telah membunuh Kak Randy," ungkapnya lagi sambil terus memperhatikan para penjahat yang sudah berada di dalam kereta yang mulai melaju. Mengetahui itu Bobby tampak terkejut, "A-apa! Ja-jadi Randy..." Pemuda itu tak kuasa menyelesaikan kalimatnya, saat itu dia hanya bisa tertunduk dengan penuh kesedihan. Saat itu, Lara pun ikut sedih. Kemudian dengan berlinang air mata, gadis itu segera menceritakan semua kejadian yang memilukan itu. 217 "Kurang ajar! Kalau saja kutahu mereka yang membunuh Randy, tentu kemarin malam aku sudah menghabisi semuanya," kata Bobby geram. "Ja-jadi, yang menghajar mereka kemarin itu kau, Kak?" tanya Lara hampir tak mempercayainya. "Iya, Ra. Itu memang aku." "Ka-kalau begitu maafkan aku, Kak...! Kalau saja aku tahu, tentu aku tidak akan meninggalkanmu." "Sudahlah, Ra! Aku bisa mengerti kok." "Kak... Terima kasih karena kau sudah menyelamatkan aku. O ya, sebetulnya aku sedang mencarimu. Ketahuilah! Setelah kepergian Randy, aku merasa betul-betul kesepian. Kini hanya kaulah yang bisa meredam rasa kesepianku itu," ungkap Lara mengenai perasaannya setelah ditinggal pergi oleh kekasihnya. "Aku juga, Ra. Sebetulnya semenjak malam itu aku benar-benar kehilanganmu dan merasa begitu kesepian." "A-apa maksud perkataanmu itu, Kak?" 218 "Aku bohong kalau aku tidak mencintaimu, dan aku melakukan semua itu demi sahabatku. Kalau kau mau tahu, sebenarnya aku sangat mencintaimu, dan saat itu aku benar-benar kehilanganmu. Sejak itu hidupku begitu sepi, siang dan malam aku selalu merindukanmu. Hingga akhirnya aku bisa meredam kesepianku itu, yaitu setelah perjumpaanku dengan seorang gadis yang telah begitu tulus merawatku, dan karenanyalah akhirnya aku pun mencintainya. Namun karena perbedaan keyakinan, akhirnya kami berpisah. Kini yang menjadi harapanku cuma kau Lara. Kaulah satu-satunya gadis yang kucintai sebagai kekasih dan bisa mengobati kesepianku... Lara, kini cintaku hanya untukmu." "Benarkah...?" tanya Lara dengan air mata mengembang. Bobby mengangguk, dan tatapan matanya pun mengisyaratkan hal itu. Mengetahui itu, air mata Lara tiba-tiba berderai bahagia. Kini dia kembali teringat dengan goresan yang dibuat Bobby di pohon, ciuman hangat yang tak pernah dilupakan, dan juga ukiran 219 kata-kata cinta pada cincin perak yang dibuatkan untuknya. Kini dia kembali yakin kalau semua itu memang telah dilakukan Bobby sebagai tanda cintanya yang tulus. "Oh, Kak... aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa saat itu kau bisa mengambil keputusan itu-mengorbankan perasaanmu yang begitu mencintaiku hanya demi sahabatmu?" "Randy itu sahabat yang baik, Ra. Aku pernah berhutang nyawa padanya. Karenanyalah aku tidak mau membuat dia menderita, aku tidak mau berbahagia di atas penderitaannya-di atas penderitaan orang yang hampir mengorbankan nyawanya sendiri demi untuk menyelamatkanku. Lagi pula, aku yakin sekali kalau sahabatku itu akan membahagiakanmu, sebab dia itu betul-betul mencintaimu. Dan karenanyalah aku terpaksa memutuskanmu demi kebahagiaan kalian berdua. Lara... katakanlah sejujurnya! Apakah kau merasa bahagia saat bersamanya?" "Iya, Kak. Walaupun pada mulanya aku merasa menderita karena harus berpisah denganmu, namun 220 pada akhirnya aku bisa bahagia karena Randy telah memberikan sebuah harapan baru yang membuatku menjadi sangat mencintainya. Saat itu pun aku memaknai perpisahan kita itu sebagai sebuah karunia yang diberikan Tuhan kepadaku. Aku merasa Tuhan memisahkan kita karena kau memang bukan pria yang tepat untukku. Sebab, pria yang baik hanya untuk wanita yang baik, dan pria yang masih suci hanya untuk wanita yang masih suci." "Ra, apa maksud perkataan terakhirmu itu?" "Maaf, Kak. Kau itu memang pemuda yang baik, tapi bukankah kau sudah tidak suci lagi." "A-apa??? Aku sudah tidak suci lagi? Kenapa kau bisa mendugaku begitu?" "Eng.. bukankah malam itu, di saat kau dan Nina jadian, kalian pergi ke hotel dan.... " "Cukup, Ra! Kini aku mengerti. Kau sudah menduga aku dan Nina telah berbuat yang tidak-tidak. Iya kan?" Lara mengangguk. 221 "Kau salah, Ra. Sebenarnya waktu itu kami pergi ke hotel bukan untuk itu, namun untuk..." Bobby pun segera menceritakan kejadian malam itu. "O, jadi begitu," kata Lara mengerti bahwa waktu itu Bobby dan Nina pergi ke hotel bukanlah untuk berbuat yang tidak-tidak. Sebenarnya pada malam itu, Bobby pergi ke hotel untuk memenuhi undangan Randy yang sangat mendadak. Malam itu, setibanya di hotel Bobby langsung menghubungi sahabatnya dan memberitahukan kalau dia sudah tiba di hotel bersama Nina. "Iya.. iya... lima belas menit lagi aku sampai di tempat tujuan. Sudah ya, sampai bertemu nanti!" ucap Randy mengakhiri pembicaraan. Lima belas menit kemudian, Randy sudah tiba di tempat itu dan langsung menemui mereka. "Hi, Bob, Nin... Apa kabar!" sapa pemuda itu. "Baik!" jawab Bobby dan Nina serempak. "Tunggu sebentar ya! Aku mau menghubungi temanku itu di kamarnya," kata pemuda itu seraya duduk di sebelah Bobby. 222 Randy pun segera menghubungi temannya, dan setelah itu dia kembali berbincang-bincang dengan Bobby dan Nina. "Untung saja kau bisa kemari, Bob. Sebab kalau tidak, tentu kita bisa kehilangan kesempatan emas. Soalnya proyek ini betul-betul bersih, dan kau tidak perlu khawatir akan terlibat dalam dosa." "Ya mungkin ini memang sudah rezekiku, Ran. O ya, Ran... ngomong-ngomong, tadi kulihat HP-mu pakai pelindung juga." "Betul, Bob. Sebenarnya aku mengetahui tentang pelindung ini sudah sejak lama, namun aku baru menyadari kalau dampak radiasi HP itu ternyata memang sangat berbahaya. Karenanyalah, mau tidak mau aku pun memang harus memakainya." "Ketika dalam perjalanan kemari, aku pun sempat membicarakan masalah itu dengan Nina. Dan sekarang ini aku pun merasa perlu untuk memakainya." 223 Mereka terus berbincang-bincang, hingga akhirnya teman Randy datang menemui mereka. "Hallo, Pak Randy. Maaf kalau lama menunggu!" "Sama sekali tidak, Pak," kata Randy seraya tersenyum. "O ya, Pak. Kenalkan, ini Pak Bobby-arsitek yang akan mengerjakan proyek kita itu." "Apa kabar, Pak Bobby?" tanya teman bisnis Randy. "Baik, Pak," jawab Bobby singkat. "O ya, Pak Bobby. Ngomong-ngomong, apa benar kau yang mengerjakan gedung besar yang terkenal itu. Soalnya kata Pak Randy kaulah yang mengerjakannya, dan setelah itu kau hanya mengerjakan proyek-proyek kecil karena suatu sebab." "Betul Pak," kata Bobby seraya menjelaskan alasannya. Dan setelah saling berkenalan, mereka pun melanjutkan perbincangan di sebuah cafe yang cukup nyaman. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk 224 membina kerja sama dalam mengerjakan proyek besar yang bernilai trilyunan rupiah. Namun sayangnya ternyata proyek itu cuma fiktif belaka, dan pada saat itu Bobby dan Randy adalah orang-orang yang diperalat untuk mengelabui para investor. Karenanyalah, ketika keduanya berada di puncak waktu itu mereka langsung dibekuk polisi dan akhirnya dibebaskan karena mereka memang tidak bersalah. Sebab, mereka itu juga korban yang diperalat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Para pelaku proyek fiktif itu berhasil ditangkap disaat melakukan transaksi penukaran dollar di dealing room sebuah bank di Jakarta, yaitu sebelum proses over booking kedua rekening on screen. "O ya, Ra. Ngomong-ngomong, kenapa ketika kau tahu tentang perihal keberadaan kami di hotel, kau tidak berusaha untuk mencari tahu lebih jauh?" "Tidak sempat, Kak. Apa lagi setelah Nina tiada, bukankah tidak baik membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal. Karenanyalah sejak itu aku tidak pernah membicarakannya kepadamu maupun 225 kepada Randy. Kini aku betul-betul menyesal karena sering berprasangka buruk, dan karena hal itu pula yang membuatku sering gelisah." Mendengar jawaban itu, Bobby jadi berpikir. Kalau setiap keburukan yang dilakukan seseorang adalah jalan untuk mengerti akan arti kehidupan, yaitu dimana keburukan dijadikan bahan renungan sehingga pelakunya tak mengulanginya lagi, maka budinya pun tentu akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. "Ra, aku sangat mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?" tanya Bobby tiba-tiba. Mendengar itu, Lara seketika terkejut. Sungguh dia tidak menyangka kalau pemuda itu melamarnya dengan mendadak seperti itu. "Kak, tidakkah ini terlalu cepat?" "Tidak, Ra. Aku ingin cepat menikahimu karena aku tak mau menodai lagi cinta kita yang suci ini dengan hal-hal yang rendah-seperti yang pernah kita lakukan selama pacaran dulu-bermesraan di luar ikatan yang sakral. Kini aku sudah lebih mengerti akan 226 arti cinta yang sesungguhnya, yaitu cintaku kepadamu atas dasar cintaku kepada Tuhan. Karenanyalah, bagaimana mungkin aku mau menodai cinta itu dengan hal-hal yang tidak Tuhan kehendaki. Lagi pula, hanya dengan cara inilah aku bisa lebih meyakini kalau kau memang betul-betul mencintaiku. Sebab, aku mempercayai kalau pernikahan itu adalah suatu yang sakral dan mempunyai nilai ibadah. Dan jika pernikahan itu hanya dibuat main-main, maka pelakunya akan mendapat hukuman dari Tuhan." Bobby pun melanjutkan dengan menjelaskan kedua itu lebih detail lagi, sehingga Lara pun bisa memahaminya. Dan akhirnya dia mau menerima lamaran Bobby dengan penuh keikhlasan. Esok harinya, sepulang mengambil uang deposito yang kebetulan sudah jatuh tempo, Bobby langsung mengontrak sebuah rumah yang cukup besar. Berlokasi di sebuah pemukiman elit yang jauh dari 227 keramaian. Di tempat itulah dia berniat untuk membina rumah tangga bersama Lara-cinta sejatinya yang sempat dia tinggalkan. Kini pemuda itu dan kekasihnya tampak berbincang-bincang perihal rencana pernikahan mereka. "Bagaimana ini, Kak? Tampaknya orang tuaku tidak merestui pernikahan kita. Kata mereka, tidak sepantasnya aku menikahi seorang 'teroris'. Dan mereka pun tidak mau mempunyai menantu yang sudah membunuh banyak orang." "Mmm... apa kau sudah menjelaskan kalau aku ini tidak terlibat?" "Sudah, Kak. Namun, tetap saja mereka tidak percaya. Kata mereka, jika kau memang tidak terlibat kenapa tidak menyerahkan diri ke polisi." "Itu kan tidak mungkin, Ra. Bukti mengenai keberadaanku di dalam van waktu itu sulit untuk dibantah. Andai waktu itu kamera polisi tidak menangkap gambarku mungkin akan lain ceritanya." "Hmm... kalau begitu, bagaimana kalau Kakak sendiri saja yang menjelaskan kepada orang tuaku. 228 Mungkin dengan begitu, mereka akan percaya-seperti halnya aku mempercayaimu karena didukung oleh bahasa tubuhmu yang kupercaya tidak mungkin berbohong." "Tapi, Ra. Bagaimana jika mereka justru melaporkan aku kepada pihak berwajib?" "Aku akan mengancam mereka. Jika sampai mereka melakukan hal itu, aku akan minggat, atau kalau perlu aku akan bunuh diri." "Laraku sayang... itu cuma ancamanmu saja kan? Dan kau tidak akan melakukan itu kan?" "Tentu saja, Kak. Itu hanya ancaman saja." "Mmm... bagaimana jika orang tuamu berpikiran itu hanya ancaman saja, dan mereka pun tetap melaporkan aku?" "Entahlah... aku tidak tahu." "Mmm... Kalau beitu baiklah... aku akan menemui kedua orang tuamu dan menjelaskan semuanya. Andai mereka mengadukan aku, aku akan menerimanya sebagai takdir yang harus kujalani. Ini memang berat, namun demi untuk menegakkan 229 kebenaran aku siap menerima apa pun yang bakal terjadi." "Eng, bagaimana kalau kita menikah dengan Wali Hakim saja, Kak?" "Tidak, Ra. Ayahmu masih ada. Dan selama beliau tidak merestui dengan alasan yang dibenarkan oleh agama kita tidak mungkin bisa menikah." "Eng... Apa menurutmu, sekarang ini ayahku tidak merestui kita dibenarkan oleh agama?" "Tentu saja. Bukankah beliau tidak merestui kita karena aku ini dianggap seorang 'teroris'. Dan jika beliau memang mempunyai keyakinan kalau 'teroris' itu merupakan perbuatan yang melanggar ajaran agama, tentulah tindakannya itu tepat. Andai beliau mempercayai kalau aku bukan 'teroris' tentulah beliau akan merestuinya. Dan langkah terbaik yang memang harus aku lakukan adalah berusaha meyakinkan ayahmu, kalau aku ini bukanlah pria yang seperti diberitakan selama ini." Akhirnya sepasang kekasih itu sepakat untuk menemui kedua orang tua Lara. Sebab, saat ini 230 mereka memang sudah tidak mempunyai alternatif lain, dan mengenai apa pun yang akan terjadi mereka serahkan kepada Tuhan, karena sebaik-baiknya tempat berserah diri adalah kepada-Nya. Seminggu kemudian, setelah Bobby dan Lara berusaha dengan gigih untuk meyakinkan kedua orang tua Lara, kalau Bobby bukanlah 'teroris' seperti yang diberitakan selama ini, akhirnya keduanya direstui untuk menikah. Pernikahan itu pun diselenggarakan dengan sangat sederhana karena ada kekhawatiran Bobby akan dikenali banyak orang. Saat itu pun Bobby sempat berjanji kepada kedua orang tua Lara, Jika kelak ia mempunyai bukti bahwa keterlibatannya dengan 'teroris' bukankah karena keinginannya, namun karena saat itu dia berada pada waktu dan tempat salah, maka ia pasti akan menyerahkan diri dan menyerahkan semua perkaranya kepada hukum. Maklumlah, undang- 231 undang mengenai teroris masih belum sempurna, sehingga siapa pun yang mempunyai teman 'teroris' bisa dituduh sebagai 'teroris', walau pun sebenarnya ia sendiri tidak tahu kalau temannya itu merupakan seorang 'teroris'. Karenanyalah ia harus mendapatkan bukti itu agar luput dari tuduhan, dan namanya pun bisa dibersihkan. Hingga saat ini Bobby masih tetap mempunyai keyakinan kalau memperjuangkan keadilan itu masih bisa dilakukan dengan cara-cara yang lebih santun, karena agama yang diyakininya memang menganjurkannya demikian. Namun sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa, Bobby berusaha untuk tidak menghakimi siapa pun. Sebab, dia menyadari betul kalau setiap perjuangan yang dilandasi oleh keyakinan yang kuat merupakan jalan untuk mencari kebenaran yang hakiki. Dan perbedaan cara memperjuangkannya bisa jadi berbeda tergantung dari pemahaman agama dan sudut pandang orang yang mencari kebenaran itu. Karena itulah, tidak mustahil kalau seorang 'teroris' hanyalah sebagai 232 korban dari pemikiran yang keliru. Kini semuanya dikembalikan kepada Tuhan yang Maha Tahu segalanya, karena memang Tuhanlah yang paling berhak menghakimi benar salahnya seseorang. Apalagi sekarang, dimana perang ideologi masih terus berlangsung. Dimana setiap manusia yang beragama merasa berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran yang diyakininya. Maka setiap orang yang berbeda keyakinan akan menjadi musuh karena menjadi penghalang kebenaran yang diwajibkan kepadanya agar disampaikan. Sehingga pendoktrinan dan perang pemikiran yang tak sehat terus berkembang, mencuci otak orang-orang awam agar bisa menerima keyakinan yang disampaikan itu. Hingga akhirnya perang kepentingan pun tak terelakkan, yang mana masing-masing pihak berusaha memperjuangkan keyakinannya dalam kancah percaturan politik. Dalam perang kepentingan itulah, kekuasaan menjadi sarana yang paling mempuni guna mewujudkan cinta-cita mereka. Dilema... sungguh bagai buah simalakama. Hanya 233 Pemerintahan Islam yang betul-betul Islami-lah yang bisa mendamaikan dunia ini dari perang kepentingan. Andai setiap pihak yang mau memperjuangkan Pemerintahan Islam dengan cara yang Islami, mungkin tidak akan ada lagi pihak yang merasa terzolimi. Karenanyalah, sebagai orang awam, Bobby lebih memilih untuk tidak memikirkan masalah yang pelik itu lebih jauh. Dia lebih memilih memperbaiki budinya sendiri, yaitu dengan membaktikan diri kepada Tuhan-berbuat baik dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang lebih santun. Dia menyadari kalau tugasnya di dunia ini hanya untuk menyampaikan kebenaran dan bukan memaksakannya. Karenanyalah dia tidak mau ambil pusing dengan manusia yang menolak apa pun yang disampaikannya, semua dikembalikan kepada budi mereka sendiri yang sudah dikaruniakan Tuhan dengan akal yang dengannya dia bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak. Untuk itulah, kini dia terus berusaha untuk senantiasa mencintai semua 234 makhluk ciptaan Tuhan yang beragam, dan berusaha bijak menyikapi setiap perbedaan yang ada. Namun dalam hatinya masih ada keraguan, apakah dia bisa betul-betul mencintai jika pada budinya tidak ada kepedulian sejati. Karenanyalah, selain menyampaikan kebenaran, dia pun berusaha untuk mengajak orang untuk mengikuti jejaknya yaitu memperjuangkan kebenaran dengan cara yang penuh kelembutan. Saat ini pun Bobby sedang menyampaikan sebuah kebenaran kepada istri tercintanya dengan penuh kelembutan. "Sayang... ketahuilah! Bahwa melayani suami adalah ibadah yang dengannya kau bisa mendapat kebahagiaan di akhirat kelak. " "Iya, Kak. Namun, apakah semua hal yang bisa membahagiakan suamiku dapat kulayani?" "Tidak, Sayang.... hanya hal-hal yang tidak menyimpang dari ajaran agama. Andai saja aku sampai memintamu untuk melayaniku, sedang hal itu bertentangan dengan ajaran agama kita, tolaklah aku dengan cara yang baik. Ketahuilah, Sayang... manusia 235 itu tempatnya salah, dan jika aku sampai khilaf hendak melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Berilah peringatan kepadaku, dan sampaikanlah kebenaran itu dengan tanpa keraguan! Sekalipun kebenaran itu bisa jadi sangat menyakitkan." Suami istri itu terus berbincang-bincang mengenai hal-hal yang boleh dan tidak. Sementara itu di tempat lain, di sebuah ruangan yang dipenuhi berbagai barang mewah. Seorang pemuda tampak memberikan instruksi kepada empat orang anak buahnya. "Pokoknya kali ini kalian jangan sampai gagal! Jika kalian gagal lagi maka bonus tahun ini tidak akan kuberikan. O ya, gunakan ini untuk mendukung operasi kalian," kata pemuda itu seraya memberikan sepucuk pistol kepada seorang anak buahnya yang dipercaya untuk pemimpin operasi. Dia bernama Reno, pemuda bertubuh kekar pemegang sabuk hitam. "Baik, Pak. Kami akan berusaha," kata Reno seraya menanggapi pistol itu. 236 Tak lama kemudian, Reno dan ketiga temannya segera meninggalkan ruangan. Mereka lantas menaiki mobil dan segera bergerak menuju ke wilayah yang menurut mata-mata mereka menjadi tempat persembunyian orang yang mereka cari. 237 SEMBILAN Tiga bulan kemudian, di sebuah ruang tamu, Bobby dan Lara tampak serius menonton televisi. Saat itu mereka sedang menyimak berita tentang 'teroris' Internasional yang diduga bersembunyi di Indonesia. Jaringan 'teroris' itu pun diduga berkaitan dengan para 'teroris' yang belakangan sedang gercar dicari aparat karena kasus beberapa peledakan bom yang terjadi di Indonesia. Ketika nama Bobby dikait-kaitkan dengan 'teroris' dan masyarakat dimintai pendapat tentangnya sungguh membuat Bobby sedih. Opini orang-orang yang diwawancarai saat itu sudah menuduhnya yang tidak-tidak, bahkan ada yang begitu menginginkan kematiannya. Andai praduga tak bersalah mereka hormati dengan tidak menciptakan opini publik yang bisa membuat masyarakat membencinya mungkin dia 238 akan sedikit lega. Dalam hati, pemuda itu sangat mengkhawatirkan teman-teman dan saudara-saudaranya mungkin juga ikut membencinya. Andai saat ini dia sudah mempunyai bukti perihal ketidakterlibatannya tentu dia akan segera menyerahkan diri. Sebab, tanpa bukti bagaimana mungkin dia bisa dipercaya. Pemuda itu sangat khawatir kalau dia menyerahkan diri mungkin akan diintrograsi dan dipaksa untuk mengaku bersalah. Ini memang sebuah dilema, pihak berwajib dan tersangka saling tak percaya, dan itu semua karena hukum yang prematur. Jika demikian bisa saja orang yang semula tidak tahu apa-apa lantaran dituduh terlibat akhirnya menjadi terlibat. Apalagi jika ada tekanan dari pihak luar, tentu bisa fatal akibatnya. Orang yang semula tidak tahu apa-apa bisa jadi malah sengaja melibatkan diri karena menganggap musuh 'teroris' adalah musuhnya juga. Dan jadilah dia seorang 'teroris' baru yang siap mengorbankan jiwa dan raganya demi melawan kesewenangan dan ketidakadilan. Siapa pun yang mendukung dan 239 berpartisipasi dengan pihak-pihak yang menjadi musuhnya adalah musuhnya juga. "Kak bagaimana jika kau tertangkap sedang kau sendiri belum mempunyai bukti?" "Jika demikian mungkin aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada hukum yang berlaku." "Tapi, bagaimana jika hukum di negeri ini sudah tak berpihak lagi pada kebenaran. Terus terang aku khawatir, bagaimana jika mereka memaksamu mengaku." "Aku cuma bisa pasrah." Saat itu Lara langsung menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Dan di dalam benaknya terangkai peristiwa yang membuatnya meneteskan air mata. "Aku tidak mau itu menimpa dirimu, Kak," ungkap gadis itu sedih. "Sudahlah, Sayang... kau jangan berpikir macam-macam! Semua itu kan belum tentu seperti yang kau khawatirkan. Tuhan pasti melindungi orang-orang yang baik, dan atas kehendak-Nya hukum pasti akan 240 berpihak padaku, yang terpenting sekarang aku harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan kalau aku tidak bersalah. Andaipun sesuatu yang buruk menimpaku disaat proses itu aku akan menerimanya sebagai ujian Tuhan yang akan membuatku lebih mengenal-Nya. Dan seandainya aku sampai dihukum mati, berarti itu memang sudah kehendak Tuhan. Dan aku harus menerimanya sebagai bukti ketaatanku kalau aku ini memang sudah tidak diizinkan lagi untuk melaksanakan tugas-tugasku sebagai manusia di muka bumi ini." "Kak, aku tidak mau kau meninggalkanku." "Hal itu kan belum terjadi, Sayang... Kau tidak perlu merisaukannya! Lagi pula, andai Tuhan memang sudah menghendaki aku mati, maka tidak seorang pun yang bisa mencegahnya. Lihat saja setiap hari pasti ada saja yang mati, dan kematian itu bisa terjadi di mana saja. Jika aku mati dalam memperjuangkan kebenaran maka matiku adalah mati syahid, dan jika kita terus konsisten menjalani 241 ajaran agama Insya Allah atas Izin-Nya kita pasti akan dipertemukan kembali." Mendengar itu hati Lara menjadi tenang, di dalam hatinya sudah tak ada lagi kerisauan yang semula sangat membebani hatinya. "Kak, sebelum orang-orang di kampung ini ada yang mengenalimu, bagaimana kalau kita pindah saja ke tempat yang jauh?" "Sayang... di mana pun kita tinggal bagiku sama saja. Malah aku merasa lebih aman di pemukiman kita ini, di mana tetangga kita tidak saling mengenal satu sama lain. Lagi pula, aku kan sudah merubah penampilanku sehingga sangat berbeda dengan gambarku di selebaran itu." "O ya, Kak. Aku..." Belum sempat Lara menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba HP yang menggantung di lehernya terdengar berbunyi. "Sebentar, Kak. Aku terima telepon ini dulu," kata gadis itu seraya menerima telepon yang masuk. 242 Tak lama kemudian, dia sudah bicara kembali dengan suaminya. "Kak, polisi sudah menggeledah rumah orang tuaku." "Untung saja kau tidak jadi memberi tahu kepada orang tuamu perihal tempat tinggal kita ini. Kalau saja saat itu kau melakukannya mungkin mereka sudah menuju kemari." "Kau betul, Kak. Andai saat itu kau tidak melarangku dengan tegas mungkin aku sudah memberitahukannya." "O ya, ngomong-ngomong apa yang ingin kau katakan tadi?" tanya Bobby penasaran. "Mmm... Aku cuma mau memberitahumu kalau sekarang aku kepingin sekali makan tongseng." "O..., kalau begitu baiklah.... dengan senang hati aku akan membelikannya untukmu." "Tapi, Kak... " "Kau jangan khawatir, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa." Tak lama kemudian, Bobby sudah mengendarai sepeda motornya menuju ke penjual tongseng yang 243 terkenal enak. Setiba di sana, pemuda itu segera memesan dua porsi dan duduk menunggu. Saat itu, dia mendengar dua orang pengunjung tampak sedang membicarakan dirinya. "Aku betul-betul tidak menyangka. Dia itu kan dulunya arsitek yang pernah membangun gedung terkenal itu. Dan kata orang-orang yang mengenalnya, dia itu pemuda yang baik dan sama sekali tidak pernah terlibat kasus kriminal." "Ya mungkin saja dia telah dicuci otak oleh para 'teroris' yang merekrutnya, sehingga dia jadi berubah dan tega berbuat sekejam itu." "Menurutmu apakah orang seperti itu bisa dikatakan bersalah." "Menurutku dia itu cuma korban yang diperalat dengan menggunakan doktrin agama yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan." "Ya aku rasa juga begitu. Kasihan orang-orang seperti mereka, maksud hati ingin mencari kebenaran tapi malah diperalat begitu." 244 Bobby terus mendengarkan pembicaraan kedua orang itu, hingga akhirnya tongseng yang dipesannya selesai dibuat. Setelah membayar tongseng, pemuda itu segera pergi meninggalkan tempat itu dan akhirnya tiba kembali di rumah dengan selamat. "Ini tongsengnya, Sayang... " kata Bobby seraya memberikannya kepada istri tercintanya, kemudian dia segera melangkah ke dapur untuk mengambil piring dan sendok. Tak lama kemudian, pemuda itu sudah kembali ke ruang tengah dan segera menikmati tongseng yang masih hangat itu bersama istrinya. "Tongseng ini enak sekali, Kak. Di mana kau membelinya?" "Di tempat biasa" "Tapi, kenapa kali ini terasa lebih enak?" "Mungkin karena saat ini kau sedang lapar dan nafsu makanmu yang lain dari biasanya itulah penyebabnya." "Mmm... memangnya selama ini aku banyak makan ya, Kak." 245 "Tentu saja, kalau tidak masa pipimu bisa jadi tembam begitu." Saat itu Lara langsung memegang pipinya sendiri, "Aduh, sepertinya aku memang mengalami kegemukan, Kak." "Wajarlah, mungkin karena selama ini kau sering tertekan sehingga menjadi agak stress. Dan sebagai pelampiasannya, kau pun jadi banyak makan." "Kau betul, Kak. O ya, ngomong-ngomong kenapa tongsengmu tidak kau habiskan?" tanya Lara ketika mengetahui Bobby tidak menghabiskan tongsengnya. "Aku sudah cukup kenyang, Sayang.... " "Kalau begitu, biar aku yang habiskan ya?" Bobby mengangguk, sedang di bibirnya tampak tersungging sebuah senyuman. Pemuda itu terus memperhatikan istrinya yang kini tampak bersemangat, menghabiskan sisa tongseng miliknya. "Habis sudah! Hmm... tongseng ini memang benar-benar enak, Kak. Emm... kenapa kau senyam-senyum sendirian, Kak?" tanya Lara heran ketika mengetahui suami seperti itu. 246 "Tidak kenapa-napa, Sayang.... Terus terang, aku senang sekali karena kau mau menghabiskan tongseng itu. Sebab kalau tidak, kan bisa jadi mubazir." "O, begitu.... tentu saja aku mau menghabiskannya, karena tongseng itu memang betul-betul enak. O ya, Kak. Besok kau belikan aku lagi ya!" "Kenapa harus besok? Jika sekarang kau masih merasa kurang aku bisa membelikan lagi." "Tidak usah, Kak! Terima kasih! Sekarang ini aku sudah merasa cukup kenyang. Lagi pula, jika aku menuruti keinginanku mungkin tongseng itu akan jadi tidak enak." "Kau betul, Sayang... dengan begitu, selain agar makanan tetap terasa nikmatnya, tubuh pun akan menjadi sehat. Lagi pula, bukankah Rasulullah menganjurkan untuk berhenti makan sebelum kenyang." Bobby dan istrinya terus berbincang-bincang hingga akhirnya malam pun semakin larut. Dan ketika 247 istrinya mengajaknya tidur, Bobby tampak menolak. "Maaf sayang! Aku masih memikirkan sesuatu. Jika kau sudah mengantuk, tidur saja duluan. Nanti aku akan menyusul." "Tapi, Kak. Aku ingin... " Lara menggantung kalimatnya, sepertinya saat itu dia berat untuk mengatakannya. "Ingin apa, Sayang...?" tanya Bobby tidak paham. "A-anu, Kak. A-aku mau... " "Ayolah, Sayang... katakan saja! Aku ini kan suamimu. Jadi, jika kau memang menginginkan sesuatu, katakan saja terus terang!" "Eng, sebenarnya... a-ku mau dikeloni olehmu." Mengetahui sifat manja Lara, Bobby pun segera merespon, "Sayang... ketahuilah! Saat ini aku mau memikirkan sesuatu yang penting. Dan karenanyalah, aku mohon kau mau mengerti!" "Iya, Kak... Sebenarnya, tadi pun aku sudah tidak mau bilang. Tapi karena Kakak mendesak, maka aku pun terpaksa mengatakannya." 248 "Hmm... Benarkah! Kalau begitu baiklah. sekarang ayo kita tidur...!" ajak Bobby seraya menggandeng istrinya ke kamar. "Tapi, Kak." "Sudahlah. tidak apa-apa. Kan aku bisa berpikir sambil mengelonimu," kata Bobby meredakan rasa tidak enak di hati istrinya. Kini suami istri itu sudah berada di tempat tidur, saat itu Bobby tampak sedang membelai istrinya yang tampak manja berada di dalam dekapannya. Dalam hati, pemuda itu agak menyesal juga karena lagi-lagi harus memanjakan istrinya, dan dia pun sempat khawatir jika hal itu sampai menjadi kebiasaan. Sebab jika terlalu memanjakannya, mungkin saja suatu saat nanti istrinya itu akan sulit tidur sendirian. Apa lagi jika suatu saat dia dipanggil Tuhan, apa mungkin istrinya itu bisa bertahan hidup tanpa kehadirannya, kehadiran seorang suami yang senantiasa menyayanginya dan selalu memanjakannya. 249 Esok harinya di siang yang terik, Bobby tampak sedang menerima telepon dari istrinya yang kini berada di tempat praktek dokter. Saat itu dia tampak sedikit kesal lantaran istrinya itu pergi tanpa seizinnya, dan menurut alasan istrinya itu, dia sengaja pergi sendiri lantaran suaminya takut dikenali orang. "Iya, iya... aku mengerti." "Tapi, Kak." "Sudahlah, Sayang... pokoknya aku tidak mau kau pulang sendirian, biarlah aku yang akan datang menjemputmu." "Kak, terus terang aku khawatir. Bagaimana jika nanti ada yang mengenalimu?" "Percayalah! Tidak akan ada yang mengenaliku. Aku kan mengenakan helm." "Eng, baiklah... kalau begitu aku akan menunggumu, Kak." "Nah, begitu dong. Itu baru namanya istri yang menurut pada suami. Terus terang, aku tidak mengizinkanmu ke mana-mana sendirian karena aku sangat menyayangimu. Kau tahu kan, kondisi di 250 negeri kita sekarang. Sungguh aku sangat mengkhawatirkanmu, Sayang... " Tak lama kemudian, Bobby terlihat sudah melaju dengan sepeda motornya. Dan setibanya di tempat tujuan, pemuda itu terlihat langsung menemui istrinya. "Apa penyakitmu parah, Sayang...?" tanya Bobby khawatir. Lara menggeleng. "Hmm... kau sakit karena tongseng semalam, ya?" Lagi-lagi Lara menggeleng, kemudian gadis itu malah duduk di atas jok motor dan meminta suaminya untuk segera jalan. Bobby pun segera menjalankan sepeda motornya, pada saat itu hatinya semakin tambah penasaran. "Kalau begitu, katakanlah! Apa yang menyebabkan sakitmu itu?" tanya pemuda itu lagi. "Eng, sebenarnya... " Lara tidak melanjutkan kata-katanya. "Ayolah, Sayang. katakanlah!" "Maafkan aku, Kak! Sebaiknya kita bicara di rumah saja. Terus terang aku takut mengganggu 251 konsentrasimu mengendara, lagi pula di rumah kan aku bisa menjelaskannya dengan tenang!" kata Lara seperti menyembunyikan sesuatu. Saat itu Bobby tampak bertanya dalam hati, "Mmm... apa mungkin istriku menderita penyakit yang parah sehingga dia tidak berani langsung berterus terang. Kalau begitu, biarlah kuturuti keinginannya itu." "Awas, Kak!" teriak Lara yang melihat seekor kucing tampak menyeberangi jalan. "Astagfirullah....! Hampir saja makhluk yang tak berakal itu aku tabrak," ucap Bobby terkejut. "Makanya, Kak. Sebaiknya kau lebih berkonsentrasi berkendara." "Iya, Sayang..." Suami istri itu terus melaju pulang. Selama perjalanan, Bobby terus bertanya-tanya dalam hati dan sangat mengkhawatirkan istrinya yang mungkin saja sedang menderita penyakit parah. Ketika mereka sedang melewati jalan yang sepi, tiba-tiba motor yang mereka tumpangi disalip oleh sebuah kendaraan roda empat dan langsung menghadangnya. Seketika 252 Bobby terkejut dan langsung menghentikan sepeda motornya, kemudian dengan jantung yang masih berdebar, pemuda itu tampak mewaspadai apa yang bakal terjadi. "Mo-mobil itu, Kak! Mobil itulah yang telah membawaku pergi ketika Randy akan menjemputku di stasiun," jelas Lara panik. Mengetahui itu, Bobby buru-buru turun dari motor dan datang menghampiri. Pada saat yang sama, empat orang pemuda yang baru turun dari mobil juga terlihat menghampiri Bobby. Kini mereka sudah berdiri saling berhadapan dan dengan tanpa senyum sama sekali. "Hmm... ternyata memang kalian. Apa tidak kapok setelah kuhajar malam itu?" "Bedebah! Ternyata kau yang telah menggagalkan kami. Hahaha! Tidak mengapa, waktu itu kami memang kalah, tapi... kali ini kami punya ini," kata seseorang dari ke empat penjahat itu seraya menodongkan pistolnya. 253 Mengetahui itu, Bobby segera mengolah pernafasan dan memproteksi dirinya dengan tenaga dalam. "Hmm... Aku harus menyingkirkan pistol itu dulu, setelah itu baru kulumpuhkan mereka semua," kata Bobby dalam hati. Setelah yakin apa yang akan dilakukannya, tiba-tiba Bobby bergerak menyerang. Pada saat yang sama, orang yang memegang pistol berusaha menembak. Namun bukannya menembak, dia malah terjengkang karena efek proteksi tenaga dalam yang dimiliki Bobby. Pada saat itulah Bobby langsung menendang senjata itu hingga terpental jauh, kemudian dilanjutkan dengan menghajar ke empat penjahat itu dengan sekuat tenaga. Namun karena energinya sudah banyak terkuras, serangan pemuda itu pun jadi tidak maksimal, dan akibatnya ke empat penjahat itu masih bisa melakukan perlawanan dengan begitu gigih. "Agh...!!!" tiba-tiba Bobby mengerang, saat itu lengan kanannya sempat terkena sabetan sangkur. 254 Baku hantam terus berlanjut, hingga akhirnya para petarung itu sama-sama kelelahan dan dengan tubuh yang sama-sama penuh luka. Tak beberapa lama kemudian, Bobby sudah berhasil melumpuhkan tiga orang lawannya. Namun pada saat yang sama, salah seorang yang belum berhasil dilumpuhkan berhasil melukai pahanya. Tak ayal, Bobby pun langsung terjatuh dan sulit untuk berdiri. Mengetahui itu, si penjahat tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera mencekiknya dan berusaha mengarahkan sangkurnya ke lambung Bobby. Menyadari apa yang akan terjadi, Bobby tidak tinggal diam-dia segera menangkap tangan lawannya dan berusaha keras mengambil alih sangkur itu. Dan setelah perjuangannya yang gigih, akhirnya Bobby berhasil juga merebut sangkur itu dan segera mengarahkannya ke ulu hati lawannya. "Terimalah ini sebagai pembalasan dari sahabatku... " kata Bobby seraya bersiap-siap hendak menikamkan sangkur yang berada digenggamannya. 255 "Kak! Sudahlah...! Kau jangan membunuhnya!" tahan Lara tiba-tiba. "Tidak, Ra. Orang ini harus menerima ganjarannya, dia memang sangat pantas untuk mati. Selain sudah membunuh Randy yang sudah kuanggap sebagai saudaraku, dia pun sudah berani melukaiku. Karenanyalah dia memang tidak pantas untuk diberi pengampunan." "Kak... dengarlah! Dia itu sudah tak berdaya, dan jika kau sampai menzoliminya karena dendammu, maka hal itu merupakan perbuatan dosa." "Kau tidak mengerti, Ra. Kalau sesungguhnya nyawa harus dibalas nyawa." "Sudahlah, Kak! Aku Mohon! Bukankah agama kita mengajarkan kalau memaafkan adalah hal yang lebih utama. Lagi pula, aku sangat mencintaimu, Kak. Aku tidak mau kau masuk penjara. Sebab, a-aku tidak mau mengurus anak kita sendirian." Mendengar itu, Bobby seketika tersentak. "Ra... benarkah yang kau katakan itu?" 256 "Benar, Kak. Saat ini aku sedang mengandung anak kita." "Itukah kenapa kau merahasiakannya? Rupanya kau ingin memberi kejutan padaku." Lara mengangguk. Saat itu juga Bobby langsung melepaskan sangkur yang dipegangnya, kemudian dengan segera pemuda itu memeluk istrinya dan menciumnya berkali-kali. "Aku bahagia sekali, Ra. Aku akan menjadi seorang ayah." Sementara itu, penjahat yang semula tampak tak berdaya kini tampak berusaha bangkit seraya mengambil sangkur yang dijatuhkan Bobby, kemudian dengan serta-merta dia menikamkannya ke punggung lelaki yang kini sedang berbahagia itu. Tak ayal, lelaki itu pun langsung roboh dan tak bergerak lagi, sedang di punggungnya sebuah sangkur masih terus menancap. Melihat itu Lara berteriak histeris. Pada saat yang sama, Reno segera membungkam mulut Lara dengan sebuah tamparan yang begitu keras. Seketika itu juga, Lara tersungkur dengan bibir yang mengeluarkan 257 darah. Pada saat yang sama, di kejauhan terlihat sebuah mobil yang melaju mendekat. Mengetahui itu, Reno buru-buru mengambil tindakan. "Ayo cepat ikut denganku!" Perintah penjahat itu seraya menyeret Lara menaiki mobil. Pada saat yang sama, ketiga teman Reno yang sudah dilumpuhkan Bobby juga ikut naik dengan bersusah payah. Hingga akhirnya, mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan tempat itu. Malam harinya, di sebuah rumah peristirahatan. Lara terlihat duduk di sebuah kursi kayu dengan tubuh yang terikat erat, sedangkan di mulutnya masih menempel sepotong lakban yang melekat erat. Saat itu Lara cuma bisa menangis dan menangis. Hingga akhirnya seseorang datang menemuinya dan langsung melepas lakban yang menempel di mulutnya. 258 "Hmm... jadi, memang kaulah dalang dari semua ini," kata Lara geram. "Hahaha...!!! Semua itu karena salahmu sendiri. Coba kalau malam itu kau tidak menolakku. Mungkin aku tidak akan sampai berbuat begini." "Kau memang biadab!" "Silakan maki aku sesukamu! Percayalah... aku tidak akan marah! Lara sayang... aku sangat mencintaimu. Keindahan tubuhmu sungguh telah membuatku ingin menikmatinya. Dan tak lama lagi aku pasti bisa mewujudkannya, walaupun tanpa kerelaanmu. Tapi kusarankan, sebaiknya kau merelakannya. Karena dengan demikian, kau pun bisa menikmatinya bersamaku." Setelah berkata begitu, pemuda itu segera menyuruh anak buahnya untuk memindahkan Lara ke atas ranjang dan mengikatnya kuat-kuat. "Nah, sekarang kalian boleh pergi!" perintah pria itu kepada anak buahnya seraya mulai menggerayangi tubuh Lara. 259 Ketika penjahat itu akan bertindak lebih jauh, tiba-tiba. "Hentikan perbuatanmu, Jahanam!" perintah seorang pemuda yang kini sedang berdiri di ambang pintu dengan sebilah pisau yang berlumuran darah. "O, kau rupanya," kata Pak Sasongko seraya duduk di tepian ranjang. "Ya, kau tidak menyangka bukan. Sungguh aku tidak habis pikir, ternyata keberadaanmu di dunia tari bukanlah untuk melestarikannya, namun lebih kepada menodainya. Untunglah aku cepat menyadari, kalau tidak tentu akan lebih banyak lagi korban yang berjatuhan." "Hahaha... ! Memang itulah tujuanku. Soalnya aku sangat menyayangkan jika tubuh-tubuh indah nan gemulai itu cuma untuk dilihat saja, bukanlah lebih baik tubuh-tubuh itu juga dinikmati di atas ranjang. Hahaha...!" kata penjahat itu seraya menunduk dan mengambil sesuatu di bawah ranjangnya. "Nah, pahlawan kemarin sore. Sebaiknya kau buang pisaumu itu dan berlututlah di hadapanku!" kata penjahat itu lagi sambil menodongkan sebuah 260 pistolnya kepada pemuda yang dianggap sudah mengganggu kesenangannya itu. Karena tidak mempunyai pilihan yang lebih baik, akhirnya pemuda itu menjatuhkan pisaunya. Bersamaan dengan jatuhnya pisau itu, tiba-tiba... Lara yang saat itu masih terikat tampak membenturkan kepalanya pada lengan si penjahat. Tak ayal, lengan penjahat itu pun langsung terayun dan menembak ke sasaran kosong. Pada saat yang sama, pemuda pemberani itu langsung bergerak cepat-mengambil pisaunya dan segera menikam penjahat itu hingga tewas bersimbah darah. Tak lama kemudian, Lara dan pemuda yang menolongnya segera meninggalkan rumah itu dan melapor kepada pihak berwajib. 261 SEPULUH Langit menghitam seiring dengan angin yang terus berhembus. Pada saat itu di bawah pohon nan rindang, seorang gadis tampak duduk termenung. Pikirannya begitu kalut, terbayang akan masa depan yang begitu gelap, seperti gelapnya awan yang ada di atas kepalanya. Kini gadis itu menatap goresan-goresan yang melekat erat pada batang pohon di dekatnya, goresan-goresan itu membentuk dua baris nama yang di antaranya terdapat gambar hati. Bobby love Lara begitulah bunyi goresan-goresan itu. Tiba-tiba saja, gadis yang bernama Lara itu beranjak bangun, kemudian melangkah ke tepian sungai yang tak begitu jauh. Dia duduk di sebuah batu sambil memeluk kedua kakinya yang menyiku, sedangkan kepalanya tampak tertunduk-bersandar pada kedua lututnya. Pada saat itu, sayup-sayup 262 terdengar isak tangis yang cukup memilukan. Gadis itu menangis, kedua matanya basah oleh air mata yang seakan tak mau berhenti. Lara terus menangis. Sementara itu di langit, awan sudah semakin gelap, dan sebentar lagi hujan lebat pasti akan turun menyiram bumi. Benar saja, dalam waktu singkat hujan sudah turun dengan lebatnya. Angin yang mengiringinya berhembus kencang, membuat butiran-butiran hujan terasa agak sakit. Saat itu Lara masih belum beranjak dari duduknya, dia terus menangis di bawah siraman hujan yang semakin lebat saja. Tiba-tiba halilintar menjilat sebuah pohon yang tak begitu jauh, suara ledakannya begitu dasyat-membaur dengan derasnya hujan dan deru angin yang semakin menjadi-jadi. Mendengar itu, Lara tersentak kaget, kemudian dengan serta-merta gadis itu beranjak bangun dan berlari menuju ke sebuah saung yang tak begitu jauh. Di saung itulah Lara duduk bersendekap, saat itu tubuhnya tampak menggigil kedinginan, sedang 263 bibirnya yang pucat tampak bergetar bersamaan dengan gemeretak giginya. Di dalam kedinginan yang menusuk itu, gadis itu masih saja menangis memikirkan suaminya yang dituduh sebagai 'teroris' telah diberitakan tewas oleh media-media yang ada di Indonesia. Kini di benak gadis itu terbayang kembali peristiwa yang menyedihkan itu, dimana orang yang dicintainya itu terkapar dengan sebilah sangkur yang menancap di punggungnya. Dan kejadian itu terjadi persis di depan matanya, seusai dia menyampaikan kebenaran yang ternyata memang sangat pahit akibatnya, dan dia menduga karena kebenaran yang disampaikan itulah suaminya jadi terbunuh. Andai waktu itu dia membiarkan Bobby membunuh penjahat itu tentu tidak seperti itu jadinya. Sungguh duka Lara yang mendalam itu sudah membuat budinya menurun, bahkan akal sehatnya pun seperti sudah tak bisa digunakan lagi. Di dalam benaknya hanya ada dukalara yang sulit dihilangkan, terasa pilu dan membuatnya semakin tidak mempercayai akan makna kebenaran. Di saat itulah, akhirnya setan 264 membisikkan sesuatu yang menyesatkan sehingga Lara berniat melepas segala dukalaranya dengan menyusul sang Suami yang diduganya sedang menunggu di alam baka. Usai hujan, Lara kembali keluar, kemudian dipandangnya pepohonan dan rerumputan yang tampak basah, tanah yang digenangi air, serta beberapa hewan kecil yang merayap. "Huff...!" gadis itu menarik nafas panjang, dan tak lama kemudian dia mulai melangkah-perlahan namun pasti, menuju ke bibir jurang yang jika memandang pada kejauhan akan terlihat pemandangan yang begitu indah. Tak lama kemudian, gadis itu pun tiba di tempat itu. Sejenak kedua matanya memandang indahnya lembah yang sedikit tertutup kabut. Kini gadis itu tampak terpejam, wajahnya yang manis tampak pucat-tak ada gairah kehidupan. "Oh Tuhan... apa yang mesti aku lakukan?" Suasana hati semakin terasa kelam, dan kesedihan semakin mendalam. Saat itu sepertinya tak ada seorang pun yang mampu mengobati 265 dukalaranya, dan tak seorang pun yang bisa menghentikan niat sesatnya. Hanya pertemuan kepada suami tercintalah yang diharapkan bisa meredam segala dukalaranya. Kini gadis itu tampak memandang curamnya jurang yang menganga bersamaan dengan air matanya yang kembali berderai. "Selamat tinggal orang-orang yang kucintai, selamat tinggal dunia yang fana, dan selamat tinggal penderitaan. Duhai suamiku tercinta-kekasih belahan jiwa, sambutlah kedatangaku ini!" Begitu gadis itu hendak melompat, tiba-tiba... "Apa yang hendak kau perbuat sayang.... ? Kenapa kau mau meninggalkan aku?" tanya seorang pria yang pada saat itu menggenggam tangannya erat, sebuah genggaman tangan yang kekar. Seketika Lara menoleh, dan saat itu dia tak mampu berkata. Hanya air matanya yang bicara, seperti kebahagiaan yang tiada terkira. Rupanya kini dihadapannya telah berdiri seorang pria tampan yang selama ini disangkanya sudah tiada. 266 "Kenapa sayang... ? kenapa kau memandangku seperti itu? Apakah kau tak merindukanku?" tanya Bobby seraya tersenyum. "Ka-Kakak... ! Ka-kau ma-masih hidup?" "Emm... apakah saat ini aku terlihat seperti hantu?" "La-lalu yang diberitakan itu?" "Begitulah pers. Begitu mendengar kabar tentang kematianku, mereka pun langsung menyebarluaskannya. Padahal pada saat itu aku cuma mati suri." "Benarkah?" Lara hampir tak mempercayainya. "Hmm. Andai saja waktu itu polisi mengijinkanku melihatmu di rumah sakit, tentu aku tidak akan berbuat seperti ini." "Ya, mereka melakukan itu demi mengamankan aku," kata Bobby seraya menceritakan perihal kejadian yang membuatnya bisa selamat. Ternyata sangkur yang menancap di punggungnya hanya menggangu syaraf motorik dan menyebabkannya mengalami kelumpuhan sementara dan kemudian berkembang menjadi mati suri. 267 "Begitulah ceritanya, Sayang... Hingga akhirnya aku pun sembuh dan diizinkan pulang." "Oh, Kak. Aku benar-benar bahagia mengetahui kenyataan ini." "Aku juga, Sayang.dan itu semua karena berkat pertolongan Tuhan. O ya, ngomong-ngomong aku dengar para penjahat itu sudah mati." "Ya, itu semua karena rasa cinta Rahman yang besar kepadaku. Dan karena rasa cintanya itulah, dia rela berkorban untuk menyelamatkan aku. Kasihan Rahman, kini dia harus mendekam dipenjara karena dituduh main hakim sendiri." "Ya, kasihan sekali dia. Semoga dia lekas dibebaskan dan kembali menjalani hari-harinya dengan penuh suka cita." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, kenapa setelah sembuh polisi tidak menahanmu?" "Siapa bilang aku tidak ditahan. Setelah sembuh aku langsung ditahan aparat selama seminggu. Namun akhirnya aku dibebaskan karena terbukti memang tidak bersalah. Semua itu karena Rizky 268 temanku yang 'teroris' itu, ternyata dia pun selamat dari ledakan itu. Dan dialah yang telah menjelaskan perihal siapa aku sebenarnya, selain itu dia pun menyerahkan beberapa dokumen yang semakin menguatkan pernyataannya itu. Hingga akhirnya polisi betul-betul yakin kalau aku ini memang tidak terlibat." "Kasihan sekali temanmu itu. O ya, ngomong-ngomong apakah kau tahu kenapa dia bisa terlibat dengan jaringan 'teroris' itu?" "Tentu saja, soalnya Rizky sempat menceritakan semua itu ketika kami sama-sama diintrogasi." Bobby pun segera menceritakan mengenai keterlibatan Rizky. Dulu, ketika pemuda itu masih di dalam tahanan karena bisnis illegal. Dia bertobat dan bertekad untuk memperbaiki kehidupannya dengan mencari jalan kebenaran. Hingga akhirnya dia bertemu dengan teman lamanya dan diajak bergabung ke dalam sebuah pengajian yang saat itu menurutnya bagus sekali karena mengajarkan konsep ajaran agama yang sangat sesuai dengan hati nuraninya. Iming- 269 iming untuk mencari jalan kebenaran itulah yang membuatnya bertekad untuk terus mengikuti pengajian itu, hingga akhirnya dia direkrut sebagai seorang 'teroris'. Motivasinya saat itu adalah keyakinannya yang kuat sebagai bentuk penghambaannya kepada Tuhan untuk memperjuangkan keadilan dan menegakkan kebenaran di muka bumi ini. Karenanyalah dia pun berniat untuk mengajakku bergabung karena dia mengetahui kondisi kejiwaanku yang saat itu sedang labil dan sangat membutuhkan pegangan untuk memaknai kehidupan ini dengan sebenar-benarnya." "Kak, andai saat itu polisi tidak menggerebek rumah itu, apa sekarang kau juga sudah menjadi 'teroris'." "Tidak semudah itu, Sayang... Konsep jihad yang diajarkan itu sama sekali tidak sejalan dengan hati nuraniku. Bagaimana mungkin aku tega menghilangkan nyawa manusia yang tak tahu-menahu demi untuk tujuan yang mulia. Aku masih meyakini pemahaman yang dulu diajarkan oleh 270 guruku, yaitu selama air masih bisa untuk memadamkan api sebaiknya jangan menggunakan api untuk memadamkan api. Kecuali jika air memang sudah tidak mampu memadamkan api, barulah api yang terkendali boleh digunakan untuk memadamkan api. Apalagi dengan konsep bom jihad, aku sama sekali tidak sependapat. Terus terang, hati nuraniku belum bisa menerima konsep itu sebagai bentuk jihad. Karena konsep itu masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama, yaitu antara bunuh diri dan kondisi perang fisik, keduanya mempunyai dasar yang sama-sama kuat. Kata guruku, sebaik-baiknya mengambil sikap adalah meninggalkan segala bentuk yang masih menjadi keraguan. Contohnya seperti bunga bank, orang yang percaya bunga bank itu halal maka ia tidak akan merasa berdosa karenanya. Begitu pun sebaliknya, orang yang meyakini kalau bunga bank itu adalah riba dan haram hukumnya, maka ia akan meninggalkannya. Dan langkah yang paling aman adalah meninggalkannya, sebab andai bunga bank itu memang halal maka ia tidak berdosa, 271 dan jika ternyata bunga bank itu memang haram jelas ia pun tidak akan berdosa. Karenanyalah sebagai manusia yang berakal, manusia wajib mencari alternatif yang dapat menjembatani kedua keyakinan itu. Dalam hal bunga bank ini, dibuatlah konsep Bank Syariah yang diklaim sudah tidak ada lagi keraguan di dalamnya (walau masih jauh dari sempurna). Sebab kalau tidak, orang-orang yang ragu dan meninggalkan bunga bank tentu akan menjadi bingung dan tidak tahu ke mana ia harus menyimpan uangnya. Inilah yang dinamakan win win solution. Orang yang meyakini bunga bank halal maupun yang meyakininya haram akhirnya bisa bersama-sama menabung di Bank Syariah. Andai dalam masalah 'teroris' ini juga dijembatani dengan cara win win solution mungkin tidak ada lagi orang yang berkeinginan untuk menjadi 'teroris'. Sebab, para pejuang keadilan 'teroris' adalah orang yang peduli terhadap orang lain, dan mereka sama persis dengan orang yang percaya kalau bunga bank itu halal. Sedangkan para pejuang keadilan 'muslim 272 sejati' adalah orang yang juga peduli terhadap orang lain, dan mereka sama persis dengan orang yang percaya bunga bank itu haram. Mereka 'muslim sejati' betul-betul bingung dan tidak tahu bagaimana caranya memperjuangkan rasa kepeduliannya itu. Jika mereka tak segera dicarikan solusi maka akan ada dua kemungkinan, menjadi 'teroris' (terpaksa menabung walaupun ia tahu bunga bank itu haram) atau membuang rasa kepedulian terhadap sesama alias masa bodo (tidak menabung)." "Eng... lalu jika tidak ada solusinya, maka dari kedua kemungkinan itu manakah yang Kakak pilih?" "Tidak kedua-duanya. Aku adalah 'muslim sejati', dan aku akan terus memperjuangkannya melalui perang pemikiran yang islami dan juga lewat perang kebudayaan yang islami sambil terus menunggu kemunculan Imam Mahdi. (menabung di rumah sambil terus menunggu adanya konsep Bank Syariah)." 273 "Syukurlah kalau Kakak berpandangan demikian. Sebab, semula aku sempat khawatir kalau kakak akan menjadi 'teroris'." "Kini kau tidak perlu khawatir lagi, Sayang... Aku berkeyakinan biarlah mereka memperjuangkan kebenaran dengan cara mereka, dan aku dengan caraku. Pokoknya selama aku masih bisa memperjuangkannya dengan cara yang lembut, maka aku pun merasa berkewajiban untuk menggunakan cara yang lembut itu." "Janji ya, Kak! Kalau kakak akan memperjuangkannya dengan cara yang lembut itu." "Insya Allah Sayang... Doakanlah aku agar senantiasa bisa konsisten. Pokoknya selama aku masih bisa menabung di rumah karena masih aman dan tidak menyulitkan, dan juga selama masih ada air yang bisa memadamkan api tentu aku akan terus berjuang dengan cara demikian. O ya, ngomong-ngomong siapa sebenarnya otak dari pembunuhan Randy?" 274 "Mmm... Dia itu Pak Sasongko, Kak-orang yang telah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi penari professional. Namun ternyata itu cuma alasan saja, karena niat yang sesungguhnya dia itu menginginkan aku." Lara pun menceritakan kejadian itu. Waktu itu sekitar pukul 10 malam, ketika Lara baru selesai menari di sebuah gedung kesenian. Sasongko menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang. Namun sungguh tidak disangka-sangka, ternyata pemuda itu bukan saja mau mengeksploitasi bakatnya tapi justru lebih dari itu-keindahan tubuh Lara yang setiap kali dilihatnya saat menari telah membuatnya betul-betul ingin menikmatinya lebih dari sekedar gerakan tari. Ketika di tengah perjalanan, Lara sempat menyadari kalau mobil yang ditumpanginya tidak menuju ke arah rumahnya. "Pak, kita mau ke mana?" tanya Lara heran. 275 "Kita mampir dulu sejenak ke rumahku, kebetulan di rumahku ada sampanye untuk merayakan kesuksesan pertunjukan tadi." "Tapi, Pak. Aku tidak suka minum, lagi pula ini kan sudah terlalu malam." "Kau jangan khawatir, Dik. Kau tidak perlu minum, kita hanya bersulang saja. Dan aku janji akan mengantarmu pulang sebelum jam dua belas." "Betul ya, Pak. Soalnya besok pagi aku harus ke Jakarta. Terus terang aku tidak mau sampai terlambat karena aku sudah mengabarkan untuk menjemputku tepat waktu." Pak Sasongko mengangguk. Lalu tanpa curiga, Lara pun akhirnya mau diajak mampir. Hingga akhirnya pemuda yang sudah sangat bernafsu itu segera memaksa Lara untuk mau tidur bersamanya. Kontan saat itu Lara menolak dan akhirnya berhasil melarikan diri. Dan setelah kejadian itu, Lara memutuskan untuk keluar dari sanggar tari yang belakangan diketahui hanya sebagai kedok demi 276 untuk menikmati gadis-gadis molek yang ingin menjadi penari terkenal. "Begitulah ceritanya, Kak. Hingga akhirnya Randy tewas di tangan anak buah Sasongko. Dan setelah kejadian itu, aku pun memutuskan untuk tinggal di Jakarta dan mencarimu ke Bandung-tempat di mana orang tuaku bilang kalau kau tinggal di sana. Dan akhirnya, kita bertemu di stasiun ketika aku kembali dari kota itu." Kini suami-istri itu tampak berpelukan. Saat itu mereka betul-betul bahagia karena sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, dan semua hal yang masih membingungkan kini terungkap sudah. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong dari mana kau tahu aku berada di sini?" "Aku tahu dari orang tuamu, juga dari paman dan bibimu." Bobby pun segera menceritakan peristiwa yang dialaminya, yaitu pada saat dia ingin sekali bertemu dengan istrinya itu, hingga akhirnya dia berhasil tiba di tempat itu pada saat yang tepat. Beberapa jam yang 277 lalu, ketika tahu Lara pergi ke tempat yang paling berkesan untuknya, Bobby segera mengendarai sebuah jeep yang dipinjamnya dari sang Paman dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jeep itu terus melaju menyusuri jalan tanah yang berdebu. Pada saat itu cuaca tampak kian memburuk. Awan hitam tampak berarak menyelimuti angkasa, sedangkan angin kencang terus berhembus hingga membuat beberapa pohon tumbang dan hampir saja menimpa mobil yang dikendarainya. "Apapun yang terjadi aku harus segera menemuinya. Oh Lara, aku datang untuk menghilangkan semua dukamu... " Jeep terus melaju, sementara itu hujan lebat sudah mulai turun. Jalan yang semula berdebu dengan cepat berubah menjadi jalan yang sangat licin. Beberapa kali jeep yang dikendarai Bobby sempat tergelincir dan terjebak di kubangan, dan karena usaha yang gigih akhirnya dia berhasil melewatinya. Ketika melewati sebuah tikungan tiba-tiba dilihatnya sebuah sungai dengan jembatan yang sudah ambruk 278 tampak terbentang di depan mata. Tak ayal, Bobby pun terkejut seraya berusaha menghindar dengan menginjak pedal rem dalam-dalam. CIEEET... Jeep yang dikendarainya mendadak kehilangan kendali, jeep itu tampak berputar di jalan yang licin dan berlumpur sampai beberapa kali. Hingga akhirnya jeep itu berhenti persis di tepian sungai. "Oh Tuhan. Terima kasih... kau telah menyelamatkan aku," ucapnya. Kini pemuda itu mulai menyeberangi sungai dengan hati-hati. Kabel baja yang ada di mobil jeep-nya dimanfaatkan untuk membantunya menyeberangi sungai. Ketika pemuda itu sedang berada di tengah-tengah sungai, tiba-tiba alirannya yang sangat deras itu sempat membuat tubuhnya terseret sampai beberapa meter. Namun pemuda muda itu tidak mau menyerah, dia terus berusaha dan berusaha. Hingga akhirnya dia bisa tiba di seberang dengan selamat. Tak lama kemudian pemuda itu sudah melangkah menyusuri jalan yang licin dan becek. Pemuda itu terus melangkah dan melangkah di bawah guyuran 279 hujan yang begitu lebat, hingga akhirnya hujan itu pun berhenti disaat pemuda itu sudah tidak begitu jauh lagi ke tempat tujuan. Setibanya di tempat tujuan, dia melihat Lara yang sedang berdiri di bibir jurang. Saat itulah Bobby buru-buru menghampiri istrinya dan langsung menahan tindakannya yang tidak semestinya itu. Setelah mendengar cerita itu, Lara sangat terkesan dengan perjuangan suaminya yang gigih ingin menemuinya. Andai saat itu suaminya tidak segera menemuinya mungkin ia sudah berada di alam kubur sendirian dan tidak akan bertemu untuk selamanya. Esok malamnya setibanya di Jakarta, Bobby dan Lara tampak sedang menonton televisi. Kali ini berita yang mereka tonton adalah pelurusan mengenai berita miring tentang dirinya, yang selama ini di tuduh sebagai 'teroris'. Begitulah pers yang baik dan betul- 280 betul professional, sangat berimbang dan tidak berpihak kepada pihak mana pun. Juga selalu konsisten untuk tidak mau diperalat sebagai alat propaganda. Kini Bobby sudah bisa hidup tenang di masyarakat, dan dia pun sudah tidak khawatir lagi akan dibenci oleh orang-orang yang dikenalnya. Itu semua berkat namanya yang sudah dibersihkan oleh pers yang mana sebelumnya sudah begitu memojokkannya. Dia sangat bersyukur karena masih ada keadilan di negeri ini, sebab kalau tidak mungkin dia pun akan menjadi seorang 'teroris'. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, saat ini aku ingin sekali makan tongseng. Tolong belikan aku ya, Kak!" "Untukmu, aku akan membelikannya dengan senang hati, Sayang... " Tak lama kemudian, Bobby sudah mengendarai sepeda motornya menuju ke penjual tongseng yang menjadi langganannya. Setibanya di sana, pemuda itu segera memesan dua porsi dan langsung duduk menunggu. Saat itu, dia mendengar dua orang 281 pengunjung yang dulu pernah membicarakannya kini kembali membicarakan perihal dirinya. "Aku betul-betul tidak menyangka, ternyata dia memang tidak terlibat." "Ya itu semua karena dia mempunyai teman yang seorang 'teroris'." "Untung saja waktu itu aku tidak langsung menghakiminya. Sebab kalau tidak, aku pasti berdosa karena telah berprasangka buruk padanya." "Kau betul. Sebagai orang awam kita wajib menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. Karenanyalah mengenai perkara benar atau salah, biarlah hukum yang menentukan. " "Ya aku setuju. Sebab jika ternyata tersangka itu memang bersalah kita tidak menjadi berdosa karenanya, dan jika dia memang tidak bersalah kita pun tidak menjadi berdosa karenanya." Kedua orang itu terus membicarakan perihal Bobby, hingga akhirnya tongseng yang dipesan Bobby selesai dibuat. Tak lama kemudian, Bobby pun segera meninggalkan tempat itu. Hingga akhirnya pemuda itu 282 tiba di rumah dan langsung menikmatinya bersama sang Istri. "Kak, sekarang aku semakin bertambah gemuk ya?" tanya Lara seraya memasukkan tongseng ke dalam mulutnya.. "Wajarlah, kau ini kan sedang hamil. Kalau kau tidak banyak makan, kasihan anak kita yang masih dalam kandungan itu. Dia itu kan juga membutuhkan suplai makanan untuk pertumbuhannya." "Kau betul, Kak. O ya, ngomong-ngomong kenapa tongsengmu tidak kau habiskan?" tanya Lara. "Aku sudah cukup kenyang, Sayang.... " "Kalau begitu, biar aku yang habiskan ya?" Bobby mengangguk, sedang di bibirnya tampak tersungging sebuah senyuman. Pria itu terus memperhatikan calon ibu dari anaknya itu, yang kini tampak bersemangat-menghabiskan sisa tongseng miliknya. "Habis sudah! Hmm... tongseng ini memang benar-benar enak. Emm... kenapa kau senyam-senyum sendirian, Kak?" tanya Lara heran. 283 "Tidak kenapa-napa, Sayang.... Aku cuma lagi bahagia, kelak jika anakku lahir dia mungkin akan jadi gemuk dan sehat." "Kenapa kau bisa menebak demikian, Kak." "Tentu saja, ibunya kan makannya banyak tentu suplai makanan untuk bayi kita pun banyak." "Kau ini ada-ada saja, Kak. Memangnya ada hubungannya ibu yang makan banyak dengan anak yang dikandungnya." "Tentu saja, apa lagi jika kau cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung DHA, kolin, dan asam folat, tentu bayi kita kelak tidak hanya gemuk dan sehat, namun dia juga akan menjadi anak yang cerdas." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, kau ingin anak kita laki-laki atau perempuan?" "Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja, yang terpenting dia mau berbakti kepada kedua orang tuanya dan berguna untuk agama, nusa dan bangsa." "Kalau aku sih kepingin anak laki-laki, sebab jika sudah dewasa dia tentu akan menjadi pemuda yang 284 tampan sepertimu dan senantiasa akan melindungi kita di saat masa tua nanti." "Kenapa tidak anak perempuan saja? Sebab jika sudah dewasa dia tentu akan menjadi anak yang cantik sepertimu dan dengan perasaannya yang lembut tentu dia akan senantiasa memperhatikan dan menyayangi kedua orang tuanya." "Tidak, Kak. Aku tetap mau anak laki-laki, karena anak laki-laki lebih banyak kelebihannya ketimbang anak perempuan. Lagi pula, jika mempunyai anak perempuan aku merasa khawatir. Sebab, jika kelak ia dewasa mungkin akan dicelakakan orang. Soalnya sistem di negeri ini masih belum mampu melindungi kaum petempuan yang lemah. Terus terang, aku bisa menilai demikian karena aku mengalaminya sendiri, sungguh sesuatu yang semula kuanggap baik tapi ternyata justru hampir membuatku celaka. Dulu aku memang sudah begitu dibutakan oleh berbagai informasi yang kupikir baik tapi ternyata justru sebaliknya. Kini aku menyadari, kalau sebaik-baiknya informasi adalah yang bersumber dari-Nya." 285 "Sudahlah istriku tercinta...! Sebaiknya kita tidak perlu berpolemik! Langkah terbaik yang harus kita tempuh sekarang adalah aksi yang nyata. Pokoknya apapun jenis kelamin anak kita nanti, kita wajib memberikan kasih sayang dan pendidikan yang baik kepadanya. Soal menjadi apa dia kelak, semuanya kita serahkan kepada Tuhan. Yang terpenting, selama proses itu kita harus terus berusaha dan berusaha agar dia menjadi anak yang berbakti dan bisa memaknai perannya di dunia ini. Namun, kita pun wajib memperjuangkan apa yang menjadi haknya dengan cara yang santun." "Kak, ngomong-ngomong... sampai kapan kita akan menggunakan cara seperti itu? Sedangkan di luar sana, korban terus saja berjatuhan seiring dengan waktu yang terus berjalan." "Bersabarlah, Sayang... biarlah waktu yang akan menjawabnya." Akhirnya sepasang suami istri itu sepakat untuk terus berusaha agar senantiasa berani dan tegar dalam menjalani kehidupan ini. Mereka pun tidak akan 286 berhenti untuk berjuang dengan cara yang santun demi masa depan orang-orang yang mereka cintai. Di dalam lubuk hati mereka yang terdalam, keduanya terus memohon kepada Tuhan agar senantiasa para pemimpin di berikan jalan keluar yang terbaik, sehingga bisa membawa negeri ini menjadi negeri yang dirahmati Tuhan, penuh dengan keberkahan dan seluruh rakyatnya makmur sentosa. SELESAI Assalam.... Mohon maaf jika pada tulisan ini terdapat kesalahan di sana-sini, sebab saya hanyalah manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Saya menyadari kalau segala kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, dan segala kesalahan tentulah berasal dari saya. Karenanyalah, jika saya telah melakukan kekhilafan karena kurangnya ilmu, mohon kiranya teman-teman mau memberikan nasihat dan meluruskannya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak. Akhir kata, semoga cerita ini bisa bermanfaat buat saya sendiri dan juga buat para pembaca. Amin. Kritik dan saran bisa anda sampaikan melalui e-mail bangbois@yahoo.com Wassalam... [ Cerita ini ditulis tahun 2006 ] Edit by : zheraf.net http://www.zheraf.net